Bagikan

Bicara Indonesia tak bisa lepas dengan kaum santri
Bukan saja karena eksistensinya sudah jauh sebelum republik berdiri
Bukan saja pula karena semangat kebangsaan kaum santri sudah teruji
Tapi juga karena kaum santri adalah pengawal utama keluhuran budaya di negeri ini
Ulama-ulama Nusantara telah berperan besar memberikan nilai tambah kepada setiap nilai budaya hasil akulturasi, asimilasi, bahkan inovasi
Nilai tambah itu berupa nilai-nilai etik,
yang berpadu dalam spirit religiusitas dan karya artistik yang dipercantik dengan nilai sufistik

Di ndalem para kyai kini terpajang kaligrafi arab indonesia, bertuliskan ayat atau hadits sebagai nasihat suci
Bu nyai dan para ning tak sungkan berkebaya tetapi tetap mengenakan jilbab sebagai penutup aurat
Di zaman walisongo sunan kalijaga menciptakan wayang,
untuk berdakwah lewat seni pertunjukan
Sedangkan di malam ini,
Syair berdarah ala arya dwipangga mungkin akan berubah menjadi puisi bersyariah karya helvi tiana rosa

Kaum santri tidak sulit memberikan nilai tambah spiritualitas pada suatu budaya,
Karena dalam diri mereka terkandung sikap moderasi agama
Terlebih sikap moderasi itu mewujud dalam budaya keseharian pesantren
Berupa empat hal, yaitu: kebersamaan, kekeluargaan, kesederhanaan, dan kemandirian
Keempat hal itu saling berkelindam sebagai ciri khas kaum santri

Ciri pertama, kebersamaan
ketika para santri berasal dari daerah berkumpul dalam satu lingkungan dalam jangka waktu lama
kebersamaan adalah keniscayaan
untuk mencapai keharmonisan setiap santri dituntut mementingkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi
berat sama dipikul ringan sama dijinjing
dicolek satu semua menoleh
satu nampan asiknya dinikmati rame-rame
Nilai spiritualitas yang terbangun dari semua itu,
adalah upaya yang tak berkesudahan untuk senantiasa memanusiakan manusia

Ciri kedua, kekeluargaan
yaitu menganggap satu sama lain ibarat keluarga sendiri
beserta segala peran dan konsekuensinya
bahkan panggilan pun mencerminkan panggilan kekeluargaan,
meski tak sedarah
sebut misal,guru dipanggil Mbah atau Abah
santri senior disapa kang
santri yang dihormati disebut pak dhe atau paman
santri sesama alumni satu pesantren disebut dulur tuwo, dulur enom
belum kenal pun asalkan tau sama-sama santri,
panggilannya tetap bernuansa saudara dengan panggilan, ya akhi
dari sini terjagalah silaturahim sebagai bagian dari pelajaran asah, asih, asuh
berpendapat maupun berpendapatan beda itu biasa
asalkan jaga seduluran

Baca Juga  Perebutkan Piala Presiden, Festival Sholawat Nusantara Dihelat Serentak

Ciri ketiga, yaitu kesederhanaan
demi mengimbangi berbagai keterbatasan para santri membiasakan hidup sederhana
menikmati sesuatu secukupnya dan tidak mengumbar keinginan
ini sama artinya belajar mengendalika hawa nafsu, melatih kesabaran, dan tidak kagetan
tidak silau dengan kemewahan atau kekuasaan
bagi sebagian santri kenikmatan itu hakikatnya tidak lah muluk-muluk
misal bisa tidur tanpa kasur atau kopi seadanya
lunas setoran hafalan itu sudah kenikmatan,
atau menyambut pagi dengan senyuman
tidak ditakzir maksudnya

Ciri keempat, kemandirian
hidup jauh dari orangtua seorang santri harus mandiri
tidak bergantung oranglain dalam memenuhi kebutuhan maupun menuntaskan persoalan hidupnya
mandiri bisa juga berarti independen dalam berpikir idealis dalam bersikap
sehingga menumbuhkan wibawa muru’ah atau integritas
sebuah modal penting untuk mengukuhkan diri dalam amar makruf nahi mungkar

Melihat keempat hal tadi,
nampak lah bahwa nilai-nilai religi kaum santri
bukan semata berorientasi kesolehan individual
lebih dari itu kaum santri menularkan religiusitas personalnya,
untuk membentuk perilaku masyarakat yang lebih baik
Dengan kata lain,
kesolehan sosial menjadi jembatan menuju derajat istimewa di hadapan Sang Kholiq
sebab itulah para kyai lebih mengutamakan isi ketimbang bungkus
mereka memberikan keteladanan akhlaq dalam setiap interaksi sosial,
dan menyelipkan kebajikan dalam setiap dialog sosial,
dan tanpa pamrih dalam memperjuangkan kepentingan sosial
Bukan memaksakan doktrin agama untuk ditelan mentah-mentah
Mereka menyadari bahwa setiap hikmah berasal dari sebuah proses,
Sedangkan hidayah adalah hak priogratif dari sang khaliq
kesalehan seorang santri tidak dilihat dari penampilan sok suci
dan tanda-tanda fisik ahli ibadah
Melainkan dari pengaruhnya terhadap masyarakat dalam pergaulan santri kedalaman ilmu dan kebijaksanaan diri seringkali digambarkan dengan secangkir kopi

Baca Juga  Ta’zir: Sebuah Upaya Pertanggungjawaban

Santri yang malas dan tidak produktif,
dianggap kurang ngopi
Santri yang emosional dan gampang dibohongi,
pertanda ngopinya kurang pahit
Santri yang kuper atau kudet,
berarti ngopinya kurang jauh
Santri yang suka ngeyel dan mudah menyalahkan orang lain,
tandanya belum pernah menyeduh kopi
Adapun santri yang mementingkan dirinya sendiri,
itu jelas sukanya kopi gratisan
Tapi kalau ada santri jam segini belum ngopi,
itu cuma perkara belum dapat rejeki

Kaum santri dan pecinta kopi yang berbahagia,
Seorang ulama pesantren Syekh Ihsan dari Jampes Kediri Jawa Timur
Mengarang kitab irsyadul ihsan fi bayanil qohwah wad dukhon
petunjuk umum untuk kopi dan rokok,
disebutkan kopi adlaah minuman para ulama
karena bisa meningkatkan konsentrasi dan mempertajam intuisi
Diulas pula perdebatan fikih tentang hukum menyeruput kopi
Maklum kopi sudah terlalu jauh masuk kewilayah pesantren
sampai ada adagium bahwa penggerak utama pondok pesantren,
sesungguhnya terdiri dari empat hal:
kyai, santri, mengaji, dan ngopi

Disini saya tak hendak mengajak antum semua untuk ngopi,
Tapi saya justru ingin mengingatkan pesantren bukanlah warung kopi
Pesantren adalah tempat menuntut ilmu dan menimba pengalaman
Tempat untuk mendalami bahwa hidup itu,
Ibarat menikmati kopi
Ada pahit manis yang bikin melek hati
Sebagai majelis pengetahuan, kopi pun menjadi bahasan ulama dalam karya tulisnya
Ini artinya ilmunya para kyai,
tidak sebatas perkara salat sampai haji
Tak cuma soal membasuh muka sampai menata hati
Tapi juga urusan menyeruput kopi

Hal yang saya garis bawahi di sini adalah,
Betapa kuat budaya literasi kaum santri
Sampai sempat-sempatnya menulis tentang kopi
Boleh jadi lantaran mereka tak kan pernah lupa,
bahwa literasi adalah tradisi asli para ulama dan kyai
Memang terbukti bahwa penyebaran ilmu lewat tulisan,
lebih dapat masif dan awet ketimbang lisan biasa
Kita mengenal ulama besar, imam madzhab
Alghazali dan lain-lain lantaran karya-karya tulisannya
Ulama Nusantara semisal Syekh Nawawi Al Bantani, Syekh Yasin Al Padangi
dan ulama-ulama lain yang kaya dengan karya tulisnya,
Pada generasi-generasi berikutnya,
kita pun mengenal tafsir ibris karya Almarhum Almaghfurlah KH. Bisri Mustofa
Sampai buku fiqih sosial karangan Almarhum KH. Sahal Mahfudz dan seterusnya

Baca Juga  Festival Rebana Kreatifitas Santri Nasional

Di masa kini tentu saya menunggu karya santri dan santriwati tercinta,
tantangan saya kepada santri untuk menulis sungguh bukan hal istimewa
Sebab budaya literasi tentu tak asing di bilik-bilik pesantren
Ia tumbuh subur karena sejak awal mondok,
santri telah diajari ilmu dasar agama dengan kitab-kitab standar,
dan dilatih pula ilmu alat seperti nahwu sorof yang berkaitan dengan tata bahasa
Semakin naik kelasnya, pelajarannya pun meningkat
Metode pembelajarannya juga variatif,
mulai dari hafalan tahfidz, musyawarah, diskusi, bahtsul matsail, fathul kitab,
muqaranah, imla’, pelatihan mengarang ditambah hingga latihan berdiplomasi
dan pidato mukhadoroh
Tidak cukup itu, santri dibiasakan menerapkan akhlaq
Agar terbangun karakternya
Akhlaq santri bersifat komprehensif meliputi akhlaq kepada Allah SWT, adab kepada orang tua atau guru, sopan santun terhadap sesama, serta sikap baik terhadap lingkungan

Santri diharapkan memiliki budi pekerti seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah
Akhlaq tidak sekedar jadi pelajaran,
Melainkan diimplementasikan dalam keseharian
Ketika santri berinteraksi dan berkomunikasi dengan komunitas pesantren maupun masyarakat umum
Banyak sikap mulia yang selaras antara ajaran agama dan standar moral masyarakat Indonesia dibiasakan di pesantren,
agar santri memiliki kepekaan sosial yang tinggi,
misalkan tolong menolong, rukun, damai, tanggung jawab, dan tenggang rasa

Sepulang dari pesantren, santri diharapkan memiliki tiga karakter
Pertama, Karakter bidang keilmuan yang disebut tafaqquh fid din
Kedua, Karakter bidang moral yang disebut akhlaqul karimah
Ketiga, Karakter bidang sosial dinyatakan dengan khoirun nas anfa’uhum linnas
Ketiganya menjadi modal besar,
untuk menjadikan santri sebagai manusia-manusia mulia yang berkualitas tinggi

(Orasi Menag Lukman Hakim Saifuddin: Dalam acara Malam Kebudayaan Santri di Panggung Krapyak Yogyakarta, 10 Oktober 2018)

Bagikan