Bagikan

Malam selalu menyimpan rahasia, gelapnya seolah teka-teki antara hitam dan kelabu. Malam selalu memberi ruang untuk bertanya tentang rahasia pagi yang berada di baliknya, malam selalu saja tak terkaji meski bait-bait nadzom telah berganti rhythm. Malam ini paling kejam, gelapnya menutup sinar-sinar lain yang datang di mataku, semua kilat cahaya seolah ditelannya mentah-mentah tanpa sepah. Ironisnya, gelapnya yang pekat ini tak menghanyutkanku dalam kantuk, sebaliknya malah membuatku terus terjaga dan tak sedikitpun terkantuk.

Aku sendiri sudah berada di ranjangku yang empuk sedari dua jam yang lalu, kedua mataku belum juga terpejam. Malam yang semakin larut seolah tak memberikan pengaruh apapun kepadaku, rasa kantuk yang biasa hadir lebih awal seolah lenyap tanpa ada bayang sedikitpun. Aku mencoba memaksakan diri memejamkan mata, urat-urat sekeliling bola mata kutarak untuk menutup keseluruhan kornea mataku, namun tetap saja usahaku tak membuahkan hasil. Selalu saja ada cahaya terang yang muncul dari dalam bola mata yang membuat pedih kala mata terpejam.

Jika saja perbincangan dengan Abah tentang keinginan Abah punya mantu tidak dari keturunan pesantren tidak terjadi, pasti aku sudah terlelap memeluk mimpi pada lembah ketenangan. Kini aku hanya bisa melihat ego dan perasaanku bertarung. Aku yang sedari dulu tidak pernah ingin terlibat dalam sebuah perasaan kepada lawan jenis, karena aku faham bahwa aku pasti akan dijodohkan oleh Abah, kini harus melewati fase berpikir kedua dimana bisa saja aku mencari calon dan melaporkannya kepada Abah atau Abah yang akan tetap mencarikan untukku. Egoku lebih memilih menerima apa yang akan dipilihkan Abah untukku, namun perasaanku berontak untuk bisa mencari sendiri.

Pertaruangan tanpa henti itu membuat malamku tak terasa dan terlewatkan begitu saja, seolah aku tak punya malam lagi.

***

Pagi datang dengan tiba-tiba, seolah kilatan yang datang tanpa memberi permisi sedikitpun. Setelah selesai dengan semua kegiatan di pagi hari yang kulakukan dengan sangat berat, akhirnya aku memiliki waktu untuk kembali merenung. Aku termenung di kursi di depan meja belajar di kamarku. Tidak biasanya aku bisa melamun seperti ini, aku wanita yang selalu fokus dalam menjalankan sesuatu. Aku selalu memastikan diri untuk menjalankan sesuatu yang aku rencanakan, tapi entah berbeda dengan saat ini, semua terasa membingungkan. Logika seolah bertabrakan dengan hambarnya rasa yang ada di dalam diriku. Aku seolah merasa asing dengan diriku sendiri, aku tak faham dengan apa yang terjadi.

Aku terkaget kala lenganku ditepuk dari belakang.

“Ning, malah nglamun!” ternyata puput sudah berada di belakangku.

“Dipanggil Ibu, Ning” ungkapnya melanjutkan.

“Oh, iya Mbak Put” jawabku pendek mengalihkan.

“Mikirin apa toh, Ning?” Mbak Puput ternyata masih mengejar jawaban dari sikapku. Aku yang memang jarang melamun akan sangat terlihat jika sedang memikirkan sesuatu.

“Lagi bingung, Mbak Put” jawabku pendek tak bisa menyembunyikan kepada perempuan yang sudah kuanggap saudaraku sendiri itu.

“Lana, Nduk” saut Ibu dari dapur terdengar hingga ke kamarku. Akupun langsung melirik Mbak Puput dan memberikan kode dengan mengangkat alis tanda bahwa aku harus menemui ibu.

“Nanti aku ceritain, Mbak Put”. sambil berlalu aku meninggalkan Mbak Puput yang terlihat penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya denganku.

Baca Juga  SEGARIS RAGU (VOL 14)

Kutinggalkan Mbak Puput dan berjalan menuju dapur rumahku menemui ibu. Sesampainya di dapur terlihat Ibu yang sedang berdiri di samping pintu dapur. Di pintu dapur bagian luar terlihat seorang Kang Santri dengan sarung coklat bermotif garis-garis lebar dan baju koko yang bersih dan peci hitam yang sudah mulai lusuh. Kang santri itu menunduk di depan Ibu dan tak berani menatapkan matanya kecuali hanya melihat ke bawah.

“Nggih, Bu” Sapaku kepada Ibu.

“Ini ada yang nyari” Jawab Ibu sembari menunjuk Kang Santri yang masih saja menunduk, wajahnya tak bisa kulihat dengan jelas siapa sebenarnya dia? Bertambah kaget lagi ternyata dia mencariku. Kang Santri itu tambah menunduk rupanya di hadapan Ibu dan Aku.

“Ini, ada paket, Ning” kalimat itu keluar dengan perlahan dari mulut Kang Santri. Kedua tangannya menjulurkan sebuah bungkusan plastik hitam yang terbungkus rapi. Terlihat tangannya gemetar memegang paket itu, aku hanya menahan tawa melihat sikap Kang Santri itu. Mungkin yang membuatnya demikian adalah karena ada Ibu di hadapannya. Bingkisan itu adalah paket dari temanku yang ada di Bandung yang memiliki usaha jilbab, dia sangat dekat denganku hingga ingin mengirim jilbab produknya.

Kugapai bingkisan yang ada di tangannya dan meraihnya. Sekejap kang santri itu mengangkat wajahnya untuk memastikan bahwa bingkisannya tepat dengan tanganku, terlihat wajahnya sekejap. Wajahnya terlihat tenang dan pemalu. Entah Kang santri ini adalah santri madrasah atau seorang pengurus, yang jelas wajahnya masih tampak muda, aku juga tak pernah berhubungan dengan kang santri.

Kuucapkan terima kasih kepada Kang santri itu dan hanya dibalas dengan tundukan. Setelah memberikan bingkisan, Kang Santri langsung undur diri dengan berjalan mundur beberapa langkah sebelum akhirnya berbalik dan berjalan meninggalakan rumah. Ibu menatapkku dengan sebuah pertanyaan yang terlihat ingin tahu apa isi paket yang ada di tanganku.

“Jilbab, Bu. Dari Nia yang dulu pernah kesini” ucapku memberitahu Ibu.

“Oh, yang dari Bandung itu?”

“Nggih” jawabku pendek. Ibu kemudian menuju rak gelas-gelas dan meraih beberapa gelas. Sepertinya akan ada tamu yang datang ke rumah. Tidak biasanya ibu membuka rak gelas-gelas, ibu terlihat memilih gelas yang bagus dan mengumpulkan pada satu tempat.

“Sepertinya nanti sore, Pak Kyai Wahab akan kesini, Nduk” rupanya Ibu sudah membaca gerak-gerikku yang memperhatikan Ibu mengumpulkan gelas-gelas. Aku hanya mengangguk pelan sembari memegang paket yang baru kuterima. Ibu masih terus membersihkan gelas-gelas yang dikumpulkannya dengan kain lap biru.

“Dan sepertinya ingin melamarmu, Nduk” tambah Ibu membuatku kaget. Kalimat pendek itu seperti petir yang berlalu di depanku dengan sangat cepat. Apakah ini memang sudah masanya dimana aku harus benar-benar memikirkan hal ini.  sudah sedikit tenang dengan adanya bingkisan dari sahabat, tiba-tiba datang lagi kabar yang harus menganggu pikirku.

“Trus pripun, Bu?” tanyaku sedikit ngotot.

“Bapak sudah bulat dengan keputusannya, jadi ya akan ditolak” aku mendengarkan dengan perlahan dan hati yang kucoba tegarkan. Aku tak ingin ada suasana mellow di rumah.

Baca Juga  SEGARIS RAGU (VOL 6)

“Bu” panggilku pelan.

“Nggih” jawab Ibu pelan masih dengan gelas-gelasnya.

“Sebenarnya, Lana akan tetap dipilihkan Abah meski bukan Gus atau Lana harus mencari sendiri?” Tanyakku memberanikan diri kepada Ibu yang mendadak menghentikan mengelap gelas dan kemudian berbalik menghadapku. Senyumnya melebar dengan mata yang tajam. Ibu menatap dalam-dalam mataku, mungkin ibu sudah menemukan kebingungan dalam pandanganku.

“Abah belum bilang sampai kesitu, tapi Lana juga bisa aja kalo mau nyari.” Ibu menjelaskan dengan perlahan sembari masih memandang mataku. Pandangan Ibu semakin tajam memandangku, namun dalam tajamnya pandangan ada sebuah raut yang tidak biasa tiba-tiba muncul datang semakin kuat, seolah ada pertanyaan yang datang mencoba menyeruak.

“Apa kamu sudah punya calon?” tanyanya tiba-tiba dengan ekspresi menahan senyum.

“Ya belum toh, Bu.” Jawabku datar.

“Kirain” ucap Ibu dengan ekspresi datar dan sedikit tawa.

Ibu melanjutkan mengelap gelas-gelasnya dengan hati-hati. Aku berlalu membawa bingkisan menuju kamarku. Bingkisan ini seolah menjadi lebih berat kubawa menuju kamar. Kubuka pintu kamar dan ternyata di dalam kamar sudah ada mbak Linda dan Mbak Puput yang duduk manis di depan ranjangku. Keduanya melempar senyum kepadaku seolah memberi kode untukku agar melakukan sesuatu. Aku hanya berjalan berlalu menuju meja belajarku dan meletakkan bingkisan.

Merasa dilewati, Mbak Puput dan Mbak Linda bangkit dan setengah berlari menghampiri. Aku duduk di kursiku sedangkan mereka berdua duduk di lantai samping meja belajarku dengan ekspresi muka mengharapkan informasi.

“Katanya mau cerita, Ning?” tanya Mbak Puput dengan ekspresi lucunya kepadakku.

“Iya Ning, ayo cerita” Mbak Linda ikut menagih ceritaku, padahal sebelumnya aku hanya bilang kepada Mbak Puput bahwa aku akan cerita. Tapi namanya si dua kembar, salah satu tau pasti keduanya akan tau. Mereka sudah seperti saudara kembar meski keduanya tidak memiki hubungan keluarga sama sekali.

“Paling kalian sudah pada nguping Aku sama Ibu di dapur?” Jebakku kepada mereka berdua. Mbak Linda yang polos langsung saja tersenyum dan mengakui perbuatannya.

“Hehehe, Cuma sedikit kok, Ning” melihat Mbak Linda yang mengaku, Mbak Puput malah kesal dan menepuk lengan Mbak Linda yang ada di sebelahnya. Pemandangan itu malah memberikan hiburan sejenak bagiku.

“Udah, udah, mau dengar nggak?” tantangku kepada mereka.

“Iya ning, mau” jawab mereka dengan kompak

Aku menarik nafas panjang sebelum menceritakan kepada mereka. Aku hanya akan berbicara intinya saja kepada mereka tentang kebingungan yang sedang aku jalani.

“Intinya, aku sedang bingung. Abah hanya ingin aku menikah dengan yang bukan Gus. Jadi aku bingung bagaimana aku harus bersikap?”terangku kepada mereka membuka pembahasan. Tiba-tiba suasana hening tanpa ada suara dari masing-masing. Setelah beberapa lama, barulah Mbak Puput berkomentar.

“Kalo dikasih pilihan, aku sih milih bisa menetukan sendiri, Ning. Kan bisa sesuai dengan pilihan hati”. Mbak Puput menyambar dengan pendapatnya. Mbak Puput memandangku kemudian beralih memandang Mbak Linda memberi kode kepada Mbak Linda untuk ikut memberi komentar.

“Em, kalo Linda sih, mending ikut Abah, pasti berkah. Tapi milih sendiri juga boleh sih” jawabnya yang polos dan plin-plan membuat gemas Mbak Puput. Mbak Puput mlotot dan memanyunkan bibirnya tanda kesal pada Mbak Linda. Aku hanya geleng-geleng mendengar komentar dari keduanya.

Baca Juga  SAYEMBARA MENULIS ALASANTRI

“Aku ikut kamu deh, Put” jawab Mbak Linda berpindah jawaban mengikuti jawaban Mbak Puput. Mereka berdua adalah hiburan yang nyata bagiku, tingkah keduanya sangat natural dan sungguh membuat semua orang yang didekatnya merasa terhibur.

“Berarti aku harus mencari calonku dong. Bagimana caranya?” tanyaku kepada keduanya. Keduanya terlihat saling berpandangan. Kemudian terlihat sedang berpikir keras mencari-cari solusi atas permasalahan yang kuajukan kepada mereka. Seperti biasa, Mbak Puput selalu lebih dulu memberikan komentar baru disusul Mbak Linda.

“Ning, mau nggak tak kenalin sama Kang Hisyam, ketua pengurus pondok putra.” Mbak Puput memaparkan. Pikiranku langsung melayang kepada sosok yang diceritakan oleh Mbak Putri. Kang Hisyam memang sudah tidak asing lagi di telingaku. Kang Hisyam sering ikut mendampingi Abah ke beberapa tempat pengajian. Beberapa kali juga Hisyam rapat bersama keluarga maupun rapat pengurus di rumahku.

“Diakan orang kepercayaannya Abah di pondok ini. setiap acara atau kegiatan selalu dia yang memimpin. Pasti Abah langsung setuju, Ning.” Mbak Puput melanjutkan penjelasannya tentang Kang Hisyam kepadaku.

“Mending sama Anam, Vokalis Hadroh Pesantren yang suaranya menenangkan, udah gitu parasnya cocok banget untuk jadi Kyiai, Ning.” Mbak Linda menyerobot memotong penjelasan Mbak Puput tentang Kang Hisyam. Imajinasiku tentang Kang Hisyam yang semula dibangun oleh penjelasan Mbak Puput kemudian tertumpuk oleh imajinasi lain. Kali ini sosok Anam, sang Vokalis hadroh pondok.

Imajinasiku melayang kepada acara haul pesantren 4 bulan yang lalu dimana Kang Anam menjadi pembuka dalam acara haul. Suaranya yang memang terkenal sangat lembut dan merdu membuat jamaah yang hadir pada acara menitikan air matanya menghayati bait-bait lirik shalawat yang dinyanyikan.

“Kang Hisyam saja, lebih alim” Mbak Puput menimpali.

“Kang Anam saja, kharismanya dapet” Mbak Linda tak mau kalah.

Kedua orang ini lagi-lagi terlihat sengit memperjuangkan pilihannya masing-masing. Keduanya terlihat masih saling beradu argument satu sama lain. Namun dari mereka kutemukan sedikit pencerahan tentang bagaimana aku harus bersikap. Aku menyadari bahwa aku terlalu khawatir dengan apa yang belum terjadi. Kekhawatiranku membuat pandanganku menjadi lebih gelap. Pagar-pagar yang biasa kugunakan untuk penduan berjalan, tertutup kabut kekhawatiranku.

Kali ini aku akan berusaha bersikap tenang, cukup mencari yang sesuai dengan pilihanku, namun jika Abah menemukan lebih dahulu dariku, akan aku hentikan pencarianku. Tentang kedua sosok yang diperdebatkan oleh Mbak Puput dan Mbak Linda memang masih mengawang dalam benakku. Aku sendiri masih belum terlalu yakin dengan keduanya, aku bahkan khawatir jangan-jangan kedua orang yang disebutkan adalah cinta mereka yang menyebutkan. Jika memang begitu, malah aku yang akan tambah tidak enak dengan kedua orang yang sudah aku anggap saudara ini.

Ya Allah, engkau memang maha membolak-balikkan hati. Hamba yakin kegamangan ini karena hamba tidak menghadirkanMu dalam setiap jalan pikir hamba. Hamba mengaku telah teledor dalam bersikap. Berperasangka buruk pada setiap bayangan, serta berperilaku egois terhadap sebuah pilihan. Ya Allah, bimbinglah hamba pada sebuah ketenangan, ketenangan dalam menjalankan setiap hal.

Bersambung…..

NING LANA #1

Bagikan