Alasantri

SEGARIS RAGU (VOL 14)

Ummi duduk di ruang tengah rumah tepat di depan meja dengan bersandar pada dinding. Tangannya cekatan membuat beberapa daftar belanjaan. Ummi terlihat sesekali berhenti untuk mengingat-ingat beberapa hal yang harus dibeli. Dahinya berkerut mencoba berpikir. Ummi juga beberapa kali menghitung jarinya untuk membayangkan hitungan barang yang akan dibeli. Daftar belanjaan sudah berderet. Belanja kali ini memang berbeda dari biasanya. Pasalnya, teman Abah waktu di Yaman akan berkunjung beserta keluarganya ke Darul Inayah.

Teman Abah ini bernama Kyai Amar. Kyai Amar saat ini menjadi Kyai pada sebuah pondok besar di Jombang. Abah sering menceritakan kebersamaan Abah dengan Kyai Amar ketika di Yaman. Bisa dibilang mereka berdua sudah seperti kakak dan adik. Keduanya berangkat ke Yaman bersama-sama. Abah pertama berkenalan dengan Kyai Amar di dalam pesawat menuju Yaman. Mereka berdua duduk berdampingan. Mengetahui tujuan dan maksud yang sama, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk bersama-sama.

Masa awal-awal di Yaman mereka habiskan dengan sangat prihatin. Kyai Amar adalah saksi hidup Abah dalam menuntut ilmu di Yaman. Konon katanya, Abah sering sekali kehabisan bekal. Kyai Amarlah yang mengerti bahwa Abah sudah tak punya bekal. Sebaaliknya, Kyai Amar sering meminta tolong kepada Abah untuk membantunya memahami materi-materi perkuliahan. Setelah berdiskusi dan menerangkan, biasanya Kyai Amar mengeluarkan makanan yang dibelinya untuk disantap bersama.

Abah pulang lebih dulu ke tanah air. Kyai Amar masih ingin tetap tinggal untuk mendalami beberapa keilmuan. Sementara Abah langsung pulang untuk melanjutkan perjuangan Darul Inayah. Selang 2 tahun, Kyai Amar pulang ke tanah air dan langsung diminta untuk menikah dengan Ning salah satu pondok di Jombang yang masih bisa dibilang kerabat. Abah datang pada saat pernikahan Kyai Amar. Lucunya, pada saat itu Abah masih belum beristri dan datang hanya dengan keluarga. Kyai Amar yang sangat rindu dengan sahabatnya itu memeluk Abah dengan sangat erat. Bahkan Kyai Amar dengan sangat jelas berkata kepada Abah dan keluarga.

“Kita dulu di Yaman selalu berbagi. Jika saja Istri bisa dibagi, Pastilah kita sudah berbagi” ucap Kyai Amar. Dengan diikuti tawa dari orang-orang yang mendengarnya. Abah dan Kyai Amar sudah lama tidak berjumpa lagi. Keduanya tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Pernah sesekali bertemu untuk saling menghadiri haul di masing-masing pondok. Besok lusa Kyai Amar berencana untuk datang ke rumah Abah. Tugas Ummi mempersiapkan beberapa hidangan yang special. Abah juga memesan masakan kesukaan mereka berdua untuk dihidangkan untuk bernostalgia.

Ummi masih mencoret-coret lembar daftar belanjaannya. Beberapa daftar yang sudah ditulisnyapun tidak luput Ummi coret karena ingat persediaan yang masih ada di dapur. Menuliskan beberapa belanjaan biasanya tidak banyak Ummi lakukan. Ummi termasuk orang yang mengingat belanjaan dan tak pernah membaca daftar belanjaan. Ummi ingat berapa bawang merah yang masih tersisa di rak dapur. Ummi juga selalu hafal persediaan dari mulai kecap, minyak, cuka, dan saus pada level berapa. Ummi selalu pergi ke pasar dengan ingatan yang sangat kuat. Berbeda jika acara khusus yang memang butuh banyak hal yang harus dibeli di pasar. Dan karena tidak biasa, maka mencatat belanjaan butuh waktu yang cukup untuk mempertimbangkan antara keperluan dan juga persediaan.

Rasyid dari ruang kitab hendak ke kamarnya melewati ruang tengah. Di ruang tengah Rasyid melihat Ummi yang sedang mencatat belanjaannya. Rasyid tak mau mengganggu konsentrasi Ummi, akhirnya Rasyid hanya lewat saja. Baru beberapa langkah melewati Ummi, Rasyid sudah mendengar panggilan Ummi.

“Syid, Sini dulu” ucap Ummi setengah berteriak.

Rasyid berhenti dan kemudian menoleh ke arah Ummi. Ummi melempar senyum. Kemudian Rasyid berbalik dan mendekat ke arah Ummi. dengan membawa sebuah kitab di tangannya, Rasyid duduk di hadapan Ummi dengan sebuah meja ngaji di tengah keduanya. Rasyid mendongakan wajahnya menatap Ummi. Ummi masih memandang kertas kecil di tangannya. Kemudian mengangkat pandangannya ke arah Rasyid.

“Besok lusa teman Abah, Kyai Amar akan datang. Besok temani Ummi ke pasar, ya?” pinta Ummi.

Nggih, Ummi” jawab Rasyid tak pikir panjang.

“Banyak yang mau dibeli Ummi?” tanya Rasyid.

“Iya, ini dari tadi masih Ummi susun” jawab Ummi singkat.

Rasyid masih duduk di depan Ummi. kemudian dengan pelan membuka kitab yang ada di tangannya yang ia ambil dari ruang kitab. Ketika Rasyid membuka kitab, Ummi berhenti sejenak dari menulis daftar belajaanya dan sejenak memandang wajah Rasyid yang sedang membaca kitab. Ada rasa bangga dengan anaknya yang senang sekali belajar. Setiap hari tak pernah lepas dari kitab. Bagi Rasyid, kitab sudah seperti sebuah novel yang sangat menarik dan sangat membuat penasaran untuk mengkhatamkannya.

“Kamu yakin dengan pilihanmu, Syid?” tanya Ummi tiba-tiba.

Rasyid terhenti membaca kitab. Pandangannya terpaku kosong. Kemudian mengangkat wajahnya ke arah Ummi. Rasyid menghembuskan nafas panjang dengan sebuah senyum yang mengikuti. Senyum yang mengembang terus menerus. Masih belum keluar sepatah kata dari mulut Rasyid.

“Malah diem kamu ini, Syid” ucap Ummi kembali dengan nada penasaran.

Rasyid tertawa mendengar protes dari Ummi kepadanya. Rasyid kemudian menata duduknya. Rasyid tutup kitab yang ada di hadapannya dengan perlahan dan mendorongnya lebih maju di atas meja depannya. Kedua sikunya masih menempel di atas meja. Rasyid terlihat bersiap untuk menjawab.

“Dari semua yang saya lihat dan rasakan, dia sosok yang berbeda, Mi”

Ummi menyimak apa yang dijelaskan anaknya itu. Sesekali mengangguk dan memberikan senyum. Rasyid ikut tersenyum melihat senyum Ummi mengembang.

“Tapi memang Rasyid tidak bisa menebak bagaimana perasaan dia pada Rasyid?” lanjut Rasyid kepada Umminya. Ummi masih setia mendengarkan. Daftar belanjaanya sudah Ummi lupakan entah sampai apa Ummi mengingat-ingat.

“Miska memang punya pendirian yang kuat, dia tidak pernah terpengaruh apapun” ucap Ummi dengan wajah serius. Tiba-tiba saja Ummi seolah mengganti nada bicaranya menjadi lebih serius dari sebelumnya. Rasyid yang mendengar pemaparan dari Ummi setengah kaget. seorang seperti Ummi sampai mengakui tentang sifat baik Miska.

Terpikir dalam benak Rasyid tentang kepribadian Miska. Rasyid teringat kejadian di ruang tamu ketika dengan tegas Miska meminta waktu kepada keluarga Irwan untuk bisa berdiskusi dengan ibunya terlebih dahulu. Dari ucapan yang didengar Rasyid dari balik ruang kitab sangatlah jelas. Meski Rasyid tidak melihat wajah Miska secara langsung pada saat meminta untuk menunda memberi jawaban, namun sangat jelas intonasi dan juga suaranya sangatlah menunjukan kepribadian yang sangat tegas dalam pendirian. Bagaimana jika Miska memang tidak memiliki perasaan apapun kepadanya? Pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul memberi beban berpikir bagi Rasyid.

“Tapi Miska memang perempuan yang sangat baik. Mungkin 1 banding 1 juta di dunia ini seperti dia” Ummi melanjutkan penjelasannya mengenai Miska. Rasyid terbangun dari lamunannya. Kembali menatap Ummi.

“Anehnya, Rasyid hanya merasa selalu diarahkan menuju dia. Semua pertemuan tidak pernah direncanakan dan diharapkan. Jadi seolah-olah ada hal yang harus Rasyid ketahui lebih dari dia.” Papar Rasyid kepada Ummi dengan lebih serius dan mengalun.

Baca Juga  SEGARIS RAGU (VOL 13)

“Kau ini sok puitis” putus Ummi.

“Beneran ini Ummi” Rasyid membela diri.

Diikuti dengan tawa dari Ummi. Rasyid hanya tersenyum. Dia tak menyangka Ummi bisa melucu juga ketika dalam situasi serius. Ummi menggeleng-gelengkan kepalanya melihat wajah anaknya yang cemberut. Keduanya tampak kompak dengan perbincangan yang ada.

“Ya sudah di-Taarufi saja” ucap Ummi memutuskan.

“Belum berani, Ummi” jawab Rasyid dengan nada manja kepada Ummi.

“Masa Ummi yang maju” tantang Ummi.

“Jangan, biar nanti Rasyid pelan-pelan” Rasyid coba menenangkan. Ummi hanya tersenyum mendengar  pemaparan dari anaknya itu. Kemudian Ummi tampak bersiap ingin bangkit dari duduknya. Catatan belanjaan sepertinya sudah lengkap. Ummi bangkit dari duduknya.

“Ya sudah Ummi mau ke masjid” ucap Ummi kepada Rasyid yang masih duduk di depan meja ruang tengah. Ummi sudah beranjak meninggalkan Rasyid. Rasyid masih merenung. Terlintas sesuatu dalam benaknya mengenai Miska. Rasyid masih belum menemukan cara untuk bisa mengetahui bagaimana sebenarnya perasaan Miska kepadanya. Rasyid menjadi sangat was-was kalau ternyata Miska memang tidak menyukainya. Rasyid juga khawatir dengan posisinya sebagai seorang putera Kyai. Rasyid memiliki pikiran bahwa bisa saja Miska tidak menyukainya karena Miska merasa dirinya tidak pantas untuk menjadi menantu Kyai. Jawaban semacam itu bisa saja keluar dari lisan Miska yang memiliki pendirian yang kokoh. Rasyid bertambah was-was dengan hal itu. Ditambah lagi posisi Miska yang baru saja menolak lamaran Irwan. Mungkinkah Miska tidak akan nyaman menerima dirinya karena takut mendapat perhatian buruk dari banyak orang di Darul Inayah.

Rasyid mencoba menenangkan dirinya. Rasyid mencoba melapangkan dadanya. Rasyid ingat bahwa dirinya sudah terlalu terbawa ambisi. Rasyid lupa bahwa perempuan mempunyai hak untuk menerima dan menolak, maka sudah menjadi resiko bagi setiap pria di dunia ini untuk tidak diterima. Rasyid mencoba berserah diri. Semua yang akan didapatkan sudah menjadi sebuah takdir yang sangat rahasia dan tak terduga. Jika bukan Miska yang menjadi takdirnya, maka dirinya harus bisa menerima hal itu.

Rasyid bangkit dari duduknya dan beranjak menuju kamarnya. Rasyid hendak melanjutkan membaca kitabnya di kamarnya. Setelah semua yang dibicarakan dengan Ummi, ada sedikit bayangan tentang bagaimana seharusnya dirinya bersikap. Rasyid duduk di mejan kamarnya. Rasyid membuka kitab dan menenggelamkan dirinya dalam bait-bait kitab yang ada di depannya.

Ummi beranjak ke masjid untuk mencari santri yang biasa untuk menemaninya belanja. Ummi sampai di masjid dan melihat banyak santri putri yang sedang membaca beberapa buku pelajaran untuk besok pagi. Adapula beberapa dari mereka yang sedang membaca Al-Quran di beberapa sudut masjid. Ummi memanggil salah satu santri yang dekat dengannya. Dengan lambaian tangan, santri putri itu mendekat dengan menunduk pelan.

Nduk, tolong panggilkan Mbak Wati ya!” ucap Ummi kepada santri yang ada di hadapannya.

Nggih Ummi” dengan menunduk santri tersebut segera beranjak menjalankan tugasnya.

Ummi menunggu di selasar masjid dengan duduk-duduk. Beberapa santri yang melintas segera mendekat dan bersalaman dengan Ummi. namun adapula yang tidak mengetahui Ummi sedang duduk di selasar. Pakaian Ummi yang sederhana seperti santri atau pengurus lainnya membuat beberapa santri tidak menyadari Ummi ketika mereka melintas. Adapula yang menyadari pada saat selesai melintas dan dengan canggung dia kembali untuk bersalaman dan meminta maaf telah lewat sembarangan. Ummi hanya akan tersenyum melihat beberapa santri putri yang demikian.

Dari kejauhan, datanglah santri putri yang diminta Ummi memanggilkan Wati, santri yang biasa Ummi ajak berbelanja. Santri itu semakin mendekat dan akhirnya sudah berada di hadapan Ummi. dengan nafas yang masih belum teratur, santri tersebut mencoba untuk menengkan diri dan menarik nafas panjang.

“Ummi, Mbak Wati sedang tidak enak badan” sampaikan santri itu.

“Innalillahi, apa sudah berobat?” tanya Ummi kembali dengan sedikit kaget.

“Sudah, Ummi” jawab santri itu.

“Ya sudah suruh dia istirahat saja” Ummi mengakhiri.

“Nggih, Ummi” jawab santri itu dengan menunduk.

Dari arah yang lain, melintaslah tiga sahabat pengurus melintas di dekat Ummi. Miska, Tika dan Rini hendak menuju Asrama mereka. Mereka bertiga mendekat ke Ummi dan bersalaman mencium tangan Ummi satu persatu. Ummi melihat ketiganya sangat kompak menggunakan rukuh dengan sepadan. Ummi bertanya pada mereka.

“Mau pada kemana ini?” tanya Ummi kepada tiga sahabat itu.

“Ke asrama Ummi, tadi habis dari koperasi” Jawab Miska pelan mewakili kedua sahabatnya.

Ummi mengangguk dan tersenyum. Ummi selalu terkesan dengan jawaban Miska. Padahal jawaban yang sangat standar dari seorang santri sekalipun. Namun nada yang mengalun rendah membuat pendengarnya menjadi terbawa suasana.

“Mbak Rini, Bagaimana keadaannya sekarang?” Tanya Ummi kepada Rini. Mengingat kejadian kemarin antara Rini, Miska, dan Irwan, Ummilah yang menenangkan Rini. Mendengar pertanyaan itu, wajah Rini memerah dan sedikit gugup untuk menjawab.

“Alhamdulillah baik, Ummi” jawab Rini dengan sederhana dan posisi wajah yang menunduk malu.

“Syukur kalo sudah Baik” tambah Ummi.

“Miska, Besok ada acara tidak ya?” tanya Ummi kepada Miska.

Miska tampak mengingat-ingat apakah besok pagi dirinya punya janji atau acara. Dirinya ingat bahwa besok dirinya harus mengantar salah satu santri mengikuti lomba di kecamatan. Namun belum sempat membalas, Tika dan Rini menjawab pertanyaan Ummi.

“Besok pagi Mbak Miska nggak ada acara Ummi” Tukas Tika.

“Iya Ummi, kosong” Tambah Rini menguatkan pernyataan Tika. Miska yang mendengar hal itu kaget dan menatap Tika dan Rini.

“Besok temani Ummi sama Rasyid ke pasar ya?” Pinta Ummi kepada Miska.

Miska yang mendengar permintaan itu mendadak kebingungan. Kenapa dirinya yang diminta, bukannya biasanya Ummi selalu meminta Wati untuk menemani. Entahlah Miska mencoba tenang. Namun teman-temannya yang sudah kelewat usil sudah membuatnya harus mengiyakan. Disamping Miska yang diliputi kebingungan, Tika dan Rini merasa ada sebuah hal menarik yang membuat mereka tersenyum-senyum.

Nggih, Ummi” jawab Miska pelan. Diikuti senyum lebih besar dari kedua temannya. Tika dan Rini hanya menyenggol-nyenggol Miska. Sebagai godaan bahwa dirinya akan belanja dengan Rasyid.

“Soalnya Wati sedang sakit” Ucap Ummi memperjelas.

“Alhamdulillah” jawab Tika dan Rini mendengar penjelasan Ummi. Mereka tidak sadar bahwa respon mereka salah. Kabar kurang baik yang diterima malah dibalas dengan Alhamdulillah. Miska yang mendengar kesalahan mereka langsung memberikan kode bahwa mereka salah.

“Huss, salah” Bisik Miska memperingatkan.

Innalillahi” jawab mereka kompak.

Ummi yang mendengar teman-teman Miska itu hanya bisa menahan tawa dan hanya tersenyum kepada ketiganya. Kemudian Ummi pamit untuk kembali ke rumah. Ummi melempar senyum dengan menatap satu persatu. Pandangan Ummi terlihat lebih lama pada saat memandang Miska. Seolah pandangan yang lebih dalam Ummi curahkan kepada Miska. Miska hanya memandang dengan setengah menunduk untuk menghormati Ummi.

Baca Juga  Senior VS Junior di Pesantren

Akhirnya Ummi kembali ke rumah. Ketiga sahabat masih berada di selasar masjid. Tika dan Rini tertawa lepas menertawakan Miska yang berwajah merah. Mereka berdua sangat senang melihat perkembangan Miska yang semakin dekat dengan Ummi dan Rasyid.

“Kalian ini, aku besok harus mengantar kelas VII lomba di kecamatan” ucap Miska kepada kedua temannya yang sudah membuat Miska harus ikut berbelanja dengan Ummi dan Rasyid. Miska setengah berteriak kepada kedua sahabatnya itu. Sementara kedua sahabatnya itu masih tertawa dengan sangat puasnya. Mereka tidak menghiraukan pernyataan Miska. Sampai akhirnya Tika membalas apa yang disampaikan oleh Miska.

“Gampang, kan yang nganter udah banyak. Kalo perlu kita berdua yang gantiin kamu nganter lomba” jawab Tika dengan entengnya.

“Iya, itumah gampang, yang penting kamu bisa jadi” tambah Rini sembari menggoda Miska yang masih cemberut dengan ulah kedua temannya itu. Mereka berdua akhirnya melanjutkan langkah mereka menuju asrama. Sembari melangkah, kedua sahabat Miska masih saja tertawa dengan sesekali menggodanya. Mereka sampai di kamar mereka. Malam yang sudah cukup larut dan badan yang sudah lelah dalam menjalani keseharian membuat mereka ingin cepat-cepat terlelap dalam tidur. Ketika sahabat itu segera membersihkan diri dan kemudian berwudhu sebelum akhirnya bersiap untuk tidur.

Pada masing-masing kasur, mereka belum terlelap dalam tidur. Kedip-kedip bola mata masih saja bergerak. Pandangan kosong dengan tanpa percakapan membuat mereka berada dalam situasi hampa. Badan yang sudah lelah dengan mata yang masih terjaga membuat semua hal yang coba dilakukan untuk membuat tertidur masih belum bisa dicapai.

“Duh, Aku nggak bisa tidur ini” ucap Tika kepada dua sahabatanya.

“Sama” Tambah Rini dengan masih terbaring di kasurnya.

“Nanti juga merem” tukas Miska menjawab kedua sahabatnya itu.

“Mbak Mis” ucap Tika kepada Miska. Miska sudah menyelimuti badannya dengan selimut hijau miliknya.

“Ya” jawab Miska sekenanya.

“Masa sih, Nggak ada perasaan apa-apa kepada Gus Rasyid?” tanya Tika kepada Miska. Miska yang mendengar pertanyaan itu hanya bisa menatap kosong ke atas langit-langit kamar mereka. Miska tak menyangka topik ini masih menjadi perbincangan meski sudah larut malam.

“Masih mau bahas ini aja nih!” jawab Miska dengan setengah kesal. Kemudian Miska menutup wajanya dengan selimut. Kedua temannya tertawa kecil melihat Miska kesal. Keduanya tak mau berhenti untuk bertanya tentang hal itu. Rini yang dekat dengan Miska menarik selimut yang menutupi wajah Miska ke bawah sehingga wajahnya kembali terlihat. Miska ikut tersenyum mengetahui selimutnya ditarik oleh Rini. Sampai akhirnya Miska angkat bicara.

“Aku inikan santri biasa, masa iya aku sama Gus Rasyid. Ya nggak sopan!”

“Tapi mbak, dari mata Gus Rasyid, saya yakin dia suka dengan Mbak” Tika bersikeras menyampaikan.

“Dan kayaknya, Mbak Miska juga memiliki rasa kepada Gus Rasyid” Rini melengkapi.

“Sudah seperti dukun kalian ya” tukas Miska membuat kedua temannya tertawa. Kemudian suasana menjadi hening. Tidak ada yang bersuara dari ketiganya. Miska terlihat tersenyum lebih lama. Miska menarik nafas untuk bersiap memberikan pemaparan.

“Aku hanya tidak mau mencintai orang yang tidak pantas kucintai” Miska berhenti sejenak. Rini memiringkan posisi tidurnya sehingga menatap Miska.

“Apakah Gus Rasyid tidak pantas untukmu?” tanya Rini kepada Miska.

“Aku yang tidak pantas untuknya, Rin” tukas Miska.

“Tapi Gus Rasyid menyukaimu, Mbak!”

“Letak sebuah perasaan itu sangatlah di dalam. Aku tak faham apakah itu benar perasaannya atau hanya penghormatannya. Aku takut salah menafsirkan tentang perasaan. Aku saja yang bersahabat denganmu lama tak tau bahwa kau memiliki perasaan kepada Irwan. Apalagi Gus Rasyid yang baru ku kenal 3 minggu ini” Miska memaparkan.

Rini menyimak apa yang dipaparkan Miska. Meski dirinya masih sangat yakin bahwa Gus Rasyid memiliki perasaan kepada Miska, namun pernyataan Miska membuat Rini tak mampu lagi protes kepada Miska. Rini hanya tersenyum menatap wajah Miska yang teduh. Mengetahui ada yang aneh, Miska dan Rini menengok ke arah Tika yang sedari tadi tidak bersuara. Ternyata Tika sudah tertidur pulas dengan memeluk gulingnya. Miska dan Rini tertawa melihat Tika yang sudah terlelap.

“Dasar, dia yang ngajak ngobrol dia yang ninggalin tidur” ucap Rini kesal. Akhirnya Miska dan Rini kembali menarik selimut mereka untuk bersiap tidur.

Miska dan Rini masih terjaga. Tak disangka obrolannya barusan membuat mata mereka lebih segar dari sebelumnya. Seolah sulit untuk dipejamkan. Rini masih memainkan jari-jarinya menggulung-gulung selimut. Sedangkan Miska hanya terdiam. Rini seolah masih punya pertanyaan. Rini kembali menatap Miska.

“Kalo Gus Rasyid menyatakan sendiri, beda lagi persoalannya kan, Mbak?” tanya Rini dengan yakin. Pertanyaan itu seolah sangat harus dikeluarkan pada saat itu juga. Miska yang mendengar hal itu hanya bisa menunjukan senyumnya.

“Ya liat saja nanti, sudah tidur-tidur” jawab Miska sembari memalingkan badannya dari Rini. Malam benar-benar tenang untuk sebuah istirahat. Angin malam menerobos masuk melalui beberapa celah kecil pada jendela-jendela kamar pesantren. Dinginnya menggoda beberapa penghuni untuk menarik selimut lebih tinggi.

Pagi datang sebagai jawaban atas pertanyaan malam. Burung-burung beterbangan mencari jatuhnya rembulan yang lenyap seiring datangnya sinar mentari pagi yang menghangatkan. Pagi selalu ditunggu untuk sebuah pembuktian hidup. Pagi selalu dipilih untuk memulai sebuah hari. Pagi dimulai dengan semangat yang datang setelah istirahat malam yang menenangkan.

Ummi sedang memilih beberapa keranjang belanja yang akan digunakan. Banyak keranjang yang sudah rusak hingga tidak bisa lagi digunakan. Pagi ini Ummi menggunakan batik coklat dengan rok kain. Jilbab Ummi berwarna coklat sepadan dengan batiknya. Keluar dari pintu belakang rumahnya. Tak disangka, Miska sudah menunggu di depan pintu belakang rumah Ummi. Miska melempar senyum sembari menyambut Ummi dengan mencium tangan Ummi. Ummi membalas senyum Miska.

“Eh, cah ayu sudah disini rupanya” sapa Ummi akrab. Miska hanya mengangguk pelan dengan wajah malu. Tak biasanya Ummi menyapa demikian. Miska merasa dekat sekali dengan Ummi. Miska sudah beberapa kali menemani Ummi berbelanja ke pasar. Tapi tidak setiap kali ke pasar Ummi dengan Miska. Miska hanya diajak Ummi ke pasar jika membeli kebutuhan untuk membuat kue. Sedangkan untuk urusan makanan dan persediaan dapur, biasanya Ummi mengajak Wati yang sudah sangat hafal dengan dunia per-dapuran. Miska merasa Ummi sangat senang pada hari ini. Miska melihat senyum yang lebih luas dari biasanya, wajah yang lebih teduh dari sebelumnya.

Miska mengangkat tas belanjaan yang sudah disiapkan oleh Ummi. melihat Miska yang inisiatif mengambil tas belanjaan, Ummi merasa sangat kagum. Ummi kagum dengan hati Miska yang sangat baik. Kemudian Ummi dan Miska bersiap untuk berangkat. Dari dalam dapur ada seseorang memanggil nama Ummi.

Baca Juga  SEGARIS RAGU (VOL 6)

“Ummi ayo, mobil sudah siap” suara itu muncul dari dapur dan keluarlah orang yang memiliki suara itu dengan tiba-tiba. Rasyid keluar dengan wajah yang datar. Seketika wajah datar itu menjadi sangat merah melihat Ummi bersama dengan Miska yang sudah memegang tas belanjaannya. Rasyidpun hanya bisa diam dan tak bersuara. Ummi yang melihat perubahan wajah anaknya langsung tersenyum dan menahan tawa.

“Sudah nanti saja nanyanya, sekarang ayo berangkat” ucap Ummi dengan yakin kepada Rasyid. Kemudian mereka bertiga bergegas berjalan menuju parkiran mobil. Rasyid masuk terlebih dahulu ke kursi pengemudi. Miska dan Ummi hendak masuk ke mobil, tiba-tiba ada seorang perempuan yang setengah berlari mendatangi mereka. Perempuan itu sampai di dekat mobil langsung menyampaikan sesuatu.

“Ummi” ungkap perempuan itu. Ternyata Wati yang menghampiri Ummi.

“Wati, katanya kamu sakit?” tanya Ummi penasaran.

“Sudah sehat, Ummi. Saya boleh ikut belanja Ummi?” jawab perempuan itu semangat.

“Kamu benar sudah sehat? Tanya Ummi kembali meyakinkan.

Nggih Ummi” Wati menjawab singkat sembari mengangguk.

Ummi tampak berpikir. Ummi merasa kasian dengan Wati yang baru sembuh dari sakit. Namun dari wajah Wati, Ummi melihat bahwa Wati sangat ingin sekali ikut berbelanja. Belanja sudah sangat dekat sekali dengan Wati. Wati selalu bersemangat jika Ummi ajak berbelanja. Ummi merasa harus mengajak Wati. Ditambah lagi, Wati selalu bisa menemukan barang belanjaan yang dicari dengan cepat. Wati hafal pasar dari satu sudut ke sudut lain.

Melihat Ummi yang sedang berpikir, Miska menganggap bahwa Ummi tidak enak menolak Wati karena ada dia. Miska berinisiatif untuk mengundurkan diri dan mempersilahkan Wati ikut ke pasar. Dengan perlahan, Miska menatap Ummi.

“Kalo Wati sudah sembuh, Saya ndak jadi nggak apa-apa kok, Ummi”

Ummi tersenyum mendengar perkataan Miska. Mesti anggapan Miska tidak benar, Namun Ummi merasa Miska sangat perhatian dan selalu menyesuaikan diri. Miska selalu menjadi orang yang selalu mengalah.

“Ndak usah, Ayo semuanya masuk mobil” ucap Ummi menenankan keduanya. Akhirnya Ummi, Miska dan Wati berangkat bersama menuju pasar. Pagi ini terlihat cukup mendung dengan beberapa awan gelap yang sudah menggantung. Meski ada kemungkinan akan turun hujan, namun semua barang haruslah dibeli untuk persiapan menyambut tamu.

Mobil melaju meninggalkan Darul Inayah. Pasar yang dituju letaknya tidak terlalu jauh dari Darul Inayah. Ummi biasanya menggunakan becak untuk pulang pergi dari Darul Inayah. Namun karena banyaknya belanjaan yang akan dibeli, maka harus menggunakan mobil. Mobil masih melaju di atas aspal. Beberapa saat setelahnya, Mobil sudah sampai di area pasar. Parkiran mobil diparkir cukup jauh dari pasar. Ummi dan rombongan harus berjalan kaki dari parkiran mobil ke pasar sekitar 150 meter.

“Miska, kamu cari buah ya. Ini daftarnya” ucap Ummi sembari menyodorkan daftar belanjaan. Letak toko-toko buah terpisah dengan belanjaan lain. Miska mengangguk dan menerima daftar yang diserahkan Ummi. Ummi dan Wati menuju kios daging dan sayur. Akhirnya mereka berpisah. Rasyid mengikuti Ummi dan Wati ke kios daging dan sayur sedangkan Miska seorang diri menuju Kios buah-buahan. Sesampainya di kios daging, Ummi ingat sesuatu.

Astagfirullah, Ummi kok lupa” ucap Ummi kepada Wati dan Rasyid.

“Ada apa Ummi?” tanya Rasyid memastikan.

“Ummi lupa nggak ngasih uang sama Miska” jawab Ummi. kemudian membuka dompet kecilnya dan mengambil beberapa uang dari dompetnya dan menyerahkan kepada Rasyid.

“Ini kamu anterin ke Miska, Syid” pinta Ummi kepada Rasyid. Rasyid yang mendengar hal itu langsung melotot dan memerah. Dengan malu akhirnya Rasyid menerima uang itu. Kemudian saling melempar senyum, Ummi meninggalkan Rasyid sendiri. Ummi sudah beranjak pergi dengan Wati.

Rasyid melangkah ke arah kios buah mencari Miska. Langkahnya dipercepat melihat langit yang semakin mendung. Sampai di deretan kios buah Rasyid masih belum menemukan Miska. Rasyid menelusuri dan kemudian berbelok pada beberapa blok. Akhirnya Rasyid melihat Miska yang sedang memilih buah semangka. Dengan perasaan gugup Rasyid menghampiri. Langkahnya mendadak gemetar.

Rasyid sudah berada di dekat Miska. Terdengar suara Miska yang lembut sedang menanyakan harga semangka. Miska juga terlihat memilih-milih semangka yang ada di depannya. Kemudian dengan perlahan Rasyid menyapanya.

“Sudah dapet? Ini Uangnya aku bawa, nanti nggak bisa bayar, bingung” ucap Rasyid menyadarkan Miska.

“Ini masih milih-milih Gus” jawab Miska kepada Rasyid sembari masih memilih-milih.

Akhirnya Miska memilih dua buah semangka seperti yang tertulis pada daftar yang diberikan Ummi kepadanya. Rasyid sendiri yang memberikan uangnya kepada penjual. Kemudian Miska mencoba mengangkat dua buah semangka besar, Rasyid yang melihat Miska terlihat keberatan mengangkat akhirnya membantu dan meminta agar Rasyid saja yang membawa. Jadilah Rasyid membawa semangka sedangkan Miska membawa daftar belanjaan buah-buahan. Pemandangan seperti itu terus menerus sepanjang kios. Miska dan Rasyid tampak bersama menyusuri beberapa kios. Dari kios satu ke kios lainnya. Dari mulai penjual semangka, jeruk, apel, hingga kelengkeng mereka datangi untuk memenuhi daftar yang ditulis oleh Ummi. kebersamaan yang tidak terduga. Keduanya tampak biasa. Tidak ada rasa canggung yang seperti biasanya. Rasyid lebih bisa menguasai diri berada di dekat Miska. Bahkan rasyid beberapa kali melucu untuk memancing tawa Miska.

Akhirnya, Semua belanjaan buah-buahan sudah berada ditangan Miska dan Rasyid. Keduanya beranjak menuju pintu keluar kios buah-buahan. Belanjaan yang cukup banyak membuat mereka harus berlajan lebih lambat. Baru melewati beberapa kios, hujan lebat turun dengan tiba-tiba. Kios buah yang terpisah dari kios-kios lainnya membuat Miska dan Rasyid tertahan tidak bisa menuju kios lain untuk bertemu Ummi. Mereka hanya bisa menunggu reda pada kios buah-buahan.

Masih dengan membawa beberapa buah di kedua tangan mereka, Rasyid dan Miska terdiam memandangi hujan. Mereka berdua menikmati hujan yang jatuh satu demi satu. Pemandangan beberapa pedagang yang termenung membuat suasana pasar menjadi sangat berbeda. Ditambah lagi perasaan aneh yang mulai menjalar pada keduanya. Rasyid merasakan keramahan Miska yang membuatnya merasa tenang. Sedangkan Miska mulai merasakan derit-derit rasa kagum dengan Rasyid, seorang gus yang mau dengan repot menjinjing belanjaan. Seorang Gus yang dengan tenangnya memberikan bantuan. Rasyid masih memandang hujan yang turun dengan senyumnya. Tanpa disadarinya, keluar sebuah ucapan yang tak terduga. Sebuah ucapan yang membuat Miska sesak seolah ada sesuatu di nafasnya.

“Tuhan bisa saja membuat kita bertemu ya”

 Hujan semakin deras. Jatuh membawa semua suasananya. Suasana tenang langit yang serta merta menyelimuti kesibukan bumi. Ada sebuah energi yang dibawa hujan secara pasti pada setiap tetesnya. Energi yang membuat rasa tenang dan kedamaian. Menyaksikan hujan sembari menikmati perasaan. Di bawah hujan dengan tenang mereka tenggelam men-tahmid-kan perasaan.

****

sudah tinggal 1 vol lagi. terima kasih sudah membaca, yuks kasih komentarmu.

Bagikan

39 thoughts on “SEGARIS RAGU (VOL 14)

Tinggalkan Balasan