Alasantri

Takbir Paling Sunyi

Azan Isya dari masjid-masjid mulai bersahutan. Aku masih berdiam menikmati sunyi asrama pesantren, sambil menikmati alunan merdu dari muazin di masjid pondok pusat. Heningku dikagetkan oleh suara takbir khas irama takbir hari raya, yang berkumandang setelah azan Isya selesai. Belum juga aku selesai melangitkan doa. Doa di antara azan dan ikamah yang dijanjikan mustajab oleh-Nya. Doaku malam ini cukup banyak. Rangkaian doa mengiang, seperti saling berbisik meminta kupanjatkan di malam ini.

“Za, yuk salat jamaah Isya dulu!”

“Iya, Mbak La.” Jawabku menerima ajakan Mbak Kamila, santri ndalem yang kerap disapa Mbak La ini, memang paling perhatian sama santri-santri, terlebih santri yang lebih muda darinya.

Saat ini hanya ada kami bertujuh yang tersisa di pondok. Semua santri memilih untuk mudik ke rumah, selama libur hari raya Idul Fitri ini. Kami berlima santri biasa, dan ada dua santri ndalem yang diminta Kiai untuk tetap bantu-bantu di pondok.

Memang ini menjadi lebaran pertama yang aku rasakan selama tinggal di sini. Lebaran-lebaran lalu, aku memilih untuk pulang, dan kali ini aku tidak diizinkan orang tuaku pulang. Katanya, “Mbok sekali-kali merasakan lebaran di pondok, nanti hari ketujuh Syawal, Ayah Ibu yang jenguk Azza ke sana.” Atas rasa ingin membahagiakan beliau, aku mengiyakan dhawuhnya.

“Dengerin geh, aku merinding tau rasanya kalau denger suara takbir lebaran,” cetus Anna. Dia memang orang terdramatis di pondok.

Baca Juga  Al-Hikmah min Kung Fu Panda

“Iya, memang rasanya beda di dengarnya.” Sahut yang lain.

“Eh, kalian pernah mikir nggak sih. Itu yang kemarin orang-orang pada takbir kenceng sambil teriak-teriak buat dakwah gitu, dimana ya, letak merdunya? Kok ya pada mau-maunya dengerin dakwah yang model begitu.” Mbak La mulai membuka obrolan seru.

“Iya ya, Mbak. Bener juga,”

“Bener tuh, takbir yang merdu kayak gini kan enak di dengar, bikin hati adem pula,”

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar

Laa-ilaa-ha illallahu wallahu akbar

Allahu akbar, walillahilhamdu

Kami bergilir melantunkan lafal takbir di musala pondok usai jamaah Isya. Satu per satu mereka seru merespon topik obrolan Mbak La. Sebenarnya aku tertarik sama obrolan topik satu ini. Tapi bagiku, malam ini tiada yang lebih indah dari mendengarkan riuh sayup suara takbiran sambil membayangkan serunya malam takbir bersama keluarga di rumah.

“Za, kamu kenapa?”

“Nggak, Mbak. Kangen rumah saja.”

“Nggak apa-apa itu wajar kok, kalau baru pertama kayak gini. Yuk, sini gabung temen-temen kita takbiran bareng. Disuruh Ibu Nyai baca takbir sebanyak-banyaknya malam ini, Za.”

Untuk apa aku sedih? Bukankah ini hari kemenangan yang seharusnya aku rayakan dengan bahagia? Bukankah dengan aku memilih lebaran di pondok ini, juga akan buat orang tua bangga? Pertanyaan-pertanyaan untuk menghilangkan rasa sedihku justru semakin riuh di kepala.

Baca Juga  Surat Rindu Dari Santri Baru Untuk Ibu

Seumur-umur, ini takbir paling sunyi yang pernah kunikmati. Benar, malam ini berbeda dengan malam-malam Idul Fitri sebelumnya. Tapi tiada apa, senyunyi-nyunyinya malam ini, akan lebih sunyi jika tiada gema takbir lagi di bumi fana ini. Sesepi-sepinya yang kurasa malam ini di pondok yang sudah sepi, lebih sepi lagi jika seorang diri mendengar takdir di bumi, sedang kita sudah terbaring di dalam bumi.

Allahu akbar. Tiada lagi yang lebih indah dari menikmati setiap huruf dari lafal takbir, yang kudengar dari santri-santri yang memilih untuk tetap khidmat di pondok pada malam lebaran ini.

“Azza, bangun. Persiapan salat Subuh terus salat Id di masjid pusat, yuk!!!” Rupanya bukan mimpi. Aku benar-benar masih di pondok sampai pagi ini. Aku bergegas menuju masjid bersama ketujuh santri seperjuanganku. Dan lagi-lagi, ingatan rumah tetap saja menguasai otakku.

Bagikan

Tinggalkan Balasan