Alasantri
hukum sikat gigi saat puasa

Menilik Hukum Sikat Gigi saat Puasa

Puasa sudah menjadi kewajiban dan menjadi rahasia umum bahwa orang berpuasa menjaga sesuatu agar tidak masuk ke dalam perut melalui lubang-lubang yang ada pada badannya termasuk mulut, dimana mulut ini menjadi sumber utama masuknya makanan dan minuman. Penjagaan ini membuat yang ragu-ragu apakah boleh orang berpuasa itu menyikat gigi karena sebagian orang khawatir akan masuknya pasta gigi ke dalam tenggorokan dan juga ke dalam perut. Sebagian lagi juga khawatir Apakah memasukkan sikat gigi ke dalam mulut termasuk memasukkan sesuatu ke dalam lubang yang dalam hal ini adalah membatalkan puasa? Lalu bagaimana sebenarnya hukum dari sikat gigi saat puasa?

Berikut ini penjelasan dari beberapa sumber tentang hukum sikat gigi saat puasa, yuk disimak. 

ولا يكره إلا للصائم بعد الزوال ولو صوم نفل

Dan tidak dimakruhkan memakai siwak kecuali bagi orang puasa setelah tergelincirnya matahari meskipun saat menjalani puasa sunah. [ As-Siraaj al-Wahhaaj I/17 ]. sikat gigi saat puasa-

Prinsipnya dahulu ketika belum ada sikat gigi, Rasulullah dan para sahabat menggunakan Kayu Arok untuk bersiwak. Kegiatan bersiwak sendiri merupakan sebuah kesunahan yang diajarkan oleh Rasul di kehidupan sehari-hari. Pada bulan Ramadan sendiri, bersiwak tetap menjadi sebuah kesunahan yang boleh dilakukan sebelum tergelincirnya matahari atau masuknya waktu Dhuhur. jika setelah tergelincirnya matahari seseorang bersiwak maka hukumnya berganti menjadi makruh.  para ulama juga menjadikan sikat gigi sama hukumnya dengan bersiwak, ya itu boleh dilakukan sebelum tergelincirnya matahari dan makruh dilakukan pada waktu setelah tergelincirnya matahari (waktu dzuhur).

Baca Juga  Asian Games dan Resonansi Kebaikan

Akan tetapi muncul sebuah pertanyaan dan juga permasalahan mengenai pasta gigi yang digunakan dan juga air yang digunakan untuk berkumur yakni pasta gigi saat ini memiliki rasa rasa yang bermacam-macam, berbeda pula dengan bersiwak, menyikat gigi juga menggunakan air untuk berkumur atau menghilangkan busa dari mulut. Lalu bagaimana menyikapinya? Dalam hal ini hukum masih tetap sama bahwa sikat gigi tetap boleh dilakukan yang menjadi sesuatu yang membatalkan puasa adalah bilamana ada air atau pasta gigi yang tertelan. Kehati-hatian menjadi faktor utama yang harus diperhatikan di mana kita harus bisa menjaga. Ketika kita menyikat gigi, hendaknya dilakukan dengan hati-hati dan perlahan agar tidak ada pasta gigi atau air yang tertelan.

Berdasarkan hal-hal di atas, yang bisa kita lakukan sebaiknya kita menyikat gigi ketika menjelang Imsak atau sehabis sahur, agar puasa kita yakin dan juga terjaga. Adapun bau mulut yang kadang muncul akan ternetralisir jika kita sudah menyikat gigi sebelum puasa dimulai, jika masih saja ada bau mulut yang muncul tidak ada salahnya karena bau Mulutnya orang berpuasa kelak akan menjadi bau kasturi. Waallahu a’lam.

Sumber:

http://www.piss-ktb.com/

https://web.facebook.com/PISS.KTB/
Bagikan

Tinggalkan Balasan