Bagikan

#opiniHari toleransi 16 November 2018

Selamat hari toleransi dan selamat beraktifitas.

Toleransi menurut KBBI diartikan dengan lembut hati, lapang dada, murah hati, pemaaf. Namun kata toleransi sendiri sebenarnya alih bahasa dari bahasa inggris yaitu toleration. Secara etimologis, toleration yang mulai dikenal mulai sekitar tahun 1510, berasal dari bahasa latin toleratinoem (nominative toleratio).

Toleratinoem kemudian diserap oleh bahasa Prancis pada abad 15 masehi menjadi tolération. Tolération akhirnya dibajak oleh bahasa Inggris pada 1510-an itu, jadilah toleration, yang maknanya adalah permission granted by authority, licence. Jadi muasal toleransi adalah izin atau lisensi yang diberikan oleh sebuah otoritas.

Bila mengacu pada KBBI yang konteksnya adalah santri yang ditinjau dari kehidupan sehari-hari mereka cukup lekat dengan toleransi. Karena dalam lingkup pesantren tidak hanya dihuni oleh mereka yang hanya satu daerah, bahkan berbagai daerah sampai berbeda negara ambruk jadi satu dibawah payung pesantren. Dari sekian banyak santri maka tidak lepas dari suku dan budaya, kan negara kita ini memang kaya akan suku dan budaya. Karena berbeda latar belakang setiap individu santri so pasti lah cara juga karakter santri berbeda-beda.

Namun perbedaan tersebut menjadi anugrah tersendiri untuk santri yang secara langsung atau real terjun untuk mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Mulak dari awal masuk pesantren (santri baru) hidup bertoleran harus sudah diaplikasikan dengan sikap legowo santri baru dengan mereka teman satu kamar atau senior mereka yang datang dari luar daerah karena tidak menutup kemungkinan seorang manusia hidup secara individual.

Baca Juga  TIPE-TIPE KARAKTER SANTRI

Biasanya santri baru membawa segudang cemilan yang memang sudah disediakan dari rumah maka sesampainya dipondok cemilan akan dibagikan dengan teman barunya, pastinya santri baru agak sedikit tidak rela namun harus legowo, lawong hidup dipesantren ini tidak hanya melulu soal mengaji saja.

Nah, dari contoh diatas masih banyak lagi seperti join rokok (bagi mereka yang sesama perkok), saling berbagi sabun, shampoo, saling mengingatkan bila salah satu teman ada yang sedang gelisah, gundah, galau, dan merana, barbagi tempat tidur bagi teman yang belum punya alas tidur, santripin ketika menolong/membantu temannya tidak pernah bertanya “kamu orang mana ?? Orang sunda bukan ?? Kalo orang jawa saya enggak mau”. Harus difahami bahwa menolong atau membantu seseorang tidak memandang dia dari mana, suku apa, anaknya siapa. Ya udah dia santri dan manusia karena ya hidup satu kamar dengan orang baru dipesantren budaya dan kebiasaan yang berbeda dari setiap individunya pasti akan menuai perpecahan bahkan bisa jadi saling membunuh bila toleransi tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis adalah orang sunda yang mondok dibagian utara jawa tengah yang secara geografis hampir jawa timur, penulis tidak pernah mengalami semacam hal intimidasi dari senior karena berbeda budaya, juga tidak pernah dikeroyok oleh mereka yang asli orang jawa kolot. Paling banter hanya di gasak, karena dunia gasak menggasak memang lekat dengan santri. Dulu penulis sering digasak karena pelafalan atau intonasi ketika berbicara bahasa jawa terbilang lucu juga wagu, bagi penulis ya sudahlah memang beradaptasi itu perlu waktu. Toh, mereka yang menggasak juga tak fasih ketika mengucapkan satu atau dua vocab bahasa sunda. Hehehe

Baca Juga  Ta’zir: Sebuah Upaya Pertanggungjawaban

Toleransi tidak hanya manis ketika mondok saja, juga bila sudah alumni nanti pasti cerita-cerita jaman mondok dulu akan menjadi topik perbincangan.

Toleransi bagi santri tidak hanya memahami arti kata saja, tapi lebih ke aksi. Bahkan bisa saja santri tidak tahu sama sekali apa itu arti dari toleransi jangankan arti wes, pernah gak mereka mendengar kata itu? Paling banter hanya “serawung” saja, tetapi para santri ini sudah mempraktekan dikehidupan sehari-harinya. Luar biasa !!

Tak perlulah membeda-bedakan antar sesama, yang pada intinnya hanya satu manusia dan dia ciptaan tuhan. Maka disitulah perdamaian dan keharmonisan akan terjalin dengan erat

Bagikan