Alasantri

SEGARIS RAGU (Vol 1)

By Addaury

Perempuan ayu itu terduduk di selasar masjid pesantren dengan kaki yang dilipat ke belakang. Mushaf kecil dipeluknya dengan lembut. Mukena putih dengan pinggiran emas masih melekat di tubuhnya sejak shubuh tadi. Warna merona di langit sudah semerbak membias pada sisinya. Perempuan itu masih dengan syahdunya mengucap beberapa hafalannya dengan pelan dan merdu. Sementara itu santri lain berada di dalam masjid untuk menambah hafalan mereka. Selasar masjid sebelah kanan, tempat itu memang sudah menjadi tempat langganan bagi perempuan itu. Di depannya sudah langsung menghampar persawahan yang luas milik Pak Kyai dan juga para petani. beberapa padi telah ranum menguning. Perempuan itu masih asik dengan ritual paginya.

Beberapa santri putri terlihat keluar dari masjid menuju asrama masing-masing. Pagi itu mereka harus segera bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Terlihat berbondong-bondong dengan mukena meraka yang beragam sekilas seperti kapas yang dihempas angin, beterbangan menuju banyak arah. Mereka menuju asrama masing-masing. Para pengurus berdiri tegak di pintu masjid mengamati para  santri putri yang berlalu. Perempuan ayu yang berada di selasar masjid itu masih asyik dengan dunianya. Suara gerudug kaki para santri putri sama sekali tidak mengganggunya untuk tetap melafalkan hafalannya.

Dari kejauhan seorang perempuan datang dengan sarung motif bunga berwana kalem khas Pekalongan, kaos lengan panjang, dan jilbab merah ranum. Perempuan itu semakin dekat menghampirinya. Langkahnya berangsur-angsur pelan.

“Mis…miska…” sembari masih berjalan ia berteriak ke arah perempuan ayu itu.

Perempuan itu menoleh dengan pelan. Mulutnya masih mengucap beberapa akhir ayat dalam hafalannya.

Wajah ayu-nya yang teduh terkena sinar halus mentari pagi. Sinar yang terefleksi pada kuning padi membuat sinar itu seolah make-up yang sangat indah terbias di wajah ayu itu.

“Dipanggil Abah, Mis” sambung perempuan yang berjalan menemuinya itu.

Baca Juga  DUNIA KULIAH DAN SANTRI

Perempuan ayu yang biasa dipanggil Miska itu kemudian menyudahi bacaannya dan mengakhiri dengan mencium mushaf kecilnya dengan lembut. Kemudian Miska berjalan mengikuti perempuan yang memanggilnya. Abah merupakan panggilan akrab semua santri yang ada di pesantren itu kepada Pak Kyai. Bagi mereka Abah sudah seperti sosok ayah.

Miska masuk ke sebuah ruangan yang penuh dengan kitab dan buku-buku yang tertata dengan rapi. Miska sangat dekat dengan Abah dan keluarganya. Miska selalu menjadi orang yang diingat Abah dalam urusan-urusan keluarga dan juga pesantren. Miska selalu menemani Ummi (Istri Abah) berbelanja ke pasar, membuatkan kopi, sampai urusan santri putri semuanya Abah tanyakan kepada Miska.

Di ruangan itu, Abah sedang duduk di kursi dengan sebuah kitab di tanganya. Miska masuk dengan pelan dan menunduk. Dengan lembut Miska mendekat sembari mengucap salam.

Assalamualaikum, Abah memanggil saya?” ucapnya dengan lembut.

Abah yang masih membaca kita seketika menoleh dan tersenyum lebar.

Waalaikum salam, Miska. Alhamdulillah.” Jawab Abah dengan senyum yang masih melekat.

Nduk, anak Abah yang terakhir pulang dari Mesir selama 2 bulan. Sekarang sedang dijemput Pak Saman. Tolong bersihkan kamarnya ya” dengan lembut Abah meminta tolong pada Miska.

“Kamar yang di belakang, Bah?”

“Iya, Minta tolong ya”

Nggih, Bah”

Miska berlalu keluar dari ruang kitab abah, menuju ruang tengah. Di ruang tengah itu ada meja yang di pasang di pinggir ruangan. Biasanya di tempat ini dipakai untuk mengaji santri-santri senior seperti Miska dan teman-temannya. Miska berjalan melewati ruang tengah menuju lorong yang menghadap langsung ke sebuah pintu kamar. Kamar itu biasanya digunakan oleh tamu-tamu dari kalangan keluarga.

Miska sudah sering membersihkan kamar ini. Jadi dia sudah faham apa saja yang harus dibersihkan dan apa saja yang cukup dirapikan saja. Miska masuk ke ruang itu. Dengan pelan Ia membuka gagang pintu yang ada di depannya. Kamar ini masih tidak berubah. Berukuran kecil dengan satu ranjang kecil, satu meja belajar lengkap dengan kursinya, serta sebuah lemari yang hanya terisi dua sajadah dan 3 helai sarung. Di ruang ini hanya ada foto anak-anak Abah. Abah memiliki 3 orang anak. Dua anak perempuan yang sudah berkeluarga dan 1 anak laki-laki yang di Mesir. Anak Abah yang akan pulang memang sudah lama tidak pulang. Sejak lulus SMA anak Abah berangkat ke Mesir tidak untuk langsung berkuliah. Ia kembali mondok di Mesir untuk beberapa tahun dan kemudian barulah masuk Jamiah Al-Azhar. Ini adalah tahun ke 3 dia di Al-azhar dan memutuskan untuk pulang telebih dahulu ke tanah air. Miska belum pernah melihat Anak Abah karena ia baru 3 Tahun di Pesantren ini.

Baca Juga  73 TAHUN, SANTRI MARI TERUS BERPERAN

Miska merapikan Sprei yang ada di atas kasur dengan menarik semua sisi-sisinya dan melipatkannya ke bawah kasur. Lemari masih kosong jadi tidak dia sentuh sama sekali. Miska mengambil kemoceng untuk membersihkan debu-debu yang ada di meja belajar. Kemudian dia membuka tirai jendela untuk membersihkan debu-debu yang ada di pinggiran jendela. Dari jendela itu terlihat sisi masjid dan persawahan. Miska melihat tempat biasa dia mengaji. Setelah semuanya selesai ia bersihkan, Miska kembali mengecek semua yang telah dia kerjakan sebelum meninggalkan ruang itu. Setelah semua terlihat selesai, barulah Miska meninggalkan kamar itu dan pamit kepada Abah.

Miska kembali ke kamarnya di asrama Khadijah. Semua santri sudah pergi ke madrasah. Kamar Miska berada di pojok bersama dengan teman-teman senior lainnya menjadi pengurus bagi santri putri yang ada di asrama Khadijah. Miska masuk ke kamar. Di kamarnya, dua temannya sedang bersih-bersih kamar. Rini, perempuan asal boyolali yang seumuran dengan Miska sedang menyapu. Adapula Tika, Perempuan Sunda asal Tasikmalaya yang lebih muda 1 tahun dari Miska sedang mengelap kaca jendela. Mereka sudah bersahabat lama.

“Dari mana kamu, Mis? Tanya Rini yang sedang menyapu sela-sela lemari sembari menengok ke arah Miska.

“Dari rumah Abah, diminta bersih-bersih” jawabnya singkat.

“Cie yang mau diangkat jadi menantu” sambung Tika ikut dalam obroloan menggoda Miska sembari masih mengelap kaca kamar mereka.

Baca Juga  Senior VS Junior di Pesantren

“Hey, jangan menggodaku!” sanggah Miska dengan pipi merona.

“Kan, anak Abah mau pulang” tambah Rini ikut menggoda Miska.

“Sudah-sudah, ayo lanjutkan! yang bersih nyapunya!”

Nggih Bu Nyai” Diikuti tawa Rini dan Tika. Sementara itu Miska berjalan menuju lemarinya untuk melepas mukenah yang masih dipakainya. Sampai di depan lemarinya, Miska ingat akan sesuatu tang terlupakan.

Astagfirullah, Al-Quranku ketinggalan di rumah Abah” Miska bergegas segera kembali menuju rumah Abah. Dengan agak berlari Miska sudah berada di dekat rumah Abah. Ketika dia hendak masuk, ternyata di dalam rumah sudah ramai dengan suara-suara keluarga Abah. Anak Abah ternyata sudah datang dari Mesir. Miska kebingungan. Apakah dia akan minta izin untuk masuk mengambil Al-Quran di kamar anaknya. Ataukah dia harus diam-diam masuk lewat pintu belakang.  Semua pilhan itu membuat Miska bertambah bingung dan dilematis. Akhirnya, Miska memutuskan untuk kembali ke Asrama masih dengan perasaan khawatir. Al-Quran pemberian almarhum ayahnya tertinggal di kamar Gus-nya yang baru pulang dari Mesir. Miska memutuskan untuk mengambilnya di lain waktu. Sangat tidak sopan jika Ia mengganggu Abah dan keluarga pada saat-saat seperti ini. [Bersambung]

Next Volume (vol 2)

Bagikan

19 thoughts on “SEGARIS RAGU (Vol 1)

Tinggalkan Balasan