Bagikan

Dunia pesantren pastilah sudah sangat akrab dengan yang namanya sorogan dan bandongan sebagai metode belajar khas santri. Bandongan sendiri merupakan metode mengaji ini identik dengan Kyai yang membaca teks arab gundul (tanpa harokat) sekaligus dengan maknanya, dan makna yang digunakan menyesuaikan dengan daerah masing-masing sesuai dengan Bahasa keseharian, metode yang dipakai biasanya disebut dengan makna utawi iki iku atau biasa para santri atau masyarakat mengenalnya dengan makna gandul. Metode ini masih melekat dari doeloe sampai sekarang.

Sedangkan ngaji sorogan adalah kebalikan dari bandongan, untuk ngaji sorogan santri lah yang membaca langsung didepan Kyai yang mengulang secara bergantian (biasanya sesuai jadwal dan kitab yang diampu), pun yang dibaca sesuai dengan apa yang telah diajarkan. Mengapa yang penulis tuliskan “Mengulang” bukan “Mengajar” ?? Kalau boleh bercerita sedikit, ini penulis dapatkan ketika masih duduk di kelas 2 wustho (kelas persiapan sebelum masuk aliyah pada salah satu sekolahan daerah kabupaten Pati. Tepatnya di Perguruan Islam Matholi’ul Falah bila daftar masuk kelas Aliyah) beliau Kyai Muhammad Abbad atau biasa kami panggil Gus Mad, karena memang beliau putra dari KH. Ah. Nafi’ Abdillah kajen. Pun, beliau bercerita dari sang kakek KH. Abdullah Zein Salam “apa yang kami ajarkan ke kalian semua ini dari apa yang telah kami peroleh dari guru-guru kami, maka disini kami hanya mengulang pelajaran saja. Bukan mengajarkan, toh kalau mengajarkan ya kita sudah melampaui karya dari para mushonif kitab”. Dari situlah penulis mengerti kenapa ujaran “mengulang” lebih sering digunakan oleh para guru-guru kami.

Baca Juga  73 TAHUN, SANTRI MARI TERUS BERPERAN

Dari Santri yang mengaji secara bandongan ataupun sorogan mungkin sudah cukup mewakili di bayangan para pembaca bagaimana system belajar mengajar yang biasanya para santri lakukan dalam setiap harinya.
Namun semua itu tak semudah dengan apa yang dibayangkan. Terlebih ketika ngaji sorogan berlangsung, ada beberapa tahapan yang harus dilalui bahkan harus dikuasai pula.

Pertama tentunya kosakata Bahasa Arab. Kedua harus menguasai Ilmu Alat. Jelas adanya tahapan tersebut harus dilalui. Karena memang memaknai kitab gundul tidak semudah dan segampang membaca terjemahan yang tersebar di berbagai toko buku. Walau terkesan metode yang digunakan terbilang kuno, namun dengan cara tersebutlah para santri tidak sembarangan menerjemahkan teks-teks arab.

Bagaimana, masih kurang puas dengan latar belakang santri ?
Satu contoh lagi. Beberapa tahun silam pondok pesantren mendapatkan isu sebagai sarang teroris yang kemudian para santri ditakuti dan dikucilkan. Baiknya semua itu kembali pada diri masing-masing individu setiap orangnya, toh di Negara Indonesia ini tidak hanya satu pemahaman tentang agama Islam. Kalau memang satu pemahaman kenapa masih berbeda dengan jatuhnya Hari raya Idul Fitri yang telah ditetapkan dari Kementrian Agama Republik Indonesia, contoh.

Dengan keberagaman pemahaman mengenai agama islam mungkin penulis berkesimpulan tidak semua pondok pesantren yang berada di Negara ini menggunakan metode mengkaji kitab seperti apa yang telah penulis tuliskan diatas. Maka dari itu jangan memandang sebelah mata, apalagi men-judge dengan sama rata.

Baca Juga  Inisiasi Literasi Digital untuk Melawan Hoax 

Berhati-hatilah karena سلامة الإنسان في حفظ اللسان yang berarti Keselamatan manusia dari bagaimana cara menjaga lisannya. Dengan demikian berhati-hatilah kita sebagai umat beragama kapanpun dan dimanapun. Jangan hanya mengutamakan kepentingan satu pihak menggunakan dalih mengolok-olok bahkan sampai menjatuhkan pihak lain

Nurfajri Silmi, Kajen
Dikutip dari Ibnu Muslih Pondok Pesantren Darussalam Purwokerto

Bagikan