Bagikan

Masih dalam nuansa syawal, masih cocok kita membahas tentang halal bihalal. Tidak hanya ditanya kapan nikah, berikut ini mimin mau berbagi serba-serbi halalbihalal alasantri yang khas dan berbeda dengan halalbihalal pada biasanya. Apa saja yang khas dan menarik, yuk simak dibawah ini ya.

Kerasan di pondok?/betah di pondok?

Pertanyaan ini mungkin akan sering ditanyakan oleh sanak famili atau saudara jauh yang jarang bertemu dengan kita dan biasanya pertanyaan ini di tahun pertama kita masuk pesantren. Pertanyaan ini sangat legend sekali, meskipun kita merasa kurang kerasan/betah di pesantren biasanya yang mendahului menjawab malah orang tua kita dengan menyerobot “ya, kerasan dong, Pak dhe/Pak le”. Yang unik lagi dari pertanyaan ini adalah walaupun kita sudah mondok lama di pesantren bahkan sudah hampir lulus, pertanyaan ini masih saja keluar meski dengan format tambahan. Pertanyaan dengan format tambahan kurang lebih seperti ini “betah di pondok? Pantesan tambah gemuk ya sekarang”. Kalian masih sering ditanya begitu?

Kapan Balik ke Pondok?

Inilah pertanyaan default dari saudara kita yang tau kalo kita mondok. Biasanya ditanya kapan pulang ke pondok lagi? Pertanyaan ini seolah selalu hadir pada setiap halalbihalal dan juga liburan santri semuanya. Seolah kita harus bersegera kembali ke pesantren. Hehehe

Udah belajar Kitab Apa Aja di Pesantren?

Baca Juga  Ta’zir: Sebuah Upaya Pertanggungjawaban

Inilah pertanyaan yang mengarah ke sebuah tujuan. Pertanyaan yang standard dan ringan ini memang terlihat sangat biasa saja dan tidak ada tendensi apapun. Kitapun bisa menjawab dengan mudah dengan cara menyebutkan kitab-kitab bandongan dan sorogan yang pernah kita pelajari di pesantren. Namun taukah kamu kalo aka nada pertanyaan atau pernyataan selanjutnya setelah kita menjelaskan kitab-kitab yang pernah kita pelajari. Pernyataan yang kemungkinan muncul adalah, “Wah coba dong jelaskan kitab ini”. beruntung jika kitab yang disebutkan adalah kitab yang sudah kita kuasai, bagaimana jika kitab yang disebutkan adalah kitab bandongan yang kita sendiri masih banyak bolongnya. Kebayangkan mau ngomong bagaimana selajutnya.

Udah Dapat berapa Juz?

Pertanyaan model ini mungkin akan sangat sering didengarkan oleh mereka, para santri Tahfid. Pertanyaan ini sangat enak di dengar tapi sangat sulit di jawab. Para penghafal quran sendiri punya cara tersendiri jika ditanya temannya “sudah dapat berapa?” maka biasanya menjawab “baru sedikit. Mohon doanya saja”. Tapi bagaimana jika yang bertanya adalah saudara-saudara seperti Pak dhe, Pak Le, Bu dhe, Eyang, tante, dan lainnya? Jika dijawab dengan jawaban yang sama tentu akan tetap mengejar dengan pertanyaan lanjutan “emang berapa?” dan pertanyaan itulah yang kadang membuat delematis. Menurut kamu kasih tau apa nggak ya?

Ayo yang dari pesantren pimpin Tahlil!

Baca Juga  SEGARIS RAGU (Vol 1)

Kegiatan Halalbihalal pastilah ada salah satunya yang menziarahi makan-makam para sesepuh. Saat semua keluarga berkumpul untuk melakukan ziarah ke makan salah satu sesepuh keluarga, keluarlah satu kalimat yang secara spontan “Ayo yang dari pesantren, pimpin tahlil”. Hal inilah yang membuat kita berpikir bahwa santri memang penerus para Kyai, bahkan belum menjadi kyai sudah diberi tugas-tugas ala Kyai. Sulit sekali mengelak, namun apa mau dikata, majulah dengan segenap keyakinan dengan hafalan doa tahlil yang ala kadarnya. Bagaimana halalbihalal alasantri menurutmu, sudah berapa maaf yang didapat, atau malah kita berburu amplop sampai lupa maaf.

Bagikan