Bagikan

Sumber Instagram @serambilirboyo

Hari pertama di pesantren.

Ibu, ini adalah hari pertama Adrian menapakkan kaki di pesantren. Rasanya asing. Apa Adrian akan sanggup bertahan di sini?

Hari ke-4 di pesantren.

Assalamu’alaikum… bagaimana kabar Ibu di sana? Adrian baik-baik saja. Semoga Ibu juga baik-baik saja. Amin. Sudah beberapa hari Adrian di pesantren ini. Tapi, tetap saja rasanya masih asing. Masih kepikiran rumah terus.

Bu, Adrian kangen sama Ibu, Bapak, Paman, Bibi, semuanya. Oh iya, bagaimana kabar Nenek? Tolong bilangin ke Nenek kalau Adrian kangen sama Nenek. Adrian sayang ibu. Dadah, Ibu.

Hari ke-5 di pesantren

Bu, hari ini Adrian dihukum. Dihukum karena terlambat sekolah. Padahal Adrian terlambat ada alasannya. Waktu mau berangkat Adrian nyari sandal tapi gak ketemu-ketemu sampai terlambat. Tapi tetap saja Adrian dihukum.

Hari ke-7 di pesantren.

Bu, hari ini adrian dihukum lagi. Cuma gara-gara gak hafal pelajaran saja disuruh jalan jongkok di depan kelas. Iya kalau cuman sekali, lah ini berkali-kali. Ibu tahu kan kalau menghafal bahasa orang yang tidak dimengerti itu tidak mudah? Ibu juga tahu kan kalau Adrian paling susah buat menghafal sesuatu?

Sudah dua hari ini Adrian dihukum karena tidak hafal pelajaran. Adrian sedih, Bu. Ini baru dua hari paha Adrian sudah sakit semua. Nyeri. Kalau Adrian gak hafal terus bagaimana, Bu? Adrian pengen nangis, Bu…

 

Sumber Instagram @serambilirboyo

Hari ke-11 di pesantren:

Mulai dari hilangnya sandal Adrian, sekarang Adrian kalau kemana-mana gak pakai sandal. Gak pakai alas kaki. Awalnya agak jijik apalagi kalau jalannya becek. Tapi mau bagaimana lagi? Kata teman Adrian, percuma beli lagi, nanti juga hilang lagi.

Baca Juga  OTAK-ATIK-GATUK: BAHASA ALAM BAWAH SADAR

Beberapa hari gak pakai sandal, telapak kaki Adrian pecah-pecah. Mungkin karena kepanasan waktu pulang sekolah. Rasanya kaki kaya dibakar, Bu.

Hari ke-15 di pesantren:

Sudah lima hari berturut-turut Adrian dihukum. Sejak awal kan Adrian sudah menolak keputusan Ibu dan Bapak buat masukin Adrian ke pesantren. Apalagi pesantren yang banyak hafalannya. Adrian gak cocok di sini, Bu! Adrian gak betah! Apa Ibu mau kaki Adrian diamputasi karena keseringan jalan jongkok?

Tapi biarlah, Bu. Jangan Ibu hiraukan keluhan Adrian. Adrian yakin, meski Adrian menjerit-jerit pun keputusan Ibu dan Bapak tidak akan berubah. Rasanya sakit, Bu.

Hari ke-16 di pesantren:

Hmmm, hari ini Adrian gak belajar, Bu. Capek. Biarin besok jalan jongkok lagi. Sekalian saja biar kecapean terus sakit sekalian. Biar gak masuk sekolah, atau mungkin sekalian pulang.

Hhh, rumah! Biasanya kalau malam-malam begini paling enak nonton TV sambil makan mie buatan Ibu. Mie kesukaan Adrian yang paling enak sedunia. Sayangnya Ibu sudah lama gak buatin Adrian mie. Huh! Adrian kangen, Bu. Pengen pulang.

 

Sumber Instagram @serambilirboyo

Hari ke-20 di pesantren:

Bu, kemarin Adrian cerita sama temen kamar yang sudah dua tahun di sini. Adrian tanya, bagaimana bisar bisa betah? Terus, kenapa kok susah hafalan? Gimana biar mudah dan cepat hafal?

Katanya, sih, kalau mondok harus fokus. Gak boleh mikir yang aneh-aneh. Tapi, apa mikirin rumah itu aneh? Terus, katanya kalau di pondok harus ingat tujuan mondok. Yang bikin bingung, tujuan Adrian mondok apa? Kan yang ngirim Adrian ke pondok Ibu sama Bapak.

Baca Juga  Surat Rindu Untuk Ibu

Terus, katanya, kalau masalah hafalan semua orang bisa hafal asal orang tersebut tekun dan bersungguh-sungguh. Berarti Adrian belum tekun ya, Bu? Belum bersungguh-sungguh ya, Bu?

Kalau memang dengan mondok dapat membuat Bapak dan Ibu bahagia, Adrian akan berusaha bersunguh-sungguh. Adrian akan menjadi santri yang tekun buat Ibu, buat Bapak. Adrian akan berusaha.

Hari ke-26 di pesantren:

Bu, Adrian dua hari ini gak dihukum. Alhamdulillah hafal, walaupun sebelum-sebelumnya dihukum terus. Gak tau kok bisa hafal. Padahal cuma Adrian baca terus bolak-balik. Eh, gak taunya hafal sendiri.

Bu, Bapak capek ya kerja terus buat biayain Adrian? Mondok pasti juga ada biayanya. Buat makan, beli kitab dan lain-lain. Kasihan Bapak, Bu. Adrian bisanya menghabiskan uang saja! Gak bisa bantu-bantu Bapak. Harusnya dulu Ibu sama Bapak turuti Harusnya dulu Ibu sama Bapak turutin saja keinginan Adrian buat bantuin Bapak bekerja. Tapi, Bapak sama Ibu tetap berbulat tekad.

Sumber Instagram @serambilirboyo

 

Hari ke-31 di pesantren:

Bu, bagaimana kabarnya? Maaf Adrian jarang kirim surat ke Ibu. Tapi alhamdulillah, Adrian sekarang sudah mulai biasa di sini. Juga sudah jarang dihukum. Ya, cuma sekali-dua kali saja. Bu, tapi rasanya masih ada yang janggal, Bu.

Hari ke-35 di pesantren:

Hmm, Bu, sebenernya kejanggalan di hati Adrian itu, mondok itu buat apa sih? Kalau cuma makan, tidur, sekolah, hafalan, terus ngerepotin Bapak saja, mending Adrian kerja saja bantuin Bapak. Bapak sudah berumur. Apalagi waktu adrian berangkat ke pondok, Bapak sering sakit-sakitan. Tapi meskipun sakit, Bapak tetap saja bekerja. Gak kaya Adrian yang sedikit-sedikit mengeluh. Adrian gak tega Bu, sama Bapak. Kasihan Bapak.

Baca Juga  Mewarisi Semangat Pahlawan Santri

Hari ke-43 di pesantren:

Bu, kemarin Adrian nangis berat. Soalnya kejanggalan di hati Adrian semakin membesar. Ibarat orang buta yang berjalan di tengah kegelapan. Hari ini Adrian menangis lagi, Bu. Bukan karena kegelapan tersebut. Tapi karena ada setitik cahaya yang mampu menyinari kegelapan dan membuat semuanya menjadi lebih jelas.

Tadi, seusai salat jamaah, Mbah Yai dawuh banyak hal. Seolah-olah ditujukan buat Adrian. Jawaban atas semua kejanggalan-kejanggalan Adrian.

Adrian sekarang paham maksud Ibu dan Bapak ngirim Adrian ke pesantren. Mungkin mondok terlihat begitu sepele, tapi faedah dibalik semua itu begitu besar. Begitu luar biasa.

Pesantren  itu tempat pelatihan, tempat pembelajaran. Belajar menjadi pribadi yang bertakwa, berakhlak, pribadi yang kelak menjadi contoh ketika hidup di masyarakat. Faedahnya banyak, Bu! Diajari tentang pentingnya ilmu agama, elajar bersosialisasi dan masih banyak yang gak bisa Adrian sebutin satu persatu.

Di dalam pesantren, kata Mbah Yai, juga termasuk ibadah, membantu orang tua, menegakkan agama, juga berperang melawan kebodohan. Sungguh bodohnya Adrian pernah menolak belajar di pesantren. Adrian sekarang paham. Adrian mengerti. Adrian bersyukur bisa mendapatkan kesempatan belajar di sini, Bu. Apalagi tidak ada yang tahu kapan detak jantung akan berhenti.

Maaf ya, Bu. Terimakasih. Mulai sekarang Adrian akan rajin belajar dan bersungguh-sungguh.

Bersambung…

 

Sumber Instagram @serambilirboyo

Bagikan