Bagikan

Dalam film Jab Tak Hai Jaan Shah Rukh Khan berkata, ”seseorang dapat hidup 4 minggu tanpa makanan,4 hari tanpa air,4 menit tanpa udara. Tapi,tanpa sebuah harapan,bahkan manusia takkan bisa bertahan walau 4 detik”. Oh,man, sebenarnya ada satu kalimat yang lalai tidak diucapkan oleh Shah Rukh Khan. Wahai Shah Rukh Khan,kau tidak pernah tahu seberapa lama manusia bisa bertahan hidup tanpa huruh R?

Lumrahnya,orang-orang selalu menjawab Ular,Kodok,Laba-Laba,atau paling mentok kulit Rambutan lah kayak Raffi Ahmad kalau ditanya perihal “sesuatu atau apa yang paling kalian takuti?” Hal ini tak berlaku bagi saya,orang-orang yang tidak bisa ngomong R. Atau kalau dalam ilmu percangkeman biasa disebut Syndrom Cadelisme. Eh salah?

Karna perlu kalian ketahui,sesuatu yang paling saya takuti selama ini adalah mik. Iya,mik pengeras suara itu,nggak usah pake tatapan ngehina gitu dong.

Misalnya,waktu ada acara ngajian di rumah,pastilah jantung udah kayak pelari marathon saat mik perlahan mulai mendekati saya untuk giliran nderes. Atau saat TPQ,ketika saya kebetulan berangkat gasik,eh tiba-tiba sama Pak Kyai disuruh adzan. Aduh,bukannya girang kayak temen-temen yang sampai rebutan mik untuk adzan,ini malah merupakan bentuk lain dari “bencana” menurut saya. Secara tak langsung,makai mik itu ibarat lagi mandi di live streaming oleh temen kita. Apa  namanya kalau bukan penyebaran aib secara terang-terangan.

Itu baru masa kanak-kanak,masa-masa ketika tempat favorit bermain masih emperan masjid atau lapangan buritan omah (sekarang udah café ama mall). Untunglah saya bisa lulus TPQ tanpa kesulitan bacaan ro’ tafhim atau ro’ tarqiq. Ustadz nganggapnya “biasa,anak kecil masih cadel”. Padahal waktu itu saya sudah kls 5 SD,sedang yang lain mah maklum orang masih kelas 1,malah masih ada yang PAUD. Atau bisa juga betul seperti ucapan konco kenthel saya,”halah nggak usah bangga. Itu mah kamu lulus ya biar kamu cepet lulus aja. Males tauk,ngurus murid paling bandel paling gede di kelasnya anak-anak PAUD kayak kamu.”

Kamplet!

Beranjak remaja,lebih rumit lagi. SMP sudah ada kelas renang. Dan kelas yang cuma ada satu semester empat kali tersebut,ke empat-empatnya saya tidak lulus. Mau gaya dada,gaya punggung,gaya katak kek,bahkan secebong-cebongnya tetep aja saya nggak lulus.

Baca Juga  DUNIA KULIAH DAN SANTRI

“Lha gimana kamu mau lulus Jii,sekedar nyebutin nama olahraganya aja kamu nggak bisa. Renang Ji ER ERR Jii R…bukan L. Rrrenang,bukan Lenang,” komentar teman sebangku saya.

Kamplet! Lagi-lagi saya cuma bisa mengumpat. Padahal apa cobak hubungannya?

Naas lagi,ketika di bangku kelas 9. Ndilalah wali kelas saya namanya kok ya Pak Iryanto. Panggilannya Pak Ir. Ngapain cobak nggak dipanggil Pak Yanto aja? Kan lebih ramah di lidah. Minimal bagi penderita cadelisme seperti saya. Apes bener gue pikir-pikir ni hidup.

Tambah apes lagi,ketika menerima kenyataan bahwa Pak Ir adalah tipikal guru yang “suka membahagiakan orang banyak” tanpa peduli “ada satu kaum yang harus jadi tumbal”. Contoh: Ketika Pak Ir ngebagiin hasil ulangan pelajarannya,Bahasa Indonesia. Dari anak sekelas,hanya sekitar separuhnya aja yang nggak remidi. Dan ternyata,nilai saya malah tertinggi di kelas. Kontan Pak Ir nyeletuk. “Orang-orang kayak Hifji ini tipe-tipe orang yang nggak mungkin kena remidi”. Satu kelas bengong. Emang apa spesialnya Hifji? Mungkin itu maksud tatapan temen-temen. “ Loh,nggak percaya?”,lanjut Pak Ir. “ayo Hifji,coba bilang  R-E-M-I-D-I, H-E-R Herrrrr..…”

Grrrr…seketika kelas tertawa.

Pak Ir benar-benar berhasil menghibur anak-anak yang sedih karena remidi pelajarannya,menukar dengan kebahagiaan saya yang mendapat nilai tertinggi berubah jadi umpatan.

Kamplet!

Itu sama saja ketika orang-orang bilang; orang Bali itu makhluk abadi ya? Iya soalnya mereka kan nggak bisa mati. Bisanya mathi.

Dan di akhir pertarungan,saya bayar tuntas Pak Ir ketika moment perpisahan.

Bukan,bukan saya menjadi juara kelas. Saya tak sepandai atau serajin itu. Tapi ketika sama teman-teman  disuruh menjadi sambutan perwakilan kelas. Baru salam,Pak Ir sudah senyum-senyum jenis setengah ngledeknya. Kan ada banyak R-nya tuh lafadz “Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh “.

Barulah di ending sambutan,saya tutup dengan elegan namun tetap tajam.” Dari sekian banyak guru-guru SMP,mulai kelas 7,8,9,saya tak akan pernah melupakan jasa-jasa beliau. Namun satu hal yang pasti,Pak Ir pastilah guru yang pertama kali saya lupakan dari ingatan saya. Bukan karena jasanya sedikit,bukan. Bagaimanapun juga beliau wali kelas yang baik bagi kita semua. Tapi karena ya gimana nggak lupa,orang sekedar nyebutin namanya saja sampai lulus sekolah saya tetep nggak bisa. Pak Illlllyanto”

Baca Juga  Inisiasi Literasi Digital untuk Melawan Hoax 

Grrrr…satu kelas  tertawa. Kali ini Pak Ir lah yang jadi korban dari hukum yang dia ciptakan sendiri. “membahagiakan orang banyak” tanpa peduli “ada satu kaum yang harus jadi tumbal”

SMA,yang konon katanya adalah masa-masa terindah sekolah,nggak indah-indah amat bagi saya (untuk tidak bilang buruk).

Faktor utamanya bukan karena saya sudah berada di pondok. Bukan. Saya nggak pernah mau bilang di pesantren. Ada huruf R-nya disitu. Tapi lagi-lagi ya karena; hidup tanpa huruf R itu tidak mudah.

Di SMA,setiap murid diwajibkan ngambil ekstrakurikuler. Sebenarnya ada banyak opsi pilihan ekstrakurikuler. Namun karena sabagai anak yang bukan berasal dari keluarga berada,kiriman tiap bulannya angin-anginan,mau tidak mau saya dituntut menjadi individu yang hemat demi menjaga kelangsungan hidup di pondok.

Nggak mungkin saya ngambil ekstra bulutangkis yang tiap pertemuan wajib bawa kock. Bisa buat lauk tuh. Atau ngambil sepak bola yang tentu saja butuh beli sepatu pull,kaos kaki,deker,seragam,dsbnya,dsbnya yang harganya lumayan menguras uang kiriman saya. Apalagi ngambil rebana,qiro’at,haduh bukan soal butuh suara emas. Tapi sekedar nyebutin namanya aja banyak R-nya tuh. Pilihan paling bijak,jadilah setelah berpikir panjang,dengan berbagai pertimbangan dan hitung-hitungan ekonomi secara matang,pilihan saya jatuhkan pada english club.

Wah,jangan dikira dengan latar belakang sebagai orang cadel,kemampuan bahasa Inggris saya bak dewa. Justru sebaliknya. English,menduduki peringkat kedua pelajaran yang paling saya benci setelah Matematika. Benci karena orang-orang kadung husnudzon dengan tidak bisa ngomong R, otomatis ngomong Inggris lebih mudah daripada ngunyah kacang goreng. Padahal jujur, meski bisa dapat sertifikat lulus,kemampuan Inggris saya cuma sampai pada level; Yes iya,no tidak. I love You,aku cinta kamu.

Sampai pada dunia kampus (berarti sekarang), alhamdulillah perlahan  membaik. Apakah kabar baiknya dengan sekolah 12 tahun saya sudah bisa ngomong R? Tidak. Apakah kemampuan bahasa Inggris saya membaik? Juga tidak.

Jawaban satu-satunya adalah,di pondok saya menjadi sadar. Selama ini ternyata terlalu banyak mengeluh,terlalu banyak mengaduh. Hingga saya tak menyadari,dengan minus R,saya punya teman banyak,menjadi orang paling familiar,paling banyak dikenal.”Hifji Hifji siapa sih? Itu loh,yang orangnya nggak bisa ngomong R”. Lantas orang-orang pasti ber Oh besar. “Ohhh..ituu,iya iya tau”. Kata ustadz,setiap orang punya kekurangan dan kelebihan.

Baca Juga  Gurihnya Literasi di Pesantren

Kata ustadz,setiap orang diciptakan punya kekurangan dan kelebihan. Beliau menceritakan kisah Washil bin Atho,pakar teologi sekaligus pakar balaghoh yang masyhur. “Diceritakan Washil bin Atho adalah anak emas di kelas hingga membuat iri teman2nya. Tapi sudah menjadi rahasia umum bahwa Washil bin Atho’ punya kekurangan,yaitu cadel. Alias bermasalah dalam pelafadzan huruf ro’.

Akhirnya suatu ketika teman2nya ingin menjatuhkannya dengan cara menyuruh Washil bin Atho pidato di depan umum secara mendadak. Tapi apa yang terjadi? Washil bin Atho’ justru membuat seluruh orang berdecak kagum. Dia mampu berbicara dua jam penuh secara spontanitas dengan tanpa mengucapkan secuilpun huruf R”

Ah,ternyata selama ini saya terlalu berkecil hati.

Dan salah satu anugrah terbesar dalam hidup saya,bukanlah harta atau calon makmum yang sampai sekarang nggak dapat-dapat. Tapi saya baru sadar,betapa beruntungnya ternyata nama saya,bahkan orang tua, selama ini tidak mengandung huruf R sedikit pun. Muhammad Ikhsanul Hifji. Duh Gustii Bapak Emak,kesuwon ingkang ageng.

Bayangkan,dipondok ada santri satu spesies dengan saya. Cadel. Namanya Zakaria Al Anshory. Duh,saya tahu persis betapa dia berkali lipat lebih menderita dibanding saya. Sekedar dulu absen di kelas ketika semua siswa bilang “hadir”,saya musti bilang “ada”. Bukan maksud membuat guru seketika menoleh,tapi tak ada niat selain menghindari R layaknya kisah Washil bin Atho’.

Nah ini,bayangkan ketika santri baru disuruh perkenalan. Nama saya, Zakalia Al Ansholi. Duhh,belum lagi kalau ternyata nama ortu ada R nya juga. Double kill.

Hanya ada satu kata yang ada huruf R-nya tapi selalu saya sebut dengan lantang dan penuh percaya diri. Misalnya waktu liburan maulid atau mudik pas lebaran,di jalan ditanya orang “kok sarungan terus,nggak ribet dek?”. Akan saya jawab keras meski itu butuh perjuangan,”saya SANTL(R)I Pak!”

Oleh; M. Ikhsanul Hifji

Bagikan