Bagikan

Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia,

mengakoe bertoempah darah jang satoe,

tanah Indonesia.

Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia,

mengakoe berbangsa jang satoe,

bangsa Indonesia.

Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia,

mendjoendjoeng bahasa persatoean,

bahasa Indonesia.

sumpah pemuda

                         source; Bangsaku.web.id

Begitulah bunyi dari sumpah pemuda yang sudah biasa kita dengar pada setiap tanggal 28 Oktober di setiap tahunnya. Peringatan sumpah pemuda dibuat untuk mengenang sebuah kejadian yang sangat bernilai bagi bangsa Indonesia khususnya kaum muda. Pada tanggal tersebut di tahun 1928 diadakan sebuah kongres pemuda yang kedua di Batavia tentang sebuah harapan dan ide tentang sebuah bangsa Indonesia. Peringatan sumpah pemuda sendiri baru ditetapkan pada tahun 1959.

Dalam memperingati supah pemuda, para pemuda hampir pasti secara lantang dan bersama-sama mengucapkan sumpah pemuda itu. Sebuah kalimat persatuan yang tidak biasa, tiap baitnya mengandung arti dan makna yang cukup mendalam. Kalimat-kalimat penuh historis itu masih sangat perlu untuk kita kaji sebagai bahan refleksi bagi kita di masa yang sekarang.

Para pemuda dahulu memahami betul bahwa mereka dari latar belakang yang berbeda, mereka datang dari suku yang berbeda, terlebih lagi mereka datang dari agama yang berbeda. Mereke memahami betul perbedaan-perbedaan sebagai sebuah kebhinekaan yang mengagumkan. Pemuda-pemuda saat itu tidak terlalu memusingkan sebuah perbedaan dengan sangat tegas mendeklarasikan bahwa mereka itu berbangsa satu, yaitu bangsa Indonesia.

Baca Juga  TIPE-TIPE KARAKTER SANTRI

Mengutamakan kesatuan dan menikmati perbedaan rupanya tidak kita lihat saat ini. Banyak sekali Indonesia yang saat ini fokus pada perbedaan, bahkan menjadikan sebuah bahan peledak kebersamaan. Semangat pemuda-pemuda yang mengesampingkan egoisme kelompok dan menjunjung kebersamaan seolah semakin meluntur dari masa-kemasa, kita tidak lagi menikmati perbedaan sebagai sebauh keberagaman. Saat ini negara kita terlalu terkotak-kotak, kita berbeda tim sepak bola, kita berbeda, pilihan partai, kita berbeda tokoh idola, hingga kita benar-benar berbeda yakin bahwa kita tak memiliki kesamaan. Sikap egoism individu dan egoism kelompok muncul begitu ekstrim, sampai lupa kita tetap sama dalam jaket bangsa, bangsa Indonesia.

Para santri yang tinggal di pesantren pastilah mengalami perbedaan yang sangat majemuk kala mereka ditempatkan dalam kamar dengan teman-teman yang sangat beragam, tidak hanya beragam warna kulitnya, tapi juga beragam daerah mereka berasalnya. Masa-masa menjadi santri baru pastilah menjadi masa yang cukup berkesan dimana banyak sekali konflik yang terjadi antara pertemanan dan juga beberapa kelompok. Hingga mereka memasuki tahun terakhir di pesantren, tidaklah lagi terasa apa yang dinamakan perbedaan diantara mereka. Yang lebih menarik adalah apakah mereka kehilangan asal-usul daerah mereka, jawabanya pasti tidak karena mereka tetap menjadi orang dari dimana mereka berasa.

Pesantren memiliki sistem yang membuat perbedaan bisa diredam dengan sangart baik, meski tidak dengan menghilangkan perbedaannya, hal ini sudah sangat terbukti dengan minimnya perkelahian antar kelompok pesantren. Pada akhirnya, pesantren memiliki sebuah sistem yang sesuai dengan nilai-nilai sumpah pemuda yang masih sangat dijaga di kalangan pesantren hingga saat ini. Namun apakah para santri sudah menyadari itu semua? pastinya mereka menyadari, dimana para santri sudah bukan orang baru yang selalu menjunjung persatuan.

Baca Juga  Gebyar Muharroman Ala Santri

SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA

DARI KAMI PARA SANTRI

Bagikan