Bagikan

Pagi datang dengan cepatnya, menghapus semua lelah yang dibawa pulas dalam malam. Pagi selalu siap datang meski mereka akan terlambat melihatnya, ia tetap hadir bagi mereka yang siap menerimanya. Pagi selalu mengesankan, mengingat-ingat bunga mimpi yang mungkin lewat atau tinggal pada sebongkah ingatan, atau malah sudah terlukiskan dengan sungguhan. Pagi selalu saja memberikan kejutan saat semua berharap akan sebuah hari penuh jawaban, ia malah beri kembali beberapa pertanyaan.

Pagi itu Lana terlihat berbinar melihat kedua sahabatnya masuk ke kamar setelah ngaji subuh, Lana memang sudah menunggu keduanya karena ada hal yang ingin ia ceritakan kepada keduanya tentang mimpinya semalam. Puput salah satu dari mereka sudah terlihat keheranan melihat Ning-nya sangat berbinar wajahnya kala dirinya dan Linda masuk ke kamar.

“Mbak Puput dan Mbak Linda, duduk sini, ada yang mau aku ceritain, nih” papar Lana dengan wajah cerianya, meski cuaca di luar cukup dingin, Linda dan Puput merasakan hangat suhu kamar dan senyuman Lana yang lama tidak mereka lihat semerekah ini.

“Ada apa toh, Ning, Kok tumben?” tanya Linda dengan penuh keheranan sembari menghamparkan sajadahnya, kemudian duduk di sebelah kanan Lana.

“Aku mau cerita, tentang mimpiku semalam, yang mungkin ini jawaban atas doa dari kebingunganku” Lana menyampaikan mimpinya kepada kedua sahabatnya yang juga santrinya itu. Mereka berdua terlihat sangat antusias mendengar cerita dari Ning-mereka. Dengan sangat seksama, keduanya mendengarkan cerita tentang mimpi Lana semalam. Beberapa kali terlihat salah satu diantara mereka tersenyum dengan sendirinya.

Tuhkan, memang Kang Anam juaranya” teriak Linda kepada keduanya dan membuat suasana menjadi pecah, diikuti tawa Lana. Puput yang memang menjagokan Hisyam hanya terdiam dan memasang wajah cemberut. Linda masih terus-terusan bergembira dan mengejek Mbak Puput yang masih terdiam kesal dengan ceritanya.

“Udah fix nih, Ning. Nggak mau tidur lagi Ning? Siapa tau nanti mimpi lain lagi?” Puput menggoda Lana membela Hisyam yang menjadi andalannya. Lana dan Linda hanya tersenyum melihat tingkah Puput yang seperti memelas-melas. Lana kemudian diam dan setelah tawanya reda, kemudian dia tatap kedua temannya itu. Dengan sikap tenang Lana mulai menyampaikan sesuatu.

Baca Juga  Penyebab Ilmu Dicabut

“Sebelum kusampaikan kepada Abah dan Ibu, aku mau melihat Anam dulu, deh.” Ucap Lana kepada kedua temannya itu yang mendadak diam mendengarkan.

“Mau dipastikan apanya lagi, Ning? Kan sudah jelas jawabannya begitu” Linda protes kepada Lana tentang rencananya itu. Linda memang dari awal mendukung Lana untuk memilih Anam, makanya dia yang paling bersemangat mempromosikan Anam kepada Lana.

“Hanya ingin menguatkan” jawabnya simpel tanpa beban, Lana seolah ringan, tidak seperti sebelum-sebelumnya yang selalu terlihat berpikir dengan sangat berat, Lana seolah telah merontokkan besi-besi berat pada badannya sehingga ia bisa ringan dalam bergerak. Linda sebagai orang yang mendukung Lana dengan Anam akan menemani Lana untuk mencari Anam hanya untuk sekedar melihatnya berlatih hadroh dengan santri-santri lainnya.

Setelah beberapa perbincangan panjang serta beberapa pertimbangan, sore harinya selepas shalat ashar, Lana dan Linda berencana mengunjungi aula pesantren dimana Anam biasa latihan hadroh setiap pekannya, Lana hanya ingin melihat dengan sekilas bagaimana Anam hari itu setelah hadir dalam mimpinya dan  berhasil memberikan kesan lebih dibandingkan Hisyam. Sore itu, Lana dan Linda berjalan pelan menuju Aula, melewati beberapa komplek, sampailah di depan Aula. Dari dalam aula tidak terdengar sedikitpun suara vokal maupun suara dari alat hadroh yang biasa bergema di waktu-waktu tersebut.

Lana yang sedikti tegang untuk sekedar mendekati aula kemudian meminta Linda untuk mengintip ke dalam aula untuk memastikan apakah Anam ada di dalam. Linda dengan segera membuka pintu aula dari posisi sebelumnya yang sudah terbuka. Di luar dugaan, ternyata di dalam Aula tidak ada Anam dan teman-temannya yang sedang berlatih hadroh, di dalam hanya ada beberapa santri yang sedang menyusun dan mengelompokkan beberapa kitab yang sepertinya untuk santri baru. Linda memberikan tanda kepada Lana bahwa di dalam aula tidak ada Anam dan kelompoknya.

Baca Juga  NING LANA #10

Lana yang mendapat tanda itu dari Linda langsung mendekat dan ikut memastikan apa yang ada di dalam Aula, benar saja tidak ada yang berlatih hadroh. Dengan tiba-tiba dari beberapa anak yang sedang menyusun kitab, muncullah Hisyam yang bangkit dan berjalan mendekati Linda dan Lana.

“Ada yang bisa dibantu, Ning?” Hisyam dengan seperti biasanya memasang posisi badan agak menunduk sembari kepala yang menghadap kebawah bertanya kepada Lana. Lana tiba-tiba saja teringat mimpinya semalam dimana Hisyam datang membawa tali, Lana langsung membayangkan ekspresi hisyam ketika memberinya tali. Lana sendiri tidak mengerti mengapa dirinya bisa bersikap acuh kepada Hisyam, Padahal Hisyam hanya berinteraksi dengannya dalam mimpi.

“Nggak apa-apa” Lana menjawab dengan sekenanya. Linda yang mendengar Lana menjawab demikian kaget dengan sikap Lana yang tidak biasanya, Lindapun berpikiran bahwa pastilah ini karena mimpi yang datang semalam itu.

“Oh, ya Ning, Maaf” Hisyam kemudian berbalik dan melanjutkan mengelompokkan beberapa kitab yan ada di aula itu bersama beberapa santri lainnya. Sedangkan Lana dan Linda segera bergegas pergi meninggalkan aula itu. Ketika berjalan meninggalkan aula, Linda menyarankan mencari Anam ke tempat lain di pesantren, namun Lana merasa sudah cukup dan tidak perlu melanjutkan, dirinya sudah sangat yakin dengan pilihannya. Linda hanya terdiam tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya dirasakan oleh Ning-nya itu.

Sesampainya di rumah, Lana dan Linda berpisah, Linda masuk ke kamar sedangkan Lana menuju ruang tengah. Rupanya ada Ibu di ruang tengah, Lana merasa sangat tepat ada ibunya di ruang tengah. Lana mendekati ibu yang sedang duduk di sofa sedang membaca sebuah buku berukuran tipis. Tanpa berpikir panjang, Lana langsung saja angkat biacara.

Baca Juga  GIVEAWAY II

“Bu, Lana sudah memilih” tembak Lana kepada Ibunya yang kemudian membuat Ibu berhenti membaca bukunya dan menyimpannya di meja.

“Alhamdulillah, tapi nduk, sebaiknya ceritanya nunggu Abah nanti.” Jawab Ibu dengan sangat antusias dan tersenyum. Ibu sudah seperti

“Nggak sekarang aja, Bu?” Tawar Lana kepada ibunnya.

“Ya ndak toh, biar bisa langsung musyawarah antara Abah dan ibu bagaimana lanjutannya?”

Akhirnya dengan terpaksa Lana menunggu Abah pulang ke rumah, Padahal biasanya Abah selalu pulang larut malam jika sudah mengisi pengajian di luar pesantren. Ibu yang juga ikut menunggu sesekali beranjak ke dapur dan kembali ke ruang tengah dan beberapa kali penantian yang juga tidak kunjung datang. Waktu sudah cukup malam, pukul 10.00 suasana sudah mulai sepi, Lana melihat Ibunya sudah terlelap di kamar, sepertinya ia harus mengurungkan niatnya bercerita malam ini karena Abah belum juga pulang sedangkan Ibu sudah terlelap.

Lana kemudian menuju kamarnya, disana sudah ada Linda dan Puput yang juga sudah terlelap. Akhirnya Lana merebahkan badannya di atas kasurnya, matanya enggan terpejam pikirannya melayang ke berbagai tempat dan peristiwa yang sudah ia lalui. Dalam diamnya menuju tidur, dalam hatinya Lana berucap dengan penuh kepasrahan tentang alur hidup yang didapatkannya. Lana mengulang-ulang kalimat kalimat kepasrahannya kepada pemiliknya itu masih dalam keadaan mata terjaga, hingga waktu benar-benar membawanya terlelap dalam meninggalkan kekhawatiran menuju sebuah ketenangan.

Lana terlelap dalam kepasrahan dan hanyut akan ketenangan malam, beberapa rahasia hidup ia alami dengan berbagai likunya. Lana menjalani apa yang harus Ia jalani, tanpa meninggalkan halaman-halaman penting dihadapannya, Ia berharap ada akhir yang lebih menenangkan yang bernama kebahagiaan. Malam semakin larut dengan segala nyanyiannya, semua harapan dan angan setiap insan lenyap atau tersimpan kala malam benar-benar menenggelamkan pemiliknya. Kala pagi datang, bersiaplah dengan angan yang sama ataukah angan yang baru datang menggantikan.

Bagikan