Bagikan

Pembacaan Selawat diiringi musik rebana pada malam Jumat menjadi kegiatan rutinan di mayoritas pesantren. Paling terkenal yang sering dibaca adalah kitab Maulid Diba’, sehingga kegiatan selawatan ini, santri biasa menyebutnya dengan diba’an. -santri nyeleneh-

“Liat-liat, dia daritadi komat kamit sambil merem. Kok hafal ya,”

“Ini sudah pertengahan lho, wah keren”

“Edan, gerak mulutnya aku perhatiin daritadi nggak ada yang salah.” Para santri putra mulai saling berbisik ngerasani santri satu itu.

Memang menjadi hal wajar ketika ada santri yang menghafal bacaan diba’. Karena kebiasaan mendengar dan membacanya, jadi otomatis mereka mudah mengingat. Namun, biasanya yang sering dihafal santri ya bacaan-bacaan awal sebelum bacaan fahtazal. Selepas mahalul qiyam jarang sekali yang hafal bacaannya. Kayaknya sih, karena pada fokus diba’annya di awal-awal aja.

“Wah edan itu bocah, joss. Sini yang lebih sepuh dari dia di pondok ini aja, nggak sehafal itu.”

Santri yang sedang dibicarakan teman-temanya itu tetap merem sambil khusyuk melafalkan bacaan diba’ dengan mata menutup. Namun, tiap sampai syiir diba’ yang dilagukan dengan menggunakan musik rebana, matanya langsung terbuka, dan ia sangat bersemangat dan asik menikmati syiir sambil goyang seasiknya sendiri.

Seringkali teman-teman asramanya sengaja menghidupkan musik untuk memancing ia berjoged. Musik yang diputar dari kotak musik mp3, lalu disambungkan melalui pengeras suara di tiap gedung asrama. Tapi, buat ngerjain si santri nyeleneh satu ini, para santri menghidupkan musik tanpa disambungkan ke pengeras suara gedung.

Baca Juga  Serbi-Serbi Halalbihalal Alasantri

“Coba-coba pilih musik dangdut koplo,” saran Ulil, pimpinan aliansi santri jail di asrama putra.

Anehnya, setiap kali musik dangdut diputar, ia tidak joged sama sekali. Kalau irama selawatan, dia langsung joged.

“Dia jogednya kalau pas kita putar selawat aja lho. Berarti emang dia joged spesialis musik selawatan.”

“Bagus dong. Kita lho bisa seneng, tresno sama kanjeng Nabi hanya dari risalahnya, dan dari kisah-kisah tentang kanjeng Nabi yang kita baca itu sudah joss banget,” sergah Umar.

“Lah tapi masa mencintai kanjeng Nabi dengan cara joged? Bener-bener gila itu bocah,”

“Sudah, sudah. Kasihan dia lho, dirasani terus.” Umar berusaha menyudahi tingkah jail teman-temannya.

“Taaa tapi, Mar”

“Begini, dalam kitab Uqala al-Majaaniin karya Abu al-Qasim an-Naisaburi, kitab tersebut berisi kisah-kisah kebijaksanaan orang-orang yang dianggap gila. Disimpulkan bahwa, anggapan gila pada seseorang tidak otomatis menujukkan bahwa yang ditunjuk adalah orang gila. Terkadang, orang yang dianggap gila tersebut justru orang yang benar dan baik,” lanjut Umar, santri paling terkenal bijak di asrama putra.

Rupanya, tak lain halnya di asrama putri. Digandrungi santri putri bukan karena ketampanan laiknya Nabi Yusuf, santri nyeleneh itu terkenal di kalangan mereka karena keunikannya. Setiap di pondok pesantren digelar selawat akbar, yang mana bagian santri putri dan putra hanya disekat satir, kalau ada santri yang setengah berdiri pun sudah tentu keliatan.

Baca Juga  SATE JAHAT

“Hei liat, ada anak putra itu lagi,”

“Waktu pulang kemarin, kakakku di rumah cerita tentang dia. Ceritanya asik banget, sering dikerjain temen asrama, bikin temen-temennya ketawa terus. Dia kalau di asrama putra dipanggilnya Kang Gayeng. Tapi aku lupa nanya nama aslinya siapa,” cetus Salma, yang kebetulan adik kandung Ulil.

Tak heran, di kalangan santri putra memang sudah biasa panggilan dengan laqob yang diberikan oleh teman-temannya. Laqob atau julukan tersebut biasanya melekat pada santri dengan kebiasaan yang ada pada dirinya.

“Kok Kang Gayeng, Sal?” sahut santri putri bersamaan.

“Dia itu, tiap denger musik selawatan langsung joged, dan jogednya gayeng banget. Gayeng itu bahasa Indonesianya, menyenangkan. Asik gitu deh. Ngomong-ngomong, dia itu seangkatan sama kita lho.”

“Iya bener juga sih ya. kita aja yang liat dari jauh gini terhibur. Berarti dia itu enak ya, udah nggak pernah nyakitin hati temen, malah yang ada bikin kita terhibur terus.”

Sampai santri putri angkatan Salma lulus, tidak ada yang tahu siapa nama Kang Gayeng sebenarnya. Setiap reuni angkatan putra putri, mereka selalu mencari Kang Gayeng, tapi tidak pernah jumpa lagi. Laqob yang diberikan anak-anak putra melegenda sampai mereka sudah menjadi alumni.

Konon, ada yang pernah menjumpai Kang Gayeng di daerahnya, dan sekarang sudah jadi Kiai kampung. Bahkan, ia punya kekuatan menyembuhkan orang-orang sakit di kampungnya, hanya dengan membaca selawat. Sepertinya, benar-benar berkah selawatan selama dia di pondok.

Baca Juga  Essay Competition Syekh Nawawi Award

Tulisan: Luluerzed

Bagikan