Alasantri
1

(Walau) Sekedar Santri Kalong

            Suasana sore begitu melenakan, bagaimana tidak panorama senja yang disuguhkan oleh Tuhan begitu membuat mabuk pandangan-pandangan. Semilir angin yang menyejukan serta menentramkan kegundahan yang tersemat di dada, lambaian pepohonan yang mengikuti tarian angin memaksaku bertasbih syahdu “Subhanallah….. betapa menakjubkan Maha Karya-Mu Ya Allah” gumamku dalam hati.

“Huda, ayo main bola lagi, mumpung ujan… rame nih…” saut Mukhtar mengajakku bermain bola kembali.

“Tidak ah, aku harus pulang, aku kan pulangnya jalan kaki, jadi harus dari sekarang” ucapku padanya sambil membereskan tas di pelataran mesjid Madrasah Aliyah Negeri 1 Garut.

“Yah… gak seru ah… ayo lah sebentar saja” tukasnya sembari menampakan muka memelas.

“Ma’afkan aku sobat, aku benar-benar buru-buru, kau pun tahu jarak sekolah kita ke rumah lumayan jauh, 3km, dan aku harus berjalan kaki, sedangkan sekarang sudah jam 17:00” jawabku sembari menepuk pundaknya.

“Ya sudahlah… aku main sama yang lain saja” ia pun melanjutkan bermain sepak bola di lapang depan mesjid sekolahku ini.

Aku pun bergegas untuk pulang tanpa menghiraukan ajakan Mukhtar untuk bermain sepak bola, meskipun itu salah satu olahraga yang sangat aku sukai. Ya, alasannya karena aku harus berjalan kaki cukup jauh menuju pondokku. Sebenarnya aku bisa pulang lebih siang, tepatnya selepas pembelajaran di kelas yang usai pukul 12:00, namun karena terkadang ada tugas kelompok aku lebih memilih mengerjakannya selepas pulang, biar lebih mudah dan cepat kumpul. Alasan mengapa aku pulang jalan kaki, karena aku terlahir dari keluarga yang sederhana dan orang tuaku mendidik aku menjadi anak yang bukan hanya mandiri, tapi juga bisa berdiri di atas kakinya sendiri.

Selepas pulang dari sekolah sore hari, biasanya 3km hanya aku habiskan waktu selama 45 menit, dengan jalan yang agak cepat. Jika ada teman yang kenal dan memakai motor terkadang mereka mengantarkanku sampai depan gerbang pondoku.

Pondok tempat belajarku adalah pondok salafy (pondok tradisional) , tentunya di dalamnya begitu ketat dengan peraturan-peraturannya. Tak mengenal entah itu santri yang muqiim (santri yang terfokus mengaji di pondok dari pagi sampai malam) atau santri kalong (santri yang hanya mengaji di pondok sebagian waktu seperti malam dan pagi saja) seperti aku.

Baca Juga  Akulah Sang Dalang

“Mang Huda udah hafalan untuk maghrib ke Akang (panggilan ta’dzim kami kepada Yai pesantren) ?” tanya Mang Haikal kepadaku sesampainya aku di hujroh (kamar)

“Belum mang aku baru hafal 4 bait bab mubtada wal khabar” jawabku dengan nafas yang masih ngos-ngosan.

“Ya sudah, selepas shalat maghrib jama’ah kamu tambah hafalanmu, sampai satu bab itu, kalo hanya segitu nanti Akang marah” tangkasnya.

“Iya mang, aku usahakan” jawabku sembari mengganti pakaian dengan koko rapih dan sarung yang sudah aku kenakan.

Di pondokku ini, setiap malam sabtu sampai malam senin adalah jadwal hafalan, dan diantara kitab yang harus dihafal adalah : matan al-Ajrumiyyah, ngasalkeun (kaidah ilal), tarkib al-Ajrumiyyah, ‘Imrithy, Al-Maqhshud dan terakhir adalah ngi’rab (i’rab matan al-Ajrumiyyah).

Aku baru masuk pesantren ini kelas 2 Aliyah semester 2. Dengan pangkat hanya seorang santri kalong, itu tidak mengurangi semangatku  untuk menuntut ilmu di tempat yang penuh dengan keberkahan ini. Dan menjadi santri kalong bukan berarti tidak harus ta’dziim kepada Akang, yang namanya santri, kalong ataupun muqiim itu sama saja wajib ta’dziim dan takriim kepada guru.

*******************************

Selepas shalat jama’ah kini tiba waktu yang sangat mendebarkan, dimana santri-santri menyetorkan hafalannya seorang demi seorang. Dan yang tidak hafal atau kurang lancar dalam hafalannya akan mendapat sentakan marah dari Akang. Dari ketegasan Akang dalam membimbing kami sebagai santri-santrinya kami belajar makna kedisiplinan, bagaimana cara mengatur waktu dengan baik tanpa menyia-nyiakannya sedikitpun.

“Man faatahu at-ta’liimu waqta syabaabihi fakabbir ‘alaihi ‘arba’an liwafatihi, barangsiapa yang waktu mudanya tidak di pakai untuk mencari ilmu, maka bertakbirlah empat kali untuk kematiannya” itulah mutiara hikmah dari al-Imam asy-Syafi’iy yang selalu dikutip oleh Akang sebagai cambukan motivasi buat kami sebagai santri-santrinya agar tidak sedikitpun menyia-nyiakan waktu muda.

Satu persatu santri-santri usai dari hafalannya, kini giliranku yang belum hafalan, aku pun masuk ke madrasah dengan pelan sembari menundukan kepala  ta’dziiman wa takriiman kepada Akang.

Baca Juga  Gurihnya Literasi di Pesantren

“Baca hafalanmu” saut Akang.

“bismillahirrahmanirrahim…

Al-mubtadasmun raf’uhu mu’abbadu # ‘an kulli lafdzin ‘aamilin mujarradu

Wal-khabarusmun dzurtifaa’in usnida # muthabiqan fi lafdzihi lilmubtada

Ka qaulina zaidun ‘adziimusy syaani # wa qaulinaz zaidaani qaa’imaani

…….” Aku pun menamatkan satu bab mubtada wal-khabar ini.

“Huda, tolong pijitin kaki saya” ucap Akang selepas aku menyelesaikan setoran hafalan.

Aku pun segera menghampirinya

“Akang cape dari sawah tadi, tolong pijit daerah betis” ucap Akang

“Iya Kang” jawabku lembut dengan suara yang begitu pelan.

“Besok kan minggu, bantu santri muqiimin panen padi di sawah” lanjutnya

“Iya Kang” jawabku pelan sembari memijit betisnya yang terlihat sedikit bengkak karena lelah

“Ya Allah, semoga Engakau senantiasa memberi kesehatan kepada Akang, bagaimana pun beliau adalah sumber keberkahan ilmuku, orang tua ke dua setelah ibu dan bapaku” gumam hatiku lirih.

“Sudah… adzanlah, sudah tiba waktu Isya” suara akang sedikit mengagetkanku yang sejenak melamun, padahal sedang memijitinya

“Iya Kang” Aku pun bergegas ke mesjid untuk adzan Isya.

Selepas Isya, jadwal ngaji syarah kitab sulam taufiq dengan metode bandungan (Pengajar/guru menjelaskan kitab/materi dan semua santri khidmat mendengarkan dan melogat kitab (memberi arti atau terjemah pada kitab).

Para santri pun duduk rapi di hadapan Akang semua menundukan kepala ke hadapan kitab sulam taufiq  tanpa sedikitpun berani menatap ke arah Akang ketika sedang menerangkan. Proses mengaji berlangsung sampai pukul 22:00. Selepas itu semua santri kembali ke hujroh masing-masing, ada yang muraja’ah ada yang muthala’ah dan mudzakarah, ada pula yang menghafal untuk setoran maghrib besok. Sedangkan aku menyelesaikan dulu tugas sekolah yang sedikit menumpuk, karena hanya selepas mengaji Isya ada kesempatan untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah. Sedangkan selepas shalat jama’ah subuh santri mengaji dengan metode sorogan (santri mengaji kitab perorangan di hadapan guru).

*******************************

Keesokan harinya para santri bersiap-siap untuk berangkat ke sawah untuk memanen padi di sawah Akang, aku sudah siap ikut mereka ke sawah dengan membawa alat-alat yang dibutuhkan. Para santri pun berjalan di belakang Akang, tak ada seorang pun yang mendahuluinya. Begitulah akhlak serta adab yang diajarkan oleh Akang kepada kami bagaimana kami harus memuliakan seorang guru. Kami pun mulai memanen padi setelah ada arahan dari Akang. Inilah yang tidak boleh hilang dari setiap pribadi santri. Ta’dziim dan takriim terhadap guru. Dan ini pemandangan akhlak dan adab yang jarang bahkan tidak aku temukan di bangku sekolahan. Belum pernah aku melihat seorang murid sekolahan yang berdiri diam dan menunduk hanya karena melihat dari kejauhan ada guru yang sedang berjalan dan hendak melewat di hadapannya. Pemandangan ini hanya aku temukan di pondok-pondok. Tak ayal jika banyak orang di zaman ini yang memiliki intelektual yang tinggi akan tetapi bobrok dalam masalah moral. Bukan karena kurangnnya asupan ilmu, namun karena kurangnya iman yang dipupuk.

Baca Juga  Mendamba Jalur Surga

Sedikit iri memang dengan santri-santri muqimiin yang bisa lebih fokus dan lebih mencurahkan fikiran dengan kitab-kitab yang dikaji disini, dan tentunya bisa lebih lama mengaji bersama Akang, mengambil keberkahan darinya,  tapi apa daya amanah dari orang tua aku harus sambil sekolah, berarti ada dua tujuan yang harus aku capai. Yaitu mendapat ilmu dunia di sekolah dan mendapat ilmu akhirat di pondokku ini.

Semoga saja aku dapat mencapai keduanya. Dengan tidak hanya berat di satu sisi, dunia saja, atau akhirat saja. Namun seimbang di keduanya.

Aku yakin, meski aku hanya sekedar santri kalong, tapi jika aku mendapat keridhaan guru, meski sedikit ilmu yang kuraih disini, pasti keberkahan akan menghampiriku.

Aku sangat ingat betul perkataan raa’is (lurah santri) ketika malam rabuan, acara khithabahan (acara untuk melatih kita bagaimana tata cara khuthbah di hadapan umum), ia berkata “yang jarang didapatkan oleh santri ialah keridhaan seorang guru, sehingga meski banyak ilmu yang diterima, tapi tidak memberi manfaat bagi hidupnya”

Oleh: Ujang Hudaya

Asal : Bandung

Bagikan

Tinggalkan Balasan