Bagikan

“Ilaahii lastu lil firdausi ahlan, wa laa aqwa ‘ala nariljahiimii”
“fahabli taubatan waghfir dzunubi fainnaka ghafiru dzanbil ‘adzimi”

Suara riuh canda santri-santri kecil membuyarkan lamunanku membayangkan Abi Umi, padahal belum ada sehari saja sudah rindu. Begitu juga ku lihat tetesan air mata mengalir di pipi santriwati sebelahku yang belum ku ketahui namanya.

Tidak lama kemudian, Abah, panggilan pengasuh ku di pesantren ini, beliau hadir saat santri mulai mengalunkan sya’ir i’tiraf, tanda para santri sudah siap untuk melaksanakan sholat ashar. Begitu hari pertamaku di pesantren, tidak ada satupun santri yang aku kenal. Dengan suasana yang sangat asing, hiruk pikuk tangis bocah yang baru lulus sekolah dasar, sebayaku.

Sampai akhirnya aku bertahan tiga tahun disana, dengan kesibukan sekolah dan pengajian qur’an, kitab-kitab kuning, juga kegiatan pesantren lainnya, hingga kini aku sudah jadi mutakhorijat salah satu pondok pesantren di kota Kudus dan telah menyelesaikan pendidikan Madrasah Tsanawiyah. Pengalaman yang menjadikan adanya cerita perjalanan, pun juga yang akan menghadirkan kenangan. Begitu kini, rinduku pada kota Qudsy dan semua cerita di pesantren yang menjadi langkah awalku untuk bertekad menjadi santri selamanya. Karena yang aku tau tidak ada yang namanya mantan santri.

Ku putuskan untuk boyong setelah diwisuda.

Perjalananku di pesantren belum berakhir. Ku niatkan untuk kembali merantau, setelah pertimbangan orangtua, karena disini posisiku sebagai putri dari Abi Umi dan harus manut dengan keputusan mereka.

“Ning Ainun, mau lanjut dimana habis ini? Kang-kang santri putra ada yang ngincer sampeyan lho,”

Sontak aku kaget, ketika mbak-mbak ndalem ada yang bilang seperti itu. Selama tiga tahun di kudus aku memang belum menemukan sosok yang berhasil membuatku jatuh. Iya, jatuh hati. Padahal tiap berangkat sekolah aku harus melewati madrasah putra di sebelah pesantrenku.

“Mbak Salsa apa toh? Hehe, di Jogja mbak, insyaAllah”, jawabku terkekeh.

Sudah bisa dipastikan awal bulan Ramadhan nanti aku berangkat ke Yogyakarta, sekalian langsung ngaji pasaran.

Pena mengajakku menyusuri kenangan Yogyakarta 2007.

“Ilaahii lastu lil firdausi ahlan, wa laa aqwa ‘ala nariljahiimii”

“fahabli taubatan waghfir dzunubi fainnaka ghafiru dzanbil ‘adzimi”

Suara menggema memecah langit fajar kota budaya itu, setelah mengumandangkan adzan subuh, muadzin mengalunkan sya’ir yang terkenal dengan kisah abu nawas itu, sembari menunggu santri-santri bersiap menuju masjid. Mengingatkanku pada cerita Abi masa kecil lalu sering mendongengkanku kisah lucunya abu nawas, pun juga syair yang mengingatkanku pada pesantren pertamaku di Kota Kudus.

Baca Juga  NING LANA #2

Pasti dengan lain cerita, lain kisah, lain pelajaran, dan akan jadi lain kenangan. Semakin lebih ku mengerti arti pesantren disini, bukan hanya sorogan, bandongan, setoran Alqur’an, bahkan arti tentang Bhinneka tunggal ika pun aku menemukannya disini.

Tentang rasa yang dianugerahkan-Nya pada setiap makhluk-Nya, pun aku mulai mengenal, mulai mengerti bagaimana aku mengagumi sosok bersarung, berpeci, yang tidak bisa dipungkiri lagi bahwa hati ini benar-benar telah jatuh, dan biarkan terjaga.

Rutinitas keseharian di asrama pondok ini kujalani apa adanya, dan sampai dua tahun ini aku berhasil melewati bermacam kegiatanku di Madrasah Aliyah dan di pesantren dengan segala macam hiruk pikuk tugasku setiap harinya. Tetapi aku selalu tak hentinya bersyukur selalu diberi kebahagiaan disini.

Libur lebaran idul fitri berakhir.

10 Syawal inilah biasanya santri-santri sudah diharapkan untuk kembali ke pesantren dan libur ini pun libur yang paling beda dari libur-libur yang lain, liburan ini lebih lama dan yang menjadikan liburan ini beda, setiap anak pasti bawa oleh-oleh dari daerah asalnya, bukan hanya dari daerah pulau jawa, pun juga dari pulau kalimantan, sumatra, sulawesi, se-Indonesia pun tanpa kita harus ke tempatnya langsung menyusuri pulau-pulau, kita bisa merasakan nikmatnya makanan khas Indonesia yang sangat bermacam-macam. Apalagi pasti Insya Allah berkah.

“Ning, ada yang titip surat tadi buat sampeyan”, bisik salah satu mbak-mbak pembimbing kepadaku.

“Mbak, jangan panggil aku ning, kita disini santri semua, gak enakan aku kalau sampai teman yang lain denger”, bisikku memperingatkan, “Titipan surat apa mbak?”, lanjutku.

“Hehe iya maaf mbak, ini tadi saya rapat pembimbing sama santriwan, ada yang nitip ini katanya buat mbak ‘Ain asal Demak, siapa lagi kalau bukan sampeyan toh”.

Baca Juga  Sembilan Pertanyaan Tentang Santri Baru

“Oh iya mbak, matur suwun nggih”, kuterima surat beramplop coklat yang bertuliskan namaku, tidak kuketahui dari siapa pengirimnya. Kembali ke kamar, kemudian aku membukanya.

Dari : Faruqi

“Ilaahii lastu lil firdausi ahlan, wa laa aqwa ‘ala nariljahiimii”
“fahabli taubatan waghfir dzunubi fainnaka ghafiru dzanbil ‘adzimi”

Ku awali surat ini dengan syair I’tiraf, entah mengapa aku meyukai syair ini,karena artinya yang begitu dalam,atau mungkin karenamu. Karenanya aku sering diam-diam melihatmu, saat berangkat jama’ah sholat shubuh.

Langsung saja, aku hanya ingin mengungkapkan rasaku, sudah lama aku memendamnya, dan sampai nanti pun aku akan menjaganya.

Aku mengagumimu ning, aku sudah banyak mendengar tentangmu dari Abah Ibuku, beliau pun sering didepanku memujimu, namun beliau belum tahu, kalau aku pun ikut kagum dengan sosokmu. Mungkin esok sebelum aku berangkat ke maroko untuk melanjutkan studi ku disana, aku akan bilang ke Abah dan Ibu.

Dan sampai saat ini pun aku tidak tahu, entah kamu menyadarinya atau tidak. Terimakasih Ning.

Disini juga aku sekalian pamit, Ahad besok aku harus berangkat ke Maroko. Ku harap hati ini masih terjaga, dan sampai aku kembali nanti. 

Khatamkan hafalanmu,’Ainun.

Wassalamu’alaikum warahmatullah.

“Allah”, hanya bisa ku menyebut-Nya dan tanpa kusadari aku menangis.

Gus faruqi, dia yang selama ini pun juga aku idamkan, tapi aku merasa tidak pantas untuknya, banyak santri-santri lain pun yang mengagumi ilmu, akhlaq dan ketampanannya.

Mengapa ia baru mengungkapkan ini padahal besok ia pergi? Allah, aku hanya ingin menjaga perasaan ini, menjaga hati ini untuknya.

Benar-benar aku terdiam, tidak tau bagaimana caranya aku mengungkapkan rasaku padanya, bahkan aku tidak pernah menyangka akan seperti ini. Aku mencoba fokus pada sima’an nanti di ndalem.

“Apa dia sudah bilang ke Abah Ibunya? Beliau semua itu guru ngajiku, aku takut”

Sudah sebulan Mas Faruq pergi sampai saat ini pun tidak ada kabar, sampai akhirnya ku tunggu dua bulan, tiga bulan, keluarga ndalem pun sepertinya tidak ada apa-apa, ku harap mas Faruq pun sehat dan lancar semua disana.

Baca Juga  Ta’zir: Sebuah Upaya Pertanggungjawaban

Bulan berganti tahun. Kini aku sudah di wisuda Madrasah Aliyah, mungkin aku masih akan disini untuk menyelesaikan hafalan dan akan melanjutkan kuliah. Libur pasca wisuda sekolah aku pulang ke Demak untuk mempersiapkan segala keperluannya untuk kuliah.

Malam itu aku membuka salah satu akun media sosialku, dengan sontak aku terkagetkan adanya satu pesan dari gus faruqi, yang sudah sejak dua tahun lalu aku sudah tau itu akunnya, namun kita tidak pernah saling menyapa.

Dari : Faruqi Ahmadi

“Ilaahii lastu lil firdausi ahlan, wa laa aqwa ‘ala nariljahiimii”
“fahabli taubatan waghfir dzunubi fainnaka ghafiru dzanbil ‘adzimi”

Ainun, aku benar-benar rindu syair itu.

Aku rindu kampung halaman, mungkin aku tidak pulang sampai setelah wisuda nanti.

Kapan kamu berkunjung ke Maroko? Hehe, aku tunggu.

……………………………………………..

 

Begitu panjang pesan pertama dari mas Faruq ini, sampai-sampai akan menangis dan tertawa sendiri, sepertinya dia benar-benar rindu. Sosoknya yang humoris pun aku menemukannya disini.

“Aku merindumu, mas”, bisikku dalam batin.

Percakapan mulai mengalir malam itu, benar-benar aku bahagia bisa mengenal sosoknya lebih dekat.

Entah skenario indah apalagi yang akan direncanakan-Nya untukku.

Terimakasih, ya Allah, tak hentinya aku bersyukur akan nikmat-Mu.

 —

Berjuta cerita kehidupan, tentang memaknai hidup, belajar, ngaji, kebersamaan, kebahagiaan, cinta, semua aku menemukan pelangi kehidupan di pesantren.

“Ilaahii lastu lil firdausi ahlan, wa laa aqwa ‘ala nariljahiimii”
“fahabli taubatan waghfir dzunubi fainnaka ghafiru dzanbil ‘adzimi”

Kemudian dilanjutkan syair-syair indah dari sang pelantun mengiringi kami naik menuju panggung khotmil qur’an. Tiada kenikmatan yang lebih indah dari ini, kenikmatan menjaga Alqur’an, kenikmatan mengaji ilmu-ilmu agama.

“Terimakasih Abi,Umi, Kyaiku, ustadz-ustadzahku,kawan-kawanku, tanpa mereka aku tidak akan akan menikmati indah kenikmatan yang seperti ini” ucapku lirih sambil menahan tangis bahagia.

Satu kejutan di malam yang sangat indah dalam hidupku ini, Gus Faruqi pulang ke Indonesia untuk mengadiri khotmil qur’anku. Terimakasih, gus.

Bagikan