Bagikan


Hembusan angin kadang membawa pesan dari keadaan dimana sumbernya, dinginnya memberi kabar dan hangatnya memberi pengetahuan. Jiwa yang terhembuskan akan merasa tenang, dingin hanya sebagai salam pembuka untuk selanjutnya berucap dengan tenang dan penuh kedekatan. Semua hal tentang angin selalu akrab dengan malam yang memejamkan, semua tentangnya tak akan terpisah meski raga sudah dalam terpejam dalam gelapnya.

Terpejam dalam gelap yang menenangkan, tidak ada hal yang ditakutkan pada gelap dalam pejam. Kegelapan yang membawa seseorang menjelajah dimensinya yang sangat luas, dimana semua bisa saja hadir. Semua hal yang dipikirkan sebelum masuk pada gelapnya bisa saja akan kembali terbawa pada dimensi gelap yang ada. Tidak hanya yang baru saja diingatnya, tapi juga hal-hal dari masa lalu yang pernah hadir dikehidupanpun bisa kembali muncul di dimensi gelap ini.

Sayangnya, dimensi gelap ini banyak tidak dipertimbangkan oleh kebanyakan orang, dengan beranggapan hanya sebagai bunga tidur. Mereka yang tidak menganggapnya hal penting hanya akan melupakan dengan sangat cepat dan tidak menjadikannya sebagai bahan pertimbangan apapun.

Lana menyadari dirinya ada pada dimensi mimpi yang sama dengan mimpi nya yang lalu, ia berada di sebuah tanah lapang dengan beberapa pepohonan yang melingkar disekitarnya, ada pula beberapa binatang yang sedang berkeliling disekitarnya.

Lana juga menyadari ada dua hal yang ada di tangannya yang dalam mimpinya sebelumnya dua orang yang menjadi pertimbangannya memberikan kedua benda tersebut kepadanya. Anam yang memberinya sebuah bunga yang harum dan indah, Hisyam yang entah mengapa memberinya sebuah tambang yang kasar dan kuat. Dalam mimpinya ini Lana memegang kedua benda pemberian mereka berdua, entah mengapa mimpi ini seolah berlanjut dan tidak ada habisnya.

Baca Juga  SEGARIS RAGU (Vol 1)

Lana terbangun dari tidurnya, ia gelengkan kepalanya menyadari apa yang baru saja hadir di mimpinya, ia mengusap kedua matanya untuk memperjelas pandangannya di malam itu. Dilihatnya jam yang ada di dinding kamarnya, ternyata masih jam 12.30, Lana bangkit dan menuju kamar mandi untuk berwudhu. Kebiasaan keluarganya yang selalu bangun malam menurun kepada anak-anaknya yang pasti akan terbangun tengah malam untuk sekedar dua rakaat sholat tahajud.

Lana terduduk di atas sajadah dengan rukuhnya yang putih, tangannya menengadah memohon ampun kepada pemilik ampunan dan juga meminta jalan yang terang dan lurus menuju surganya. Di akhir doanya, Lana memanjatkan doa agar diberikan kejelasan akan pilihannya dari mimpi-mimpi yang hadir menyertai tidurnya. Lana merasa dirinya belum sepenuhnya memahami makna dari apa yang ia mimpikan, Lana takut salah mengambil langkah dalam bersikap terhadap mimpi dan pilihannya.

Seharusnya, sudahlah sangat jelas bahwa bunga merupakan tanda yang benar ia jatuhi pilihan dibanding tambang yang diberikan oleh Hisyam. Namun Lana masih belum bisa melihat ketepatan hati akan kedua tanda itu, apakah benar mengarah kesana atau mungkin ada makna lain dari kedua benda yang Lana dapatkan itu. Lana masih sangat bimbang dan menyerahkan semuanya kepada sang pemilik segala kunci dari segala permasalahan yang ada. Lana usapkan tengadah doa yang baru saja ia panjatkan keseluruh wajahnya yang putih dan bersih.

Baca Juga  NING LANA #1

Selepas dua rakaat dan doa yang panjang, Lana sudah merapikan kembali sajadah dan rukuhnya, Ia bersiap kembali untuk tidur. Malam masih terlihat larut dengan anginnya yang dingin berhembus menggerakkan gorden jendela kamarnya, Lana menarik selimut dan kemudian memejamkan matanya berharap lelap segera menjemputnya kepada ketenangan dan kedalaman. Benar saja, tidak menunggu lama, Lana sudah terlelap dalam hingga masuk pada dimensi mimpinya yang selalu bisa terhubung dengan dirinya.

Kembali lagi, Lana kembali lagi kepada mimpinya di tanah lapang, namun kali ini ada yang berbeda, setangkai bunga yang wangi memang masih ada di tangannya, namun tidak dengan tambang dari hisyam, ternyata tambang itu kali ini melilit tubuh Lana pada sebuah pohon kelapa besar. Lana terikat dengan kuat, entah mengapa tiba-tiba dirinya ada disana dengan posisi demikian, tidak ada orang di tempat itu yang bisa ia tanyai sesuatu atau membantunya melepas ikatan yang ada di perutnya itu. Dalam hatinya bertanya-tanya apakah ini bukti bahwa Hisyam memang bukan pilihan yang tepat karena tambang ini malah mengikatnya.

Dalam kebimbangan yang ada, tiba-tiba saja Lana mendengar sebuah suara gemuruh dari belakangnya, Lana tidak bisa melihat apa yang ada di belakannya karena posisi tubuhnya yang terikat oleh tambang dengan kuat. Semakin lama gemuruh itu semakin nyaring di dengarnya, Lana merasa sangat takut dengan apa yang didengarnya itu. Tak lama gemuruh itu sudah sangat Lana rasakan hanya beberapa langkah dari badannya. Gemuruh itu ternyata sebuah air bah yang besar membawa banyak barang yang tersapu. Tsunami rupanya telah terjadi di tanah lapang tersebut, semua hal terbawa arus yang sangat tinggi, Lana kaget bahwa ternyata ada Tsunami menghampirinya. Semua hal tersapu bersih, beruntung Lana terikat di batang pohon Kelapa, dirinya tidak terbawa arus besar yang sangat menyeramkan dan menelan banyak orang.

Baca Juga  Ning Lana #6

Lana sudah basah kuyup dan sesekali beberapa barang menghantap pohon kelapa dimana Ia diikat, beruntung arus itu datang dari belakangnya sehingga sesuatu akan menabrak pohon kelapa itu bukan menabraknya. Arus itu sudah berlalu melewati Lana, namun Lana masih merasakan derasnya arus itu.

Dalam ketakutan yang masih menyelimuti, Lana terbangun dengan was-was dari dalam tidurnya. Ia menarik nafas tidak beraturan. Pikirannya masih sangat kacau melihat kejadian demikian, namun saat itu juga ia tersadar dengan makna sebenarnya dari bunga dan tambang yang hadir pada mimpinya, Lana menyadari bahwa bunga memang memberikan keindahan tapi itu tidak memberinya manfaat yang lebih baik, sedangkan tambang memang tidak spesial ketika dilihat, tapi ia memberikan banyak manfaat kepadanya. Lana menyadari bahwa ia telah memutuskan pilihan yang salah dengan memilih Anam, untung saja dirinya belum sempat bercerita kepada kedua orang tuanya.

Saat itu juga Lana mantap dengan pilihannya, dia akan memilih pria yang memang akan menyelamatkannya kelak, pria yang juga akan menyelamatkan pesantrennya, pria yang memang memberinya dunia akhirat.

Bagikan