Bagikan

Pada kelas berapa kamu berani pulang sendiri?

Merantau ke pesantren adalah sebuah ihtiar yang sangat luar biasa yang dilakukan oleh seorang anak. Meninggalkan rumah untuk waktu yang tidak sebentar, jarak yang tidak dekat, serta zona yang di luar dari kebiasaannya. Tahapan besar ini tentulah tidak serta merta dilepas tanpa ada bimbingan dari orang tua. Orang tua biasanya mengantar beramai-ramai ketika pertama masuk pesantren sembari sowan kepada kyai untuk memasrahkannya. Setelah beberapa bulan barulah santri mulai dijenguk dan bahkan ada yang diperbolehkan untuk izin pulang.

Tradisi pulang pesantren adalah tradisi yang unik dan bermakna bagi santri. Selain sebuah momen pelampiasan akan rasa rindu yang telah ditabungnya beberapa bulan, pulang juga menjadi pembuktian kemandirian. Biasanya santri-santri tsanawiyah baru ketika musim libur, orang tua datang menjemput meski lokasi mereka beda kota bahkan beda provinsi hanya untuk menjemput anaknya. Diantara para orang tua yang menjemput, pasti ada saja orang tua yang sudah yakin bahwa anaknya mampu untuk pulang sendiri.

Pulang tanpa dijemput keluarga memiliki sensasi sendiri apalagi rumah kita berada di luar kota. Mencari tiket yang sesuai, memilih moda transportasi, serta mencari teman barengan mulai digalakan menjelang minggu kepulangan. Bagi mereka yang menggunakan moda transportasi pesawat mungkin lebih tanang dalam perjalanan yang bisa sangat singkat, namun was-was tertinggal pesawat atau salah terminal keberangkatan. Tidak lupa pula memikirkan bagaimana nanti setelah mendarat untuk menuju rumah.

Baca Juga  Santri Membaca Zaman: Percikan Pemikiran Kaum Pesantren

Bagi yang memilih moda transportasi kereta, ada perasaan was-was akan terlewat stasiun yang ditujunya ditambah kantuk sering sekali melanda. Rasa canggung terhadap penumpang lain yang kebetulan bersebelahan. Interaksi masih sangat minim hanya sekedar bertanya mau kemana dan dari mana?

Transportasi bis banyak sekali dipilih karena banyak hal, ada yang berlasan rumah mereka masuk dalam jalur, jadi bisa langsung turun depan rumah. Adapula yang harus menambah ojek dari stasiun atau bahkan dijemput oleh keluarga di stasiun atau terminal.

Setelah melewati masa-masa berat untuk bisa pulang ke rumah, melihat senyum orang tua yang ada menjadikan sebuah reward tersendiri bagi santri yang pertama kali pulang ke rumah mereka. Ditambah kagi, biasanya makanan enak kesukaan sang anak sudah disiapkan oleh orang tua untuk menyambutnya.

Bagikan