Alasantri
mengenang mondok

Mengenang Kembali Enam Tahun di Pesantren

” anti ‘Aisyah tatakallamina billughati minangkabauwiyah? “

” laa ya ustadz, lastu.. “

” limadza takulli lastu, wa ana sami’tu annaki billughati minangkabauwiyah “

*********

Marilah kawan, sedikit ku bercerita kehidupan di pesantren, dan enam tahun aku sebagai santri. Kebanyakan orang berpikir sekolah di pesantren adalah hal yang mengerikan, baik dari segi mata pelajaran, ketatnya peraturan, dan ya asramanya. Coba bayangkan masih bocah ingusan begitu orang tuanya tega meninggalkan anaknya di asrama. Tidak ketinggalan juga anggapan remeh mereka yang sinis mengatakan bahwa pendidikan di pesantren ‘ketinggalan’.

Enam tahun sebagai santri, Enam tahun aku dididik dalam sistim pendidikan ala pesantren. Enam tahun yang penuh suka duka, dan lepas dari pesantren, duka-duka itu tak berarti, namun sukanya aduuhh itu yang susah dilupakan.

Kawan, dengarkanlah cerita dari seorang santri yang rindu kembali ke pesantren setelah enam tahun lulus. Enam tahun aku menimba ilmu di dunia pesantren, enam tahun pula aku ‘bebas’. Tapi menyenangkankah setelah terbiasa dengan sistim pesantren yang kata orang mengekang dan ketinggalan jaman lalu menjadi ‘bebas’ setelah lulus berhasil mengantongi ijazah?

********

Tahun pertama aku sebagai santri yang baru pertama kali merasakan bagaimana tinggal di asrama. Berbagi kamar dengan puluhan santriwati lainnya bagiku tidak masalah, makan dengan menu yang terbatas juga tidak masalah, yang jadi masalah adalah ketika mandi. Sistim mandi di sini siapa cepat dia dapat air bersih melimpah, siapa lambat dapat kerak-kerak air dan tentu mandinya ramai-ramai tidak ada cerita satu kamar mandi satu orang.

Sebelum waktu shalat subuh masuk, masih pagi sebenarnya untuk mandi, tapi aku paksakan saja mandi daripada harus berbagi kamar mandi dengan yang lainnya. Alangkah terkejutnya, ku dapati kamar mandi sudah penuh membludak ngantri mengular, rasanya ingin menangis karena sebegitu susahnya untuk mandi. Sungguh merana jadi santri, pikirku ketika itu.

Aku mencoba untuk memutar otak, oke baiklah aku manfaatkan saja ember hitam yang berukuran sedang ini untuk menampung air di kran masjid, lalu dengan enteng tanpa pikir panjang, ember yang penuh berisi air itu ku angkat ke WC umum tak jauh dari masjid itu, lalu kemudian terjadilah ritual mandi alakadarnya di hari pertamaku sebagai santri.

Sebenarnya lebih panjang lagi, tapi ah sudahlah tak baik aku berpanjang kalimat dalam urusan ini walaupun kadang hal lucu-lucu asam manis dari asrama ini lah yang membuatku ingin kembali tinggal di asrama. Ku cukupkan sampai disini urusan asrama ini, Kawan.  Mari kuteruskan bagaimana cara belajar ala pesantren di tempat ku belajar.

Baca Juga  DAFTAR PESERTA SAYEMBARA MENULIS ALASANTRI

Pelajaran di pesantren tentu dua kali lipat lebih banyak dari pelajaran sekolah biasa, selain juga kami belajar pelajaran umum, tentu pelajaran ciri khas pesantren juga tidak ketinggalan, seperti bahasa Arab, Fiqh, Tauhid, Tafsir (dan Ilmu Tafsir), Hadits (dan Ilmu Hadits), dan lain-lain. Ciri khas santri selain dari pakaian adalah nenteng kitab kemana-mana, karena berat kalau masuk ke tas, bayangkan untuk satu pelajaran saja paling tidak buku atau kitab pelajarannya ada dua, yang tebal satu yang tipis satu, yang tipis memang digunakan sebagai bahan pokok pelajaran sedangkan kitab yang tebal- mengalahi tebalnya bantal kami di asrama, merupakan penjelasan lebih lanjut dari kitab tipis tersebut.

Duka yang penuh derita bagiku pribadi adalah membaca KITAB KUNING (KITAB GUNDUL), disebut kitab gundul karena tidak ada baris fathah, kasrah, dhammah, benar-benar huruf saja. Dinamai kitab kuning karena ya warna kertas dari kitab tersebut memang berwarna kuning. Santri tentu tak asing lagi dengan kitab-kitab tersebut, saking akrabnya santri dengan kitab kuning, kitab-kitab itu pun kelihatan na’as dari buku pelajaran lainnya, habis kena corat-coret mufradat, dikasih baris ( padahal sudah dilarang, tapi tetap aja ngeyel dikasih baris), yang paling penting ketika guru menjelaskan i’rabnya ya buru-buru dicatat, nah ini yang membuat aku ketar-ketir : NAHWU-SHARAF !

Kalau bicara dunia pesantren, tentu lekat dengan bahasa Arab. Bahasa Arab pun tidak bisa dipisahkan dengan pelajaran Nahwu dan Sharaf. Malapetaka bagiku yang sampai tahun ke-enam di pesantren pun tidak paham juga dengan dua pelajaran legendaris itu, atau mungkin aku sendiri yang sudah menanamkan dari awal pelajaran ini membosankan? ah tapi yasudahlah kalau memang begitu takdir yang harus kujalani. Tapi, Kawan, hal ini tak menyurutkan nilai-nilai ku di pelajaran lainnya yang berbasis bahasa Arab, katakanlah seperti: Balaghah, Mantiq, Tauhid, Tafsir (Ilmu Tafsir, Hadits (Ilmu Hadits) dan lain-lain.

Salah satu peraturan di pesantrenku adalah setiap santri diwajibkan menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari selama di lingkungan pesantren dan asrama. Berinteraksi dengan Ustadz/Ustdzah dan santri lainnya diwajibkan memakai dua bahasa itu, sebagai latihan yang ampuh untuk membiasakan diri. Jika ketahuan menggunakan selain dua bahasa tersebut, maka hukumannya adalah kita didenda uang yang nantinya uang ini digunakan untuk keperluan bersama di kelas, tidak hanya itu bagi yang melanggar peraturan berbahasa juga dikenakan sanksi bahwa namanya akan dicatat dan setelah shalat dzuhur nama-nama yang melanggar tersebut akan dipanggil satu persatu maju ke depan masjid, yang lebih memalukan lagi adalah santriwati berdiri di tempat santriwan dan sebaliknya santriwan berdiri di tempat santriwati, berdiri selama kegiatan kultum setelah shalat dzuhur. Kebayang kan? Seluruh pasang mata santriwan-santriwati mengarah kepada pelanggar bahasa yang berdiri di depan mereka sebagai pesakitan.

Baca Juga  Full Puisi Menag RI : Santri dan Kopi

Mukhalifullughah alyaum, huwa :……” lalu menggemalah seantero masjid satu persatu nama-nama pesakitan tersebut.

Nama keren untuk pelanggar bahasa ini adalah Mukhalifullughah atau Languange Breaker, lebih dahsyat lagi yang melanggar peraturan berbahasa di asrama akan dipakaikan selendang ala Miss kontes kecantikan itu, bertuliskan dua kalimat tersebut. Wajib dipakai sampai pelajaran hari itu usai.

Ternyata catatan saya sebagai santri kelas akhir harus ditutup dengan perkara memalukan itu rupanya. Saat itu adalah musim ujian praktikum, paraktikum bahasa Arab, dan sistim ujiannya adalah satu persatu santri masuk ke dalam kelas ketika nama dipanggil. Santri-santri yang namanya belum dipanggil, menghabiskan waktu di luar kelas dengan bercengkrama. Aku yang memiliki suara paling keras dengan pedenya berbicara pakai bahasa daerah, begitu juga dengan teman-teman yang lainnya, karena terus terang lidah kami pun belum fasih untuk dua bahasa resmi pesantren tersebut, dan capek juga harus pakai bahasa isyarat. Setelah semua santri selesai dengan ujian praktikum, Ustadz pun memanggilku, “anti ‘Aisyah tatakallamina billughati minangkabauwiyah?” Tanya guru ku dengan suara meninggi.  Dengan suara serak takut membayangi akan berdiri di depan masjid ” laa ya ustadz, lastu.. “. Ustadz pun tidak mau kalah”limadza takulli lastu, wa ana sami’tu annaki billughati minangkabauwiyah“.

Drama antara ustadz dan santri yang membela diri karena takut setengah mati berdiri di depan masjid akibat melanggar bahasa, tanpa peduli dengan wajah memelasku, akhirnya namaku pun dicatat. Terus berakhir sebagai pesakitan berdiri di shaf santriwan? Alhamdulillah tidak. Sampai hari ini pun kalau diingat-ingat kembali, aku sendiri pun bingung entah kenapa saat itu namaku tak dipanggil, mungkin ustadz lupa entah di mana kertas itu diletakkan.

Hal yang membuat ku merasa rugi dan ada rasa penyesalan tak berakhir adalah, kenapa tak kumanfaatkan sebaik mungkin peraturan berbahasa ini. Bayangkan enam tahun, jika memang betul-betul diasah kemampuan berbahasa, seharusnya bahasa Arab dan bahasa Inggrisku sudah lancar seperti air mengalir, tidak terbata-bata.

Tentu bahasa ini sangat berguna kapanpun dan dimanapun, contohnya hal yang paling simpel adalah jika nonton di Youtube, kan tidak perlu lagi cari-cari yang pakai subtitle bahasa Indonesia. Hal yang paling penting, ketika kuliah pun dua bahasa tersebut sangat berguna, paling tidak untuk test bahasa, bahkan hingga lanjut jenjang kuliah ke tingkat yang lebih tinggi kemampuan berbahasa pun akan menjadi syarat utama. Apply beasiswa?? jangan tanya, sekarang yang jadi momok utama bagi mereka yang mau mengajukan beasiswa adalah persyaratan bahasa tersebut.

Baca Juga  Bak Nyantri

Apalah daya, hari ini kutebus kenalakan tak mematuhi peraturan berbahasa, dengan belajar mulai dari awal. Tak masalah untuk bahasa Inggris, nah kalau bahasa Arab??  aduh entahlah, aku tak tahu harus mulai dari mana, apalagi temannya bahasa Arab, Nahwu-Sharaf, bisa pening kepalaku mempelajari itu sendirian. Sekarang tinggallah aku mengutuki diri sendiri. Melihat kembali ke belakang, sungguh ingin kukatakan pada santri-santri saat ini, manfaatkanlah sebaik mungkin dan bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu di pesantren, karena sungguh manfaatnya tentu akan kembali pada diri kita.

Kawan, katanya peraturan di Pesantren itu ketat dan mengerikan?

Dua kata yang memberikan kabar pertakut bagi orang tua untuk menyekolahkan anaknya di pesantren. Sekarang marilah kawan, dengarkan kembali kisah ini. Adalah sebuah kewajiban pesantren untuk mendidik santrinya lebih disiplin lagi, melatih jiwa mereka tidak hanya berguna untuk duniawi tapi juga menjadi salah satu jaminan selamat dunia akhirat. Dibangunkan pagi buta untuk shalat tahajud? mengerikan? peraturan yang ketat?. Dilatih jiwa mereka untuk selalu berpuasa Senin Kamis, Apakah hal itu mengerikan?

Percayalah, bahkan peraturan-peraturan ketat di pesantren itulah yang kurindukan, di tengah rasanya kembali lagi jiwa ini menjadi gersang. Biar kukatakan, Kawan, beruntung santri-santri itu mereka sungguh beruntung. Bahkan hal yang dulu membuatku merana belajar di pesantren, Nuhwu-Sharaf, aku pun rindu ingin kembali mempelajarinya, aku rindu dengan coretan-coretan ini fi’il ini fa’il, ini mubtada’ ini khabar, ini ‘athaf ma’thuf.

Kawan, biarkanlah sedikit kuberi penyemangat untuk santri-santri lainnya.

Memang benar kita tak pernah se-gaul murid-murid itu, bahkan ketika tamat dari pesantren dan mulai kuliah, ada saja orang yang mengatai kita- cupu, kurang gaya, ketinggalan. Tapi, ingatlah bahwa setiap hari yang kita jalani adalah bentuk pertanggungjawaban kita terhadap Rabb yang telah menciptakan kita. Maka, adakah hal yang merugikan kita ketika hari-hari yang kita habiskan sebagai santri di pesantren adalah hari-hari untuk menjemput kebaikan ?

Manfaatkanlah sebaik mungkin hari-hari kalian di pesantren, jalankanlah peraturan-peraturan yang ada dengan sepenuh hati, jadilah santri sepenuhnya jangan setengah-setengah. Karena lepas dari masa itu, kita pasti merindukan masa-masa menjadi santri kembali. Menghabiskan hari-hari di pesantren sebagai santri, tidak ada kata rugi di sana. Banggalah menjadi santri.

Oleh: Siti Aisyah

Asal: Agam, Sumatera Barat

Bagikan

Tinggalkan Balasan