Bagikan

Sebelum melanjutkan membaca baiknya terlebih dahulu selesai dengan bacaan yang berjudul “ARTI DARI KATA SANTRI” mengapa demikian, karena tulisan kali ini ada sedikit korelasi dengan judul diatas.

Literasi di pesantren sudah dari dulu berkembang. Para Kyai dahulu sudah sangat menguasai literasi (nahwu shorof), hal ini kemudian diteruskan kepada para santri dengan berbagai penerapan metodenya, distulah literasi bersinggungan dengan dunia pesantren. Literasi menurut KBBI diartikan dengan kemampuan menulis dan membaca, pengetahaun atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas.
Literasi dalam dunia pesantren lebih kepada gaya membaca teks-teks arab, mulai dari susunan kata sampai kalimat, bahkan dengan sastra arab sekalipun, dunia pesantren tak ketinggalan. Biasanya santri yang baru masuk pondok akan diajarkan ilmu alat terlebih dahulu, seperti ilmu shorof, I’lal, I’rob, nahwu, balaghoh dan lain-lain. Setelah semua dianggap mampu atau lulus dari ujian maka santri akan diajari ke jenjang selanjutnya dari bagaimana pesantren terapkan.

Penulis mengambil kesimpulan dari apa yang diajarkan kepada kami selaku santri, bahwa literasi mempunyai hubungan erat. Seperti tulisan sebelumnya santri mengaji dengan dua metode yaitu sorogan dan bandongan. Nah, dari sorogan ini kita mulai meraba-raba betapa rumitnya membaca bahkan sampai memahami teks Arab, bukan melulu dari tarjemah yang sudah banyak tersedia dan dengan mudah kita jumpai.

Jangankan beda huruf! Lawong harokat-nya berubah saja arti dan cara membacanyapun pasti akan merubah semuanya. Faham gak sih? Kalo berbicara sedetail mungkin pasti akan rumit, pun nggak hanya dengan waktu yang singkat untuk memahaminya. Penulis saja butuh waktu sampai dengan 2 tahun untuk faham metode memaknai gandul itupun belum sepenuhnya, yang pasti dengan usaha yg keras.

Kita ambil satu metode I’lal contohnya, I’lal dikalangan pesantren biasanya difahami dengan merubah huruf I’llat (pengecualian) seperti wawu, ya’ dan alif supaya ringan atau mudah dalam membacanya, karena lidah orang Arab itu tak se-elastis lidah orang Jawa. Hehehe. Nah, untuk mempelajarinya tentu kita terlebih dahulu harus memahami wazan-wazan fi’il (kata kerja). Cara merubah huruf ‘illat sendiri berbeda-beda caranya dan berbeda pula kaidahnya. Toh nggak semua huruf bisa di i’lal-kan. Terkadang perubahan huruf ini dengan cara ditukar, dipindahkan tanda baca/harakat/syakal, disukunkan, bahkan sampai membuang huruf.

Baca Juga  Ritme Pesantren dan Pembentukan Pribadi Antikorup

Satu contoh huruf صَانَ bentuk asalnya صَوَنَ, huruf wawu diganti dengan huruf alif. Dengan alasan huruf wawu berharokat fathah atau mendapatkan harokat sedangkan huruf sebelumnya berharokat fathah ‘ala wazni fa’ala. Itu satu contoh, masih banyak contoh-contoh yang lain. Mungkin bila mana ingin mengetahui secara detail, yaaa silahkan masuk ke pesantren salaf dengan alasan bertaqorrub ngalap barokah dengan para kyai biar berkah. Dari paparan penulis diatas jelas sudah bahwa antara pesantren dan literasi memilik korelasi yg kuat, ya kita tau lah kalau literasi itu kemampuan individu membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yg diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.

Jadi sudah bisa disimpulkan bahwa pesantren dan literasi sangat erat kaitannya bila ditinjau secara bahasa. Karena santri tahu untuk memahami sebuah teks arab tidak melulu diterjemahkan secara leterlek, ya kita tau dan faham bila menerjemahkan teks Arab tidak semudah membalik tempe yg sedang digoreng, harus melalui step-step yg lebih rumit dari mencari jarum didalam tumpukan jerami.

Bila kita sudah tidak kuat ya pastinya bertabayyun dengan menanyakan hal tersebut kepada kyai, bila masih tidak mnemukan jawaban ya sudah kita lebih memilih diam saja. Karena kita takut bila apa yg kita keluarkan salah dan disebarluaskan dari mulut ke mulut, maka jelas urusannya akan masuk dalam catatan malaikat munkar nakir.

Lalu yang menjadi pertanyaan “Bagaimana bila dipertemukan dengan teks-teks ber-Bahasa Indonesia atau info-info yg belum mengerti kebenaran atau kesalahan info tersebut dan denganya kita mudah mengakses semua info dimanapun serta kapanpun?”
Mungkin jawaban dari penulis seperti kebiasaan yg dilakukannya dengan mencari pembanding dari info yg didapat. Bilamana info dari kedua belahpihak masih saling menjatuhkan ya bertabayyun dengan para kyai, karena memang tidak semua kyai hanya fokus dalam bidang agama saja. Toh kyai yg bergulat dalam politik, sosial atau diluar kepesantrenan sudah banyak tapi so pasti lah beliau-beliau tidak lepas dari ke-santri-anya.

Baca Juga  Serbi-Serbi Halalbihalal Alasantri

Bilamana penulis masih kurang puas dari hasil yang telah di ijtihad-kan ya sudah, penulis hanya diam dan tidak membicarakan dan menyebarkan atau malah mengolok-olok dari hasil yang didapat. Dari hasil ijtihad sekecewa apapun itu ya kita ikut saja dengan beliau. La kok bisa? Kenapa nggak, kita santri kita juga manut dengan ngendikan kyai kitapun masih percaya dengan barokah. Dari sedemikian rumit dan perjalanan panjang untuk memahami sebuah teks memang membutuhkan waktu yang panjang. Persis seperti nasihat salah satu imam 4 madzhab, beliau Imam syafi’i berpesan أخي لن تنال العلم إلاّبستة سأنبيك عن تفصيلها ببيان:ذكاء وحرص واجتهاد ودرهم وصحبة أستاذ وطول الزمان yang artinya “Wahai saudaraku, ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara yang akan saya jelaskan perinciannya: kecerdasan, semangat, bersungguh-sungguh, berkecukupan, bersahabat (belajar) dengan guru, membutuhkan waktu yang lama.”

Bagaimana? Sudah jelas kah?
Selain waktu yang lama dalam menimba ilmu ya kita juga tentunya didorong dengan skill kecerdasan otak, rasa semangat lalu kesungguhan hati. Semua manusia itu sejatinya tidak ada pintar dan yang bodoh, yang membedakan hanya mereka yang bersungguh-sungguh dan mereka yang bermalas-malasan. Nah ini problem kita bersama, mungkin berawal dari rasa malas namun rasa ingin belajar agama secara instan lalu belajar agama dia melalui syekh google. Aduh mama sayangeeeh, itu keliru bro. Agama itu tidak serenyah rempeyek warteg, kalau toh malas ya bertanya dengan kyai atau orang yang disepuhkan di desa atau sampai kecamatan lah bila perlu. Bila temen-temen meninggal lalu ditanya oleh kedua malaikat, mereka itu tidak tau siapa itu syek google. Hati-hati dengan semuanya yang serba instan, mungkin hanya mie instan dengan rebusan telur dan beberapa potongan cabai saja yang lezat, pun yang lain belum tentu lezat.

Baca Juga  DUNIA KULIAH DAN SANTRI

Sudahlah, bilamana diantara kita terjadi hal demikian ya kita arahkan. Terlepas dari itu semua, secara tidak langsung disadari atau tidak pesantren dan literasi memiliki kaitan yang begitu erat walaupun dilihat dari berbagai sisi. Para santri tau dan sadar pula bila melakukan sesuatu tidak akan sembrono, dengan alasan kehati-hatian lebih diutamakan dari pada resiko. Bila resiko akan terjadi biasanya para santri akan meminimalisir dengan sedemikian rupa agar resiko itu tidak terjadi. Mungkin kesimpulan sudah terbesit dipikiran kita semua. Yang terpenting kita harus bisa membedakan mana yang sekiranya menjadi maslahat dan mana yang akan menjadi madlorot bila sudah bisa membedakan, maka jelas maslahatlah yang diutamakan.

Nurfajri Silmi, Kajen

Bagikan