Bagikan

-mendamba- Suara pengumuman jamaah salat Subuh segera dimulai, mengagetkan lamunan Ira yang sedari selesai salat tahajud, dia menyendiri di balkon luar musala. Nuansa pondok kami yang sangat sejuk di wilayah perbukitan, juga musala yang berada di lantai dua, menjadikan balkon depan musala menjadi tempat favorit para santri untuk menyegarkan pikiran.

“Wes ayo sholat dulu,” ajakku sembari menarik tangan Ira masuk ke dalam musala.

Kami berteman dekat sudah lima tahun di pondok sini. Aku tahu sekali, dia mendambakan siapa selama ini. Bahkan tidak pernah goyah sekalipun melihat kang santri lain yang lebih menarik dari kang santri idaman dia itu.

Usai jamaah salat Subuh, kami langsung menyiapkan diri dengan mengantre untuk setoran hafalan di depan meja bu nyai. Seperti biasa, sebelum ngaji setoran hafalan ziyadah dimulai, bu nyai kami mengawali pagi dengan bercerita apapun. Entah nostalgia kisah hidupnya, bahas berita yang lagi trending, apapun sekenanya. Kurasa ini sengaja dilakukan bu nyai, untuk menguji hafalan ziyadah kami. Benar-benar mantap hafal dan siap disetorkan dengan tartil atau tidak. Kalau belum hafal di luar kepala, tentu dengan adanya selingan cerita sebelum ngaji dimulai, akan mudah lupa ziyadah yang akan disetorkan.

“Kalian umur-umur segini, pasti sudah pada pernah jatuh cinta, ya?,” tanya bu nyai, dengan nada canda dan senyum khasnya.

Baca Juga  SEGARIS RAGU (vol 15)

Kami hanya merespon dengan senyum sipu malu, dan ketawa-ketawa kecil. Bu nyai melanjutkan cerita kasih tak sampainya di masa muda.

“Sakit hati yang timbul akibat jatuh cinta yang tidak tiba, akan berbuah pahala. Bahkan kalau sampai kita meninggal, kita bisa mati syahid,” tutur bu nyai.

“Ndak apa-apa, dulu masa muda ibu juga pernah seperti kalian ini, kok. Merasakan jatuh cinta, tapi diam-diam. Dan tentu bukan sama abah, suami ibu sekarang,” lanjutnya.

Sepintas aku berkata dalam hati, “Kok bu nyai bisa pas begini, sih, tadi aku baru aja liat Ira mikirin doi yang tak kunjung mengerti kalau dia mencintai”. Kemudian tatapan mataku dan Ira bertemu, seolah dia memberi kode kalau itu sedang dialaminya sekarang.

Setelah setoran ziyadah selesai dan seperti biasa santri-santri berebut berkah, dengan meraih cangkir jahe hangat bekas bu nyai. Tapi pagi itu, aku langsung mundur menemui Ira, kuajak ke balkon depan musala.

“Ra, kok bisa gitu ya, bu nyai tadi. Aku tahu lho, kamu tadi lagi mikirin kang itu lagi to,”

“Kok bisa tahu, sih?”

“Aku ini jadi temen deketmu dari bangun tidur sampai tidur lagi, bangun lagi juga setiap hari lihat mukamu. Hafal lah aku.”

“Iya. Tapi kamu tahu ndak, kemarin aku habis dipanggil bu nyai ke ndalem.”

Baca Juga  Ning Lana #5

“Lho, Ra, Ada apa? Kok kamu ndak ada cerita apa-apa sama aku?”

“Iya, aku tadinya mau diam saja, nggak cerita ke siapa-siapa. Tapi aku butuh curhat, ke siapa lagi kalau bukan ke kamu. Biasanya juga apa-apa kamu cerita.”

Kulihat mata Ira mulai berkaca. Lalu dia melanjutkan ceritanya.

“Jadi gini, Fah. Umurku sekarang kan sudah 24 to, tahun besok 25. Umiku di rumah ternyata pernah matur ke bu nyai, minta carikan calon suami buat aku”

“Wah, Ra. Terus terus?”

“Iya, ternyata aku disuruh bu nyai, sama gus Misbah yang putra temannya bu nyai”

“Walah. Walah,” sontak kukaget, karena sebelumnya tidak pernah ada tanda apa-apa.

“Ya sudah Ra, diterima saja. Aku yakin pilihan bu nyai dan sudah pasti diridhoi orang tua kamu, itu lebih berkah buat rumah tanggamu nanti.”

Ira tidak menjawab apa-apa, hanya diam, sesekali menunduk, mengalihkan pandangan ke bukit, dengan memegang mushaf di tangannya. Aku tahu betul, dia sudah lama mengagumi kang Dzikri, santri putra sekaligus guru tilawah di pondok putri. Juga sudah beberapa kali kang dzikri titip salam buat Ira, lewat adiknya yang di asrama putri.

Memang mereka tidak pernah berkomunikasi langsung. Sudah terlanjur mengagumi dan berharap lebih sama kang dzikri, tapi tak kunjung ada tanda-tanda mau diajak serius atau ikhtiar lebih.

Baca Juga  JUARA II; Tips & Sharing agar Lemari Rapi

“Mbak Ira, sampeyan dipanggil bunyai, disuruh ke ndalem,” panggil mbak ndalem menemui kami.

“Sudah Ra, jawab, sendikon dhawuh.  Aku sebagai sahabatmu, in sya Allah yakin.”

“Iya.” jawaban singkat dengan kaki beranjak menuju ndalem.

Kenapa bisa, Ira? Padahal aku yang  dari dulu diam-diam mengagumi gus Misbah. Tapi ini juga bukan salah Ira. Dia tidak tahu apa-apa, dan tidak perlu tahu atas perasaanku ini. Sudahlah, tak apa.  

Bu nyai, kuterima dhawuhmu ngaji tadi pagi. Semoga aku mendapat surgaNya.

Oleh: Lulu Erzed

Bagikan