Bagikan

Tidak asing lagi bahwa pesantren didefinisikan sebagai lembaga pendidikan dengan fungsi antara lain melakukan transfer ilmu-ilmu agama dan nilai-nilai keislaman. Pesantren sebagai lembaga yang mampu melakukan kontrol sosial di dalamnya dengan menjadi media yang tepat untuk membentuk karakter manusia, juga terbukti telah memberikan pendidikan yang mampu menyentuh sisi kognitif, afektif, dan psikomotorik santri.

Dalam pesantren tidak hanya dibekali seperangkat pengetahuan tentang nilai-nilai moral etika keislaman, tetapi ritme pesantren dalam kehidupan kesehariannya telah memberikan pengalaman praktis terkait implementasi dan refleksi terhadap ilmu-ilmu yang diberikan. Salah satunya adalah lingkungan pesantren memperkenalkan beberapa praktik kesehariannya dalam upaya membentuk pribadi antikorup. Usia para santri yang rata-rata berumur kisaran belasan tahun merupakan usia dalam masa pembentukan jati diri. Di sini adalah waktu yang sangat tepat untuk membentuk pribadi qur’ani pada santri.

Sourch : google

Negeri kita tercinta ini yang mayoritas penduduknya beragama Islam, mengalami persoalan korupsi yang sangat miris. Kenyataannya moral korup umat Islam bumi pertiwi ini masih sangat tinggi. Apabila diinventarisir dan didata secara seksama, pelaku korupsi dalam kursi pemerintahan masih banyak dilakukan oleh para pemimpin juga wakil rakyat dengan keterangan dalam KTP nya beragama Islam, bahkan tidak sedikit pula adalah bagian dari mereka yang sudah mendapat gelar Haji. Miris bukan? Sedikit menengok  saja, mari kita kembali ke pembahasan ritme keseharian pesantren dalam upaya menangkal  korupsi.

Baca Juga  Memahami Metode Belajar Khas Santri

Apa sih yang menjadikan seseorang itu korupsi? Benar bahwa lahirnya korupsi dikarenakan adanya pribadi yang korup dan yang menjadi sifat manusia yang mendasarinya adalah ketidakjujuran. Santri dalam kesehariannya telah dikenalkan dengan hal-hal kecil, dalam contohnya, seperti saat mengambil jatah makan pondok, santri selalu dibiasakan dengan budaya antre dan mengambil jatah lauk sesuai porsi yang telah ditentukan. Tersebut merupakan contoh untuk tidak korupsi mengambil jatah porsi orang lain. Contohnya lagi, terkait perizinan pulang. Santri selalu dibiasakan dengan kedisiplinan waktu. Saat mendapat izin pulang dengan waktu yang ditentukan, misalnya satu minggu, dan jika lebih dari itu akan mendapat ta’zir atau denda seperti membawa semen atau uang denda terlambat. Bukan apa, demikian merupakan usaha untuk menjadikan santri tidak korupsi waktu.

Masih sangat banyak contoh-contoh kecil lain dalam kesehariannya santri, seperti dalam mengelola koperasi pondok, tanggung jawab dalam penggunaan hak milik (tidak ghosob), mengatur uang saku, dan lain sebagainya. Lingkungan dan kehidupan paska pesantren adalah dunia nyata yang akan dihadapi dan akan menguji seperangkat nilai moral dan etika keislaman yang  selama ini kita dapatkan di pesantren. Apabila kita telah mendapat modal kepribadian yang telah dibentuk sejak dini dengan membentuk diri dengan jiwa qur’ani yang mana telah dibentuk dalam proses selama hidup di pesantren, maka tersebut akan menjadikan proses alamiah dalam diri kita paska pesantren nanti untuk melangsungkan peran di masyarakat.

Baca Juga  Segaris Ragu (Vol 9)

Tulisan ini untuk memperingati Hari Anti Korupsi yang ditetapkan di Indonesia pada tanggal 9 Desember.

Bagikan