Bagikan

Masih ingat kapan pertama kali kamu menginjakkan kaki di halaman pondok pesantren? Tanggal berapa? Masih ingat siapa yang pertama kali mengajak dan kamu ajak bicara? Siapa namanya? Masih ingat kekepoanmu akan segala hal di pondok pesantren saat menjadi santri baru dulu? Apa sampai sekarang kamu masih kepo? Berikut ini adalah sembilan pertanyaan tentang santri baru yang akan mengingatkanmu pada masa santri baru dulu. Cekidot…

  1. “Namamu siapa? Asalmu mana?”

Untuk dapat akrab dengan sesama santri baru, pertanyaan ini mutlak menjadi embrio kedekatan kita dengan para santri lainnya. Kalau sudah kenal nama, minimal kita mendapatkan akses untuk mengajak teman santri kita untuk melakukan sebuah ngopi saat rasa krasan sedang diuji. Saat kita sudah tahu asal daerah teman santri kita, kita akan lebih intim lagi dengan mereka. Biasanya akan muncul pertanyaan lanjutan “Oh! Kamu dari daerah itu. Aku pernah ke sana, lho! Bagus, ya daerahnya?”, entah didasari ketakjuban yang hakiki atau hanya sekadar sepik belaka agar saat liburan bisa diajak ke sana yang pastinya akan low budget dengan memanfaatkan si empunya wilayah.

  1. “Kamu mondok atas kemauan sendiri atau disuruh orang tua?”

Pertanyaan ini bak pisau bermata dua. Jika si penanya dan yang ditanya sama-sama mondok atas kemauan sendiri, maka keduanya akan semakin mempererat hubungan persaudaraan dengan menjalin relasi yang lebih luas lagi kepada para santri baru lainnya. Biasanya sih, yang begini nanti jadi dedengkot di satu angkatan. Namun jika sama-sama mondok atas perintah orang tua, maka curhat adalah niscaya bagi keduanya. Mereka akan saling menguatkan satu sama lain agar perintah orang tua untuk mondok dijalani dengan ikhlas dan mendatangkan berkah. Tidak melulu galau-galau sendu karena perintah tersebut berat dipangku. Seberat kata Dilan tentang rindu. Halah!

  1. “Kamu kok bisa mondok di sini? Tahu pondok pesantren ini dari mana?”
Baca Juga  Ta’zir: Sebuah Upaya Pertanggungjawaban

Walaupun pertanyaan ini agak terasa usang di era kemutakhiran seperti sekarang ini yang mana informasi tentang pondok pesantren mudah dikunyah, namun tetap saja masih sering ditanyakan kepada para santri baru. Ada yang menjawab karena ikut saudara, ikut tetangga, direkomendasikan guru ngaji yang alumni pondok pesantren tersebut, ada juga yang menjawab “Lha, Pak Dhe saya meminta saya untuk mengaji dengan beliau. Makanya saya mondok di sini”, kata seorang santri yang masih keluarga ndalem. Si penanya melanjutkan “Berarti kamu Gus, dong?”. Lalu “Gus? Gus itu siapa? Nama saya Ahmad”, jawab Si Gus yang tidak mudeng kalau dia adalah Sang Gus.

  1. “Mau berapa tahun mondok di sini?”

Sejalan dengan pesatnya laju zaman, banyak pondok pesantren yang membuka lembaga pendidikan formal. Mulai dari jenjang TK sampai SMA. Hal ini mempengaruhi jawaban para santri baru akan pertanyaan tersebut. Jawabannya bisa tiga, enam, bahkan empat belas tahun merujuk pada lembaga pendidikan formal yang ada di pondok pesantren. Namun tidak bagi santri baru yang sudah dijejali niat “Ngaji sampai mati. Ngaji sampai rabi”. Jiwanya akan terus hidup di pondok pesantren walaupun kelak raganya akan berpisah. Mental seperti ini yang patut dijiplak oleh para #santrizamannow. Status niatnya bisa ditingkatkan menjadi “Pantang pulang mondok sebelum dapat satu Mbak/Kang pondok”, eheee…

  1. “Apa keluargamu ber-basic pesantren?”

Pertanyaan ini kadang menjadi penentu status sosial seorang santri baru yang akan menjalani kerasnya persaingan hidup dalam internal pondok pesantren. Jika berasal dari keluarga yang ber-basic pesantren, si santri akan diunggulkan oleh teman-teman seperjuangannya karena minimal dia sudah lancar bacaan Al-Qur’annya atau sudah familiar dengan bahasa ngaji kitab yang utawi, iki, iku, dan seterusnya. Bagi yang tidak, dia akan berusaha keras agar mendapatkan buah manis yang dia panen dari hasil mondoknya agar keluarganya memiliki dasar agama yang kokoh. Karena pondok pesantren adalah perejawantahan dari syiar agama yang lemah lembut dan mudah diterima oleh semua kalangan.

  1. “Kamu sudah siap berpisah hidup dengan orang tua?”
Baca Juga  TIPE-TIPE KARAKTER SANTRI (PART II)

Fyuuuh! Memang melelahkan mendengar kata tentang perpisahan. Sebenarnya, mondok atau tidak mondok, kelak kita akan hidup terpisah dengan orang tua. Yang tidak mondok, esok akan berkeluarga dan pastinya berpisah hidup dengan orang tua. Maka dari itu, mondok adalah cara yang elegan untuk melatih diri terbiasa hidup terpisah dari orang tua. Agar saat tua nanti kita siap hidup mandiri dan berdikari. Ya, walaupun antara kita dan orang tua terpisah jauh jarak dan waktu, tapi tetap dekat di hati dan transferan yang ditagih sebulan sekali. Tapi, jika kita rajin menagih transferan, maka kita wajib mengirim doa untuk orang tua melebihi nominal transferan yang kita dapatkan. Janji lho, ya!

  1. “Uang sakumu sebulan berapa?”

Sejatinya, pertanyaan tersebut masuk ranah internal masing-masing santri baru dengan keluarganya. Pastinya setiap santri memiliki “jatah bulanan” yang berbeda-beda. Ada yang sebulan cukup dengan Rp. 100.000.00, ada yang lebih dari tiga kali lipatnya, ada juga yang tidak berbentuk uang, yaitu berupa pasokan sembako yang jika dinominalkan jumlahnya melebihi jumlah total tiga kali lipat uang saku yang sebulannya Rp. 100.000.00. Yang jelas, semua nominal uang saku di atas tidak included dengan uang pangkal atau syahriyyah pondok pesantren. Secara… Zaman now gitu, lho! Eh… Tapi masih ada nggak sih yang uang sakunya included dengan syahriyyah? Gimana tuh manajemen perekonomiannya?

baca juga : otak-atik-gatuk
  1. “Kamu punya kakak di sini?”

Kepo banget, sih? Lantas, kalau aku punya kakak di sini kamu mau ikut audisi jadi kakak iparku, gitu? Pfffttt… Keberanian sekali! Memang kamu sudah hafal berapa juz? Hehehe… Pertanyaan seperti ini sering kali ditanyakan oleh para senior yang rerata sudah duduk di bangku perkuliahan dan menduduki jabatan pengurus pondok pesantren serta sudah masuk usia semester galau. Sambil menyelam, minum air. Alih-alih mengayomi para yunior dengan segala jurus pendekatan, ternyata ada udang di balik batu. Para santri baru yang masih polos akan menjawab jujur dan disinyalisasi akan menjadi agen guna melancarkan misi pembribikan para senior yang kepalang ngebet menjadi kakak iparnya. Klasik!

  1. “Setelah lulus, kamu mau jadi apa?”
Baca Juga  NING LANA #1

Himmah atau semangat yang tulus dari para santri baru yang juga membawa semangat baru akan melahirkan banyak pemikiran yang visioner. Apapun bentuk cita-citanya, yang jelas, sebagai santri baru yang kelak akan menjadi alumni harus bisa memberi manfaat kepada masyarakat sambil mengemban tugas berat menjaga nama baik almamater yang telah memberikan banyak sekali bekal hidup. Ada yang kelak menjadi pengasuh pondok pesantren, muballigh/muballighoh, guru ngaji, pegawai negeri, bertani, berwirausaha, dan berbagai macam perejawantahan cita-cita lainnya. Semoga kita semua dapat menjadi manusia yang memanusiakan manusia dengan segala manfaatnya. Aamiiin…

Yappp! Masa santri baru adalah masa yang penuh dengan pertanyaan dan keimutan serta kepolosan. Setiap santri baru pasti memiliki kesan yang berbeda-beda saat pertama kali memulai kehidupan barunya di pondok pesantren. Ada saja hal yang membuatnya terus mengingat memori tersebut. Baik menyenangkan, membuat galau, bahkan menjengkelkan. Sebenarnya, ada pertanyaan lanjutan yang timbul dari salah satu jenis pertanyaan di atas, “Orang tuamu suka martabak manis atau martabak sayur? Biar nanti aku bawakan kalau sowan”. Sebenarnya juga tidak mau saya tulis di sini. Tapi sudah kadung kamu baca, sih. Ya sudah… (Halah! Sepik maksimal!)

Bagikan