Alasantri

SEGARIS RAGU (VOL 6)

Pada ruang kecil dengan 3 buah lemari, suasana tak sehangat biasanya. Dingin seolah membeku. Tak ada sedikitpun suara keluar dari lisannya. Beberapa jari hanya menggaris-garis palsu pada udara. Kedua kaki hanya bisa diam tanpa tau ada apa. Badan seolah tak merasa ada rangkaian organ yang seolah tak semestinya. Hanya pikiran yang tak bisa berdiam pada posisinya. Sedangkan hati seolah kosong dengan udara dan perasaan hampa tanpa ada kata yang tertahan. Begitulah saat ini.

Irwan hanya bisa memandang kosong baris-baris kitab yang ada di rak lemarinya. Barisan kitab yang disusun memanjang. Pada setiap sisi sampulnya memberikan corak huruf yang membentuk sebuah tulisan dari nama kitab tersebut. Perasaan Irwan seolah susunan kitab yang kehilangan beberapa jilidnya. Tak bisa dibaca dan tak sempurna.

Irwan menyandarkan punggungnya ke arah lemarinya. Kakinya dia selonjorkan dengan tangan melipat di dadanya. Sarungnya sudah lusuh dengan kaos polos putih. Rambutnya sudah acak-acakan. Seolah tak pernah menata diri selama 1 pekan ini.

Harapannya akan mendapatkan Miska, perempuan yang sudah lama ia incar untuk bisa menjadi pendampingnya mendadak goyah. Bukan karena sebuah penolakan atau restu yang tak tersampaikan. Ini karena ancaman orang lain yang bisa merebutnya. Orang lain yang memiliki level lebih tinggi darinya. Orang yang bisa saja dengan mudah mendapatkan Miska.

Ancaman itu datang dari putra kyainya sendiri, Rasyid. Irwan mempunyai firasat bahwa Rasyid menyimpan sebuah perasaan kepada Miska. Begitu juga sebaliknya. Firasat itu terus saja tumbuh dalam pikiran Irwan. Tumbuh menggerogoti beberapa sisi kesadarannya. Semua hal buruk terus saja terbayangkan dan selalu nampak kala membayangkan berbagai hal.

Assalamualaikum” lamunan Irwan terbuyarkan ketika dua orang pengurus membuka pintu dan masuk ke dalam kamarnya.  Mereka membawa kitab di tangannya yang mereka angkat dan tempelkan di dada mereka. Sebagai sebuah penghormatan kepada kitab. Mereka terpaut dua tahun dari Irwan. Keduanya satu kamar dengan Irwan.

Waalaikum salam” Irwan menjawab dengan sekenanya. Wajahnya tak menoleh sedikitpun ke arah kedua orang pengurus yang baru datang. Irwan hanya menarik kakinya dari posisi selonjor menjadi sila. Irwan memberi jalan kepada kedua pengurus untuk meraih lemari mereka yang berada setelah lemari Irwan.

Kedua pengurus kemudian melewati Irwan dengan menundukkan badan mereka

“Permisi, Kang” ucap salah satu dari mereka.

“Ya” Irwan menjawab singkat sekenanya saja. Mereka sudah menghadap lemari masing-masing. Tak ada kata yang keluar. Mereka berdua merupakan orang yang paling dekat dengan Irwan.

“Gimana tadi ngajinya, Sal?” Tanya Irwan kepada pengurus yang ada disampingnya itu, Faisal. Seorang pengurus asal Sukabumi.

“Seru, Kang. Gus Rasyid neranginnya seru” seorang pengurus menjawab dengan ringan.

Irwan hanya mengangguk-angguk.

“Masih mikirin, Kang?” Tanya pengurus lain yang ada di samping Faisal, Ari. Ari berasal dari Jambi. Keduanya sudah menjadi satu kamar dengan Irwan sejak 2 tahun lalu. Irwan sudah sering bercerita tentang Miska kepada keduanya. Faisal dan Ari selalu menjadi teman curhat Irwan.

“Ya begitulah, Ri” Irwan membalas dengan lesu. Raut mukanya seolah jatuh. Semuanya datar.

“Bagaimana tadi, Miska?” Irwan mencoba terus terang bertanya.

“Tadi nggak bisa lihat, Kang. Apalagi Mbak Miska selalu duduk di tengah. sudah pasti terhalang satir

“Kalau pengurus putri semuanya girang kang ketemu Gus Rasyid” tambah Faisal.

“Pasti Miska tidak seperti itu” Irwan menjawab memberi pembelaan.

Ari membereskan kitab-kitabnya di rak atas lemarinya. Dia menyimpan kembali kitab yang selesai digunakannya. Ari termasuk santri dan pengurus yang datang dari tempat jauh. Dia jarang sekali pulang. Baru sekali semenjak masuk ke Darul Inayah ini. Sementara Faisal terlihat merapikan baju-bajunya. Dia terduduk di depan lemari sembari tanganya mendorong dan menarik beberapa lipatan baju yang melebihi dan kurang pas dari keseluruhannya.

Baca Juga  Bak Nyantri

“Oh iya kang” Faisal menyaut.

“Tadi, ketika selesai ngaji, Mbak Miska masuk lagi ke ruang ngaji. Ternyata absen tertinggal. Trus ketemu sama Gus Rasyid.” Faisal menjelaskan apa yang dilihatnya ketika selesai mengaji.

“Padahalkan Mbak Miska nggak pernah namanya absen ketinggalan” lanjtnya dengan nada memanasi Irwan.

Faisal bercerita dengan tenang. Tangannya masih merapikan baju-bajunya. Dia sebarkan kapur barus putih seuukuran kelereng pada sela-sela lipatan pakaiannya. Sikap tenang Faisal berbanding 360 derajat dengan Irwan yang bertambah gusar mendengar cerita dari Faisal. pikirannya tambah kacau dan berantakan. terbayang banyak hal negative yang muncul dari firasatnya.

“Bagaiamana kalau Mbak Miska memang suka dengan Gus Rasyid, kang?” Faisal bertanya dengan berani kepada Irwan.

“Entahlah. aku tak bisa membayangkan apa-apa” Irwan masih tak punya semangat untuk membalas pertanyaannya.

“Lebih baik cari yang lain kang. Masih banyak pengurus putri yang mau dengan sampeyan.” Faisal kembali memanasi Irwan.

“Tak semudah itu, Sal” sergah Irwan dengan nada agak tinggi.

“kalo gitu, lamar aja kang. sebelum terlambat. Lagi pula memang sudah saatnya”

“Main lamar-lamar aja kamu, Sal” Ari ikut merecoki Faisal.

“Sudahlah, biarkan aku berpikir. Sana kalian ngajar” Irwan menutup perbincangan.

Ari dan Faisal pamit untuk mengajar. Mereka akan mengajar ngaji Al-Quran santri-santri. Sebagai pengurus, mereka tidak hanya akan mengawasi keseharaian santri-santri. Mereka juga akan mengajar ngaji setiap malam. Setiap pengurus memegang ngaji beberapa santri di pesantren Darul Inayah. Setiap kelompok akan mengaji di tempat-tempat pilihan mereka. Ada yang mengaji di masjid, di selasar masjid, di aula asrama, bahkan kadang-kadang mereka mengaji di halaman dengan menggelar tikar kecil.

Kemarin ini baru saja ada perombakan kelompok ngaji. Dikarenakan banyaknya pengurus baru yang datang, maka semua kelompok mengaji dibagi kembali. Pengurus putra akan mengajar ngaji santri putra begitu juga pengurus putri, mereka hanya akan mengajar santri putri. Sedangkan para pengurus mendapat jadwal ngaji dengan Abah seminggu sekali. Ini karena abah sekarang sudah sangat sibuk mendapat banyak amanat mengisi pengajian di tingkat provinsi yang mengharuskan abah pulang pergi ke beberapa tempat. Sebagai gantinya para pengurus mengaji juga kepada Adik Abah yang tinggal di belakang Pesantren Darul Inayah.

Irwan masih di kamarnya menikmati kesendiriannya. Tak ada hal yang menenangkan selain kesedihan kala bertemu dengan kesunyian. Selayaknya kebahagiaan yang selalu berbalut keramaian. Irwan memutar badannya yang sebelumnya bersandar pada lemari, saat ini badannya menghadap lemari. Dia buka lemarinya yang berkuran tidak begitu besar. Lemari itu sudah beberapa tahun menemaninya di Darul Inayah. Lemari dari bahan kayu itu sangat kuat dan tidak mudah keropos atau diserang rayap.

Lemari hitam itu ia buka. Nampak 3 bagian pada lemari itu. Bagian bawah diisi dengan beberapa celana dan sarung-sarungnya. Bagian kedua masih lengkap dengan baju koko dan juga kaos yang tidak terlalu banyak. Sedangkan baris paling atas adalah perlengkapan kecil-kecil seperti jam tangan, parfum, beberapa pena, dan beberapa lembar kertas yang ditumpuk oleh sebuah buku agenda.

Pada pintu lemarinya, selayaknya seorang santri, ada banyak tulisan dan foto dipajang disana. Pada pintu lemari Irwan ada 3 foto yang dipasang. Paling atas ada foto kedua orang tuanya. Di foto itu tampak bapak dan ibu dari Irwan berpose di sebuah sofa. Foto itu sudah mulai kekuningan menampakkan usia foto yang sudah lama. Foto itu sudah dari pertama Irwan masuk Darul Inayah sudah Ia bawa. Di bawahnya ada foto Irwan dengan beberapa teman masa kecilnya. Tampak Irwan masih berusia 13 Tahun. Irwan kecil dengan badan sangat kurus hanya menggunakan celana pendek dan kaos yang sablonnya sudah pecah-pecah. Di kanan kirinya ada dua orang temannya merangkul Irwan. Mereka bertiga bersahabat dari kecil. Sedangkan foto yang terakhir adalah foto pengurus Pesantren Darul Inayah tahun ini. Foto ini diambil pada pelantikan pengurus 3 bulan lalu. Ada hal lain yang membuat Irwan ingin memasang foto itu. Bagi santri pintu lemari adalah dinding hati. Tidak sembarang orang bisa menempelkan sesuatu pada pintu lemari bagian dalam itu. Sama halnya dengan Irwan. Dia menempelkan foto pengurus karena ada sosok yang dia kagumi. Sosok yang selalu menampakkan senyum yang tenang dan mendamaikan. Sosok yang sudah dari lama sekali ingin ia ajak bicara soal masa depan. Dia juga sosok yang saat ini membuatnya gelisah. Sosok ayu itu tak lain adalah Miska.

Baca Juga  SANTRI SEBELUM TIDUR

Pada foto itu tampak para pengurus putra berbaris di baris belakang dengan berdiri tegak. Sedangkan para pengurus perempuan berbaris dibaris depan dengan bertumpu pada lutut mereka. Hanya itu foto Miska yang dimiliki Irwan.

Adapula tulisan-tulisan Irwan yang dipajang di pintu lemarinya. Tulisan yang pertama kali dia dapat ketika masuk pesantren. Tulisan itu dalam bahasa arab..

Qulil Haqqo Walaukana Murro” katakanlah kebenaran walaupun itu pahit. Kalimat itu sangat bermakna bagi Irwan sehingga ia menuliskannya pada pintu lemarinya.

Irwan kemudian bangkit diatas lututnya. Dia menjulurkan tanganya untuk mengambil buku agenda. Dia meraih pena yang tidak jauh dari agendanya. Kemudian dia dudukkan badanya menghadap lemari. Suasana paling nikmat dan tenang. Melihat ke dalam lemari sendiri. Irwan meletakkan agenda pada pangkuannya. Dibukanya lembar demi lembar. Pada buku agenda itu ada beberapa lembar kalender. Dilihatnya dengan seksama. Sudah  banyak tanggal yang ia beri silang pada angka-angka itu.

Tak terasa, 29 usianya sekarang. Lima bulan lagi dia akan menginjak kepala 3. Kemudian dia membuka halaman-halaman berikutnya. Sampai pada sebuah halaman kosong. Dia tulis tanggal pada pojok kanan halaman. Dia menulis sebuah kalimat pada lembar agendanya.

“Siapkah aku kalah?”

Kalimat itu serta merta keluar dari pikiran Irwan. Setelah beberapa jam dia hanya termenung tidak bisa berkonsentrasi, akhirnya kalimat itulah yang bisa menjelaskan perasaan Irwan saat ini. Namun hanya sampai sebatas itu. Setelah itu, tak ada lagi kata yang keluar yang bisa ia tuliskan. Ia kembali termenung. Irwan memandang foto orang tuanya yang ada di pintu lemarinya. Dia pandang seksama wajah-wajah kedua orang yang sangat berpengaruh terhadap hidupnya. Ingin sekali ia membahagiakan kedua orang tuanya itu. Ia belum bisa menggurat senyum di wajah-wajah mereka. Kemudian dia turunkan pandangan mengarah kepada foto kedua sahabat kecilnya. Entah bagaiamana saat ini kabar mereka. Sudah lama Irwan tidak bersua. Keduanya menurut kabar sudah bekerja di Ibukota.

Terakhir, Irwan melihat foto barisan pengurus. Pandangannya tak pernah ragu. Batinnya selalu kaku. Seolah ada besi kuat penyangga pandangan agar terkunci. Lurus dengan mata yang tajam. Wajah Miska selalu tak meleset ia pandang. Irwan tak pernah hafal ekspresi wajah lain di foto itu. Hanya satu ekspresi wajah yang dia hafal dan selalu dia kenang.

Irwan memikirkan banyak hal. Tulisan di agendanya masih berhenti. Pandangannya masih saja pada foto pengurus itu. Setiap dia melihat foto itu, batinnya tak bisa tenang. Ada semangat juang yang berkibar. Seolah akar yang menemukan gumpalan air. Dari matanya tampak sebuah cahaya keyakinan. Ada secercah harapan yang dia dapatkan. ada niatan yang kuat untuk bisa dia ungkapkan. Seolah masih ada yang harus diperjuangkan. Dia naikkan pandangan ke foto kedua orang tuanya. Dia lihat dengan seksama dan meyakinkan dirinya untuk bisa melangkah kedepan.

Baca Juga  NING LANA #1

Pintu kamar terbuka, Faisal masuk ke dalam kamar. Dia melihat wajah Irwan yang terlihat berbeda dari sebelumnya. Melihat Faisal datang, Irwan bangkit kemudian menghampiri Faisal. Dia tatap Faisal dengan senyuman. Kemudian dia memberikan sapaan khasnya kepada Faisal.

“Terima kasih, Sal” ucap Irwan dengan sertamerta.

“Buat apa, kang?” Faisal keheranan dengan apa yang didengarnya.

“Saranmu” jawab Irwan dengan singkat.

“saran yang mana kang?” Faisal tambah keheranan dengan Irwan.

Faisal hanya terbengong-bengong mendengar yang dikatakan oleh Irwan. Dia tidak merasa memberikan sarapan apapun kepada Irwan. Dia merasa baru pulang mengaji. Faisal masih saja kebingungan. Irwan belum menjawab pertanyaan Faisal. Irwan tampak bergegas menuju suatu tempat.

“Lah, ini mau kemana kang?” dengan wajah yang penuh dengan tanda Tanya, Faisal kemudian hanya bisa penasaran.

“Mau ke wartel, nelpon.” Irwan kembali menjawab dengan sederhana.

“Oh” Faisal sudah penuh dengan kebingungan. Hanya kata itu yang bisa keluar. Kemudian dia membiarkan Irwan pergi.

Irwan pergi meninggalkan Faisal yang termenung. Irwan menghilang dibalik daun pintu yang ada di belakang Faisal. Faisal masih tak mengerti dengan apa yang baru saja dia dengar. Dia melangkah pelan menuju lemarinya. Kemudian dia berhenti di depan lemari Irwan yang masih terbuka. Ada sebuah agenda yang masih terbuka di depannya. Di agenda tersebut ada sebuah pena dengan sebuah tulisan yang jelas.

“Siapkah aku kalah?”

Kalimat yang dibacanya itu dia yakini sebagai perasaan yang sedang dialami oleh Irwan. Dibawah tulisan itu dengan jarak yang cukup jauh sekitar 3 spasi ada sebuah tulisan lagi. Kalimat yang sama dengan apa yang ada di pintu lemarinya.

Qulil Haqqo Walaukana Murro

Faisal sedikit mulai memahami apa yang sedang terjadi pada Irwan. Faisal tertawa kecil. Pipinya tertarik. Giginya yang teratur terlihat. Sedangkan matanya sayu-sayu bersinar.

Faisal tersenyum pada dirinya sendiri. Faisal tak menyangkan akan menjadi seperti ini. Kemudian dia melangkah menuju lemarinya untuk meletakan kembali kitabnya. Tak lama, Ari datang memasuki kamar.

“Kang Irwan mana, Sal?”

“Ke Wartel” Faisal menjawab dengan sekenanya.

Ari merasa keheranan. Tidak biasanya Irwan pergi ke wartel pesantren. Wartel biasanya identic dengan santri-santri baru yang memang masih tidak betah dan ingin menyampaikan keluh-kesahnya kepada orang tua. Untuk seorang yang sudah hampir 10 tahun di pesantren pastilah aneh. Ari memutuskan untuk kembali bertanya.

“Ngapain, Sal?” seolah meminta kejelasan. Ari bertanya dengan nada lebih penasaran kepada Faisal yang sedang sibuk merapikan buku-buku dan kitabnya. Tiba-tiba Faisal berhenti. Dia menghadap Ari. Wajahnya tampak serius. Dia condongkan badannya lebih dekat ke arah Ari. Dan dengan seksama seolah mengambil nafas. Kemudian dia ucapkan sebuah kata.

“Mau nglamar!” Ari terdiam dengan wajah yang penuh tanda Tanya.

Darul inayah, selalu menyimpan rahasia. Pada sudut-sudutnya ada kisah yang selalu bermakna. Anginnya selalu berbisik akan damai suasana. Malamnya selalu punya warna cerita pengantar tidur penghuninya. Dinginya seolah mengorek rindu akan keluarga. Embun pagi adalah tetes penawar dahaga. Semua di Darul Inayah, semua penuh cerita.

 

Bagikan

2 thoughts on “SEGARIS RAGU (VOL 6)

Tinggalkan Balasan