Bagikan

‎Yogyakarta, UIN Sunan Kalijaga – Pada hari Kamis, tepatnya tanggal 28 November 2019. Dewan Eksekutif Mahasiswa atau yang biasa dikenal “DEMA” (istilah mahasiswa uin) menggelar acara bedah novel Kyai Tanpa Pesantren di Ruang Teatrikal Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Dalam seminar bedah novel ini, panitia mendatangkan 4 narasumber yang salah satunya adalah penulis dari novel ini sendiri yaitu Imam Sibawaih El-Hasany, novel ,ini adalah karya monumentalnya yang bergenre tasawuf-islami dimuat untuk dijadikan ajang bedah buku dan satu moderator yang memandu jalanya diskusi bedah novel kiyai tanpa pesantren ini.
Narasumber lain yakni Kyai Aguk Irwan, seorang Novelis dan Pengasuh Pondok Pesantren Baitul Kilmah Bantul Yogyakarta, diperkenankan untuk menjadi narasumber sekaligus pembanding dalam acara bedah novel kali ini. Begitupun narasumber lain seperti, Kyai Kuswadi Syafi’I, beliau merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi dan meruapakan pegiat literasi tasawuf-islami yang dalam hal ini dimintai pandangannya karena melihat genre dari novel sendiri merupakan pembahasan akhlak tasawuf. Selanjutnya ada Ibu Akhiriyati Sundari yang mana belai merupakan editor dari novel Hati Suhita, diperkanakan hadir dalam acara ini, dengan maksud mekritisasi komposisi dari novel itu sendiri, melihat ibu Akhriyati ini sebagai editor novel. Dan yang terakhir yakni Muhammad Shofiyulloh beliau sebagai Moderator dalam acara ini, dan beliau merupakan Ketua Umum Organisasi Mahasiswa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Daerah Isitmewa Yogyakarta (PC PMII DIY).
Dalam menulis novel ini, Imam Sibawaih hanya membutuhkan 14 hari kerja untuk dapat menyelesaikan novel Kyai Tanpa Pesantren ini. Beliau mengatakan “Menulis adalah lamunan yang terpaksa diceritakan kepada orang lain”. Dalam menulis, jika ekspektasi diri mempertimbangkan pandagan pembaca, maka itu bukanlah menulis, tapi itu merupakan tugas penulis. Sedangkan beliau mengklaim dirinya bukan seorang penulis dikarenakan menurutnya menulis merupakan hak semua orang, bukanlah kewajiban. Jika menulis menajdi kewajiban, maka engkau adalah penulis (ujar imam sibawaih).
Beliau menuangkan perasaan dalam tulisanya bahwa hakikatnya manusia sudah mempunyai jalan takdirnya masing-masing yang sifatnya tidak perlu dipertanyakan lagi, maka dalam pandangan tasawufnya, ikutilah alurnya sesuai dengan kehendak diri, niscaya kamu akan menemukan tuhanmu sendiri. Dan hal tersebut di refleksikan dirinya dalam diri Gus Ainu dalam novel Kyai Tanpa Pesantren yang merupakan tokoh utama dalam ceritanya.
Akhlak tasawuf menjadi esensi dari novel ini. Gus Ainu diceritakan sebagai sesosok laki-laki yang playboy, gampang jatuh cinta, bucin, minum-minuman keras, dan lain sebagainya yang merefleksikan perbuatan buruk. Namun perlu digaris bawahi, dalam novel ini dinarasikan bahwa Gus Ainu merupakan seorang yang sudah mempunyai tanda-tanda kewalian baik itu dimulai dari kecil beliau saat melakukan aqiqah, maupun sampai beliau menemukan cinta sejatinya (ujar Kyai Aguk Irawan).
Kyai Kuswadi Syaf’I berpendapat bahwa novel ini memiliki unsur meta teks, yang mana beliau mendeskripsikannya sebagai dimensi rohani yang kuat. Dan itu merupakan dampak dari kutipan novel ini yang banyak mengambil dari kitab-kitab yang dapat menjebol tembok-tembok peradaban. Kutipan yang disajikan tidak terasa seperti tempelan semata, namun mempunyai korelasi, relevansi, bahkan hubungan sebab akibat kuat yang dibungkus sehingga dapat dinikmati sebegitu nikmat dan renyah.
Sudut pandang perempuan yang dalam hal ini diwakili oleh bu Akhiriyanti memberikan pengaruh besar dalam bedah novel kali ini. Penokohan Gus Ainu yang tidak terlepas dengan campur tangan perempuan yang bahkan akhir perjalanan hidupnya di pertemukan dengan seorang perempuan idaman, maka dari itu perempuan mempunyai peran penting dalam alur cerita novel ini.
Selain daripada itu, bu Akhiriyanti pun menyinggung terhadap symbol mistik yang dihadirkan dalam novel ini, yakni angka 14. Dalam semua momentum penting yang diceritakan dalam novel, itu tidak terlepas dari yang Namanya angka 14, lebih dari 15 fenomena, 14 menjadi identitas yang mencolok dalam alurnya. Dan itu menjadi gimik yang sangat bagus, jika hal tersebut lebih di kompleks-kan lagi dalam hal penyampainnya (ujar bu akhiriyanti).
Acara berjalan secara meriah dan interaktif yang ditandai dengan audiens baik dari civitas akademika UIN Sunan Kalijaga maupun dari luar kampus sampai berkenan untuk duduk di alas karena kehabisan kursi dalam ruang teatrikal yang seharusnya dapat menampung 100 orang lebih. Dan indicator dari interaktif sendiri dilihat dari penanya yang berjumlah 6 orang walaupun sebenernya lebih dari itu, namun karena dibatasi.
Dialog yang elot dan seru menjadi bumbu manis dalam acara yang diselnggarakn DEMA FITK UIN Suka tersebut. Bahkan Wakil Dekan Tiga Bidang Kemahasiswaan mengapresiasi acara tersebut dengan memberikan sambutan juga sertifikat penghargaan kepada Panitia dari Dema-F yang telah menyelenggarakan acara Bedah Novel tersebut.

Bagikan
Baca Juga  Penyebab Ilmu Dicabut