Bagikan

Setelah semua hujan yang datang silih berganti dan mendung yang selalu kelabu, cerah pasti datang memberi harapan baru pada semua pengharapan dan jiwa yang kelam. Semua ketidakpastian yang ada mungkin saatnya berganti dengan benih-benih penuh kepastian. Pergantian yang ditunggu-tunggu hanya persoalan waktu dan sabar yang lebih tinggi agar nantinya kita siap untuk perubahan itu, bukan mati pada ketidak sabaran menunggu.

Lana tengah duduk di kursi kamarnya dengan kedua tangan di atas meja belajarnya, matanya memandang kosong kedepan. Masih terbayang olehnya bagaimana dirinya selalu terpojok oleh beberapa hal yang mengharuskannya menjawab pertanyaan tentang pernikahan. Lana sudah mencari tempat yang tenang dengan sedikit kemungkinan mendapatkan pertanyaan seperti itu, namun tetap saja dirinya mendapatkan pertanyaan demikian. Kali ini ia benar-benar berpikir keras tentang apakah memang sudah sangat waktunya untuk menentukan pilihan. Lana masih sangat belum bisa menentukan diantara kedua pilihan yang ada diantara Hisyam dan Anam.

Meski keduanya merupakan pilihan dari kedua orang tuanya yang pastinya merupakan yang lebih baik dari santri lainnya, namun Lana sangat tidak bisa menemukan apa yang membuat salah satunya lebih baik untuknya. Hisyam merupakan pria yang rajin dan sangat tanggap terhadap apa yang menjadi kebutuhan pesantren, sedangkan Anam menurut Lana merupakan Pria yang bertanggaung jawab terhadap beberapa tugas yang diberikan kepadanya. Keduanya memiliki kelebihan yang biasa, tidak ada yang langsung membuat Lana langsung bisa menentukan pilihan diantara keduanya.

Lana kemudian membuka buku catatan yang biasa ia tuliskan segala macam hal yang berpengaruh kepada dirinya, terlebih kedua orang yang saat ini menjadi perhatiannya. Dalam catatan itu Lana kembali melihat beberapa kejadian yang sudah dia lalui, membacanya membuat Lana tidak bisa habis pikir, tidak biasanya banyak hal yang bisa ia tulis dalam buku catatan itu. Baru 2 minggu catatannya sudah hampir penuh dengan kejadian-kejadian yang sama sekali tidak terbayangkan akan terjadi padanya.

Baca Juga  Ning Lana #7

Malam semakin larut, Lana memutuskan untuk menuju kasurnya yang ada di belakang meja belajarnya. Di atas Kasur itu ia rebahkan badannya yang terasa sangat berat hari-hari ini. Pikiran yang berat membuatnya semakin mudah untuk memjamkan matanya dan kemudian dia terlelap dalam tidurnya. Di kamar itu hanya ada Lana, kedua santri yang biasa ikut dengannya masih belum pulang dari asrama putri.

Pukul 01.00 dini hari, Lana terbangun dari tidurnya dengan dingin terasa di badannya, Lana merasakan dingin yang menjalan ke badannya, rupanya ia lupa memakai selimut. Dilihatnya sekeliling, sudah ada dua santri yang biasa ikut dengaannya tertidur di matras yang ada tidak jauh dari dirinya. Lana yang sudah terbiasa bangun di tengah malam memutuskan untuk bangkit dan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.  Lana hamparkan sajadah dan mulai tenggelam dalam kemesraan menghadap pemiliknya, ia serahkan semua yang ia pikirkan dan ia percayakan semua akan kembali dengan sebuah jawaban yang indah.

Lana masih dengan rukuhnya selepas sholat tahajud dan sholat istikhoroh yang kesekian kalinya, Lana masih menengadahkan kedua tangannya untuk memanjatkan doanya kepada yang maha memiliki jawaban. Lana menitikan air matanya atas kebingungan yang ada, dirinya sangat khusu dalam memanjatkan doa-doa terbaik kepada pemilik malam yang telah memberinya tenang.

Selepas berdoa, Lana merasa kantuk menyerangnya dengan sangat kuat, Lana belum sempat membuka rukuhnya untuk dilipat dan disimpan. Lana tertidur di atas sajadahnya masih dengan menggunkan rukuh, sedangkan kedua temannya tertidur di di sebuah Kasur kecil yang tidak terlalu jauh darinya. Lana semakin dalam masuk kedalam tidurnya, hingga ia sampai pada sebuah lembah yang bernama mimpi.

Baca Juga  NING LANA #10

Lana berada sebuah tempat yang sangat teduh dengan beberapa pepohonan yang mengelilinginya. Tempat ini belum pernah Lana kunjungi sama sekali sebelumnya, Lana juga tidak melihat seorangpun ditempat itu selain dirinya. Lana memutuskan untuk berkeliling tempat itu, dilihatnya tanaman tumbuh subur dengan hijaunya. Pada sebuah tempat dimana ia berhenti ada sebuah pertigaan dari jalan setapak yang dilaluinya, Lana belum memutuskan untuk kemana dirinya akan melangkahkan kaki diantara kedua pilihan jalan setapak.

Dalam kebingungan memilih jalan, dari salah satu jalan yang ada di hadapanya, Lana melihat ada seseorang datang mendekatinya. Orang itu berjalan dengan tenang menuju dirinya, Lana menerka-nerka siapa sosok yang berjalan mendatanginya, jantungnya berdebar menunggu wajah itu menjadi lebih jelas. Wajah yang tidak asing baginya, semakin jelas wajah itu mendekat kepada Lana, dan benar saja dia adalah Anam yang datang dengan sarung birunya yang mencolok. Lana kemudian melempar senyum kepada Anam yang mendatanginya, Anam juga melempar senyum kepada Lana, sampai akhirnya Anam benar-benar berada di hadapan Lana. Anam tidak mengatakan sepatah katapun kepada Lana, tetiba saja Anam meraih sesuatu dari belakang bajunya dan mengeluarkanya di hadapan Lana, ternyata sebuah bunga yang indah berwarna putih dan wanginya semerbak langung terasa di hidung Lana. Anam menyodorkan bunga itu kepada Lana, masih dengan tanpa kata-kata.

Lana menerima bunga itu dengan kedua tangannya, Anam serta merta tersenyum dan kemudian ia berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Lana. Lana bertambah bingung dengan bunga yang ada di tangannya itu. Melihat Anam yang sudah berjalan jauh darinya, Lana hanya tersenyum dan tidak berming dari tempat berdirinya, namun begitu Lana juga masih merasakan kebingungan. Dalam kebingangan yang ada, Lana melihat ada seseorang lain yang datang dari jalan setapak yang berbeda dari tempat Anam datang kepadanya. Orang ini datang dengan langkah pasti dan tegak menuju dirinya semakin mendekat.

Baca Juga  Ning Lana #5

Laki-laki yang mendekatinya tak lain adalah Hisyam yang masih dengan peci hitamnya yang khas mendekat di hadapan Lana. Hisyam sama dengan yang Anam lakukan, yaitu memberikan senyum dan kemudian Hisyam terlihat meraih sesuatu dari belakang bajunya dan mengeluarkannya di hadapan Lana. Sesuatu yang dibawa hisnyam ternyata sebuah barang yang berbeda dari yang dibawa Anam. Hisyam membawa sebuah tambang yang cukup besar dan dia berikan kepada Lana, Lana menerima tambang dari Hisyam yang diberikan kepadanya. Sama dengan apa yang dilakukan Anam, Hisyam melempar senyum dan begitu saja meniggalkan Lana tanpa sepatah katapun.

Lana bertambah bingang dengan apa yang diterimanya dari Hisyam, dua buah barang yang diterimanya dari dua orang laki-laki yang dia harus pilih salah satunya. Lana kembali merenung dalam kebingan mimpinya hingga ia terpental dari lembah mimpinya kepada kenyataan yang lebih nyata.

Lana terbangun mendengar suara adzan dari masjid pesantrennya, Lana menyadari bahwa dirinya baru saja tertidur di atas sajadahnya dengan masih menggunakan rukuhnya. Lana melihat sekitar dan mengusap wajahnya kemudian dia teringat akan mimpinya barusan. Lana mengingat-ingat mimpi yang baru saja dialaminya, sedemikian Lana langsung menebak-nabak apakah yang baru saja hadir di mimpinya adalah sebuah jawaban atas apa yang ia pertanyakan dalam istikhorohnya.

Pagi ini sebuah pilihan telah ditampilkan, seperti pilihan adzan yang bisa kita dengar dari beberapa pengeras yang dengan lantang menyuarakan, seperti nada shalawat yang bisa kita pilih berdasarkan selera dan kesukaan. Pagi ini telah ditampilkan sebuah pilihan yang diantara keduanya diberikan sebuah tanda yang menguatkan dan meyakinkan.

Bagikan