Alasantri
Tipe-tipe karakter santri

Bak Nyantri

       “Krieeet”

            Gesekan antara roda sepeda yang tengah aku rem dengan aspal kasar sebagai lintasannya itu sukses mengeluarkan bunyi yang cukup khas. Membuatku melemahkan pergerakanku sekiranya tidak akan menimbulkan kegaduhan berarti di luar sini. Tak ayal jika suara kecil saja bisa menimbulkan kegaduhan karena saat ini matahari sudah hampir terlelap di ujung barat sana yang kebanyakan orang desa ini menyebutnya dengan surupipun srengenge yang berarti tenggelamnya matahari atau lebih dikenal dengan istilah sandhekala yang berarti senja.

Omong-omong tentang sandhekala atau senja, orang-orang desa ini, kita sebut saja Desa Pasir, memiliki wewaler atau larangan untuk keluar rumah ketika senja tiba karena banyak hantu yang bergentayangan saat menjelang magrib. Ya, memang ada sedikit rasa takut mendengar wewaler itu tapi Aku tetap saja anak muda yang terkadang berpikir sok rasional,  jadi untuk melanggar larangan itu bukanlah hal sulit bagiku. Lagipula, Aku keluar disenja ini bukan untuk membuat hal yang meresahkan. Aku hanya sekadar mengintip. Tentu saja bukan mengintip hal yang tidak-tidak, Aku hanya mengintip anak-anak dan muda-mudi yang berlalu-lalang dibalik gerbang tempat Aku berdiri ini.

Aku menopang kepalaku dengan kedua tanganku diatas kemudi sepeda lipat kesayanganku. Menangkap setiap kegiatan disekitar bangunan pondok pesantren yang cukup ternama di Desa Pasir. Para santriwati yang berjalan bersama-sama sambil memeluk kitab dilengan mereka mampu membuat senyumanku semakin melebar, anak-anak kecil yang berlarian dengan memakai baju koko dan sarung itu hampir membuatku ikut terkekeh terbawa kesenangan yang mereka lakukan. Beberapa santriwan terlihat sudah mengambil air wudhu untuk persiapan solat magrib, ada juga dari mereka yang masih duduk diserambi masjid dan sekitar lapangan untuk menghafalkan sesuatu dari kitab yang mereka pegang. Di ujung sana sudah ada beberapa pengurus pondok dan seorang ustad muda yang terlihat tengah mengomando santriwan santriwati untuk bersiap menunaikan solat.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku sendiri melihat tiap pergerakan di dalam sana. Semua itu sukses membangunkan imajinasiku untuk membayangkan bagaimana indahnya hidup sebagai santriwati disebuah pondok pesantren. Melatih kedislipinan beribadah, mengasah kemampuan otak dengan berhafal kitab suci dan kitab-kitab lainnya dan membudayakan perilaku baik kepada setiap kalangan. Bersumpahlah, apa yang bisa lebih baik dari itu? Muda-mudi cerdas dengan akhlak yang mulia, salah satunya ditemukan di pesantren bukan?

            “Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar” kumandang adzan yang beralun kesetiap penjuru membuatku tersadar dari lamunan singkatku. Terlebih dengan teguran dari dalam sana membuatku terlonjak kecil dari sepedaku. “Hei! Baliiikk! Sudah Magrib!”ujar seorang santriwan yang Aku kenal, ia adalah Mas Akhsan, saudara jauh dari Abahku. Tangannya terangkat seperti menuntutku untuk pergi dari sini. Yaa, ini bukan pertama kalinya dia melakukan hal ini kepadaku. Setiap Aku mengendap disore hari atau malam hari untuk melihat keadaan di pesantren itu dia selalu ada untuk mengusirku.

***

            Aku mengeratkan ransel hitam di balik punggungku. Lantas menghampiri Ibuku yang tengah meluruskan kakinya di atas kasur. Entah apa yang sedang terjadi padanya akhir-akhir ini. Tubuhnya semakin kurus dan tak jarang Aku melihat dahinya berkerut seperti menahan sakit. Aku hanya diam melihat kondisinya yang sepertinya sedang tidak sehat, berpura-pura tidak ada suatu hal yang terjadi padanya. “Aku pamit berangkat bu” Ucapku pelan. Ibu hanya menganggukan kepalanya. “Doain Aku cepet jadi santri ya bu. hehehe…”Aku meraih tangan Ibu dan berpamitan untuk mengaji di Madrasah Al-Ittihad yang terletak tak jauh dari rumahku.

Aku langsung melenggang pergi menginggalkan rumah menuju madrasah. Di Desa Pasir sudah seperti kampung santri dimata banyak orang. Ada dua belas Madrasah Al-ittihad dan sebuah pondok pesantren di sini. Madrasah Al-Ittihad tempat Aku belajar ilmu agama hampir sama seperti pondok pesantren, perbedaannya hanya pada waktu belajar dimana santriwan-santriwati madrasah hanya belajar disore hari atau dimalam hari tanpa diasramakan dan santriwan-santriwati madrasah juga tetap bersekolah pada sekolah umum disiang hari.

Baca Juga  (Walau) Sekedar Santri Kalong

 Aku menatap langit hitam yang hanya ditaburi beberapa bintang. Tak peduli dengan semua keadaan kelam malam ini, yang terpenting hatiku benar-benar ditaburi banyak bintang sekarang. Bukan hanya karena kunjungan diam-diamku ke pondok pesantren tadi, tapi karena ini adalah tahun terakhirku mengaji di tingkat Dinniyyah di Madrasah Al-Ittihad yang Aku lalui selama delapan tahun. Untuk tahun berikutnya , Aku dijanjikan oleh Abah untuk mengaji di suatu pondok pesantren di Jogja dan melanjutkan pendidikanku ditingkat SMA disana pula. Abah berjanji akan langsung mengantarku ke Jogja sehari setelah Aku lulus dari Madrasah Al-ittihad. Suatu harapan yang Aku nanti selama tiga tahun terakhir ini untuk menjadi santriwati akhirnya hampir tercapai, setelah sebelumnya harapanku tiga tahun silam tidak tercapai karena Aku belum lulus dari madrasahku.

“Da!”Seru seseorang dari ambang pintu ruang kelas yang Aku duduki sekarang. Aku mengendikkan dagu seraya menghampiri gadis berjilbab ungu bernama Lisa disana.

“Kenapa?”Tanyaku setelah berdiri tepat dihadapannya. Tanpa basa-basi dia menyeret tanganku untuk sedikit menjauh dari teman-temanku yang berada disekitar kelas. Aku mengerutkan dahiku seolah ada hal tidak beres yang akan Lisa katakan.

“Kamu tau ngga, mereka bawa contekan”Lisa berkata dengan lirih. Aku melirik kearah beberapa temanku yang sedang berkumpul didekat kelas. Aku hanya menghela napas, itulah yang dari dulu mereka lakukan. Membawa contekan ketika Ulangan Madrasah dilaksanakan. Aku sudah lelah melihat perilaku mereka. Ini memang bukan madrasah milik negara tapi bukan berarti mereka bebas membawa contekan dan enggan disiplin untuk mentaati peraturan disini. Toh, Allah Mahaadil, walaupun dengan mencontek nilai mereka tak akan lebih tinggi dari yang jujur.

“Udahlah… yang penting kita belajar aja”Aku duduk dipelataran kelas sembari membuka buku Nahwu bersampul biru yang Aku miliki. Kulirik Lisa juga duduk disebelahku dan belajar pula. Hari terakhir Ujian Madrasah dengan pelajaran Nahwu adalah suatu hal yang menggelitik telinga untukku. Yaa Nahwu memang bukan pelajaran yang mudah untukku tetapi Nahwu adalah pelajaran yang paling menyenangkan bagiku. Karena ketika Aku paham sedikit saja kuncinya maka Aku bisa mengetahui banyak hal dari itu. Bisa dikatakan, rasanya belajar Nahwu itu bagaikan belajar Matematika pada pelajaran umum.

“Drrt….drttt…” Ponselku bergetar dari dalam ranselku. Aku membelalakkan mataku, siapa yang mengirim pesan disaat seperti ini? Entahlah. Aku mengedarkan pandanganku sekiranya tidak ada pengurus atau ustad disekitarku. Perlahan Aku membuka resleting tas yang berada dipangkuanku dan mengambil ponsel hitamku dari sana. Aku mengecek pesan yang masuk dengan diam-diam. Khawatir akan ada pengurus yang mengetahui bahwa Aku membawa handphone ke madrasah. Baiklah, jujur saja kali ini Aku juga melakukan pelanggaran. Ini karena tuntutan teman-temanku di sekolah siang tadi, mereka mencerca dan menuduhku tidak mau membalas pesan penting dari mereka. Jadi terpaksa Aku membawa handphone ke madrasah ini walaupun Aku tau itu dilarang.

 “Eh.. mba.. dek..lagi sms siapa?”  Suara itu mampu membuatku terlonjak dari dudukku. Oh tidak, itu adalah Ketua OSMA atau Organisasi Madrasah yang paling galak seantero madrasah yang ada di desa ini, Fahri namanya, dia berada di tingkat Tsanawiyah dua tahun lebih tinggi tingkatnya dariku. Aku meringis pelan sambil berdiri menghadapnya dengan tak lupa untuk menutup ranselku rapat-rapat.

“Sms apa?”Tanyaku seolah tidak tau apa yang dia bicarakan. Dia menatapku dengan tatapan penuh introgasinya. Sementara Aku hanya mengeratkan pelukanku pada ranselku dan memberikan senyuman palsu padanya. Dari sini terlihat Lisa yang menahan tawanya karena kecerobohanku lalu meninggalkanku begitu saja. Oh, awas saja jika dia menertawaiku setelah ini.

Baca Juga  Full Puisi Menag RI : Santri dan Kopi

“Udah, sini kasih aja handphone kamu!”Fahri sedikit menggertak. Sontak Aku menggelengkan kepalAku menolak perintahnya . Apa jadinya jika Abah tau kalau anaknya melanggar peraturan madrasah. Padahal, Abahku sendiri juga guru di madrasah ini. Aku tak membayangkan bagaimana jadinya nanti jika Abah tau Aku melAkukan kesalahan.

“Ayo.. kasihin! Aku ga peduli siapa kamu, anak siapa kamu atau…”Ucapan Fahri terpotong ketika Aku memberikan handphoneku padanya. “Dah! Beres kan..”Ujarku singkat. Aku benar-benar tidak suka mendengar omelannya yang kadang disertai dengan sindiran.

“Oke, setelah ujian nanti… sampai ketemu di ruang guru”Fahri melenggang pergi begitu saja dengan membawa handphoneku pergi pula. Aku menghela napas menatap punggungnya yang semakin menjauh. Haah… handphoneku lenyap, entah kapan akan kembali padaku dan entah bagaimana temanku akan kembali mencercaku dan mengomeliku besok saat sekolah.

***

            Bumi berrotasi pada porosnya, menyebabkan pergantian siang dan malam yang berjangka dua puluh empat jam lamanya akibat dari revolusi bumi. Selama rotasi dan revolusi bumi berlangsung dan menghabiskan waktu tujuh hari lamanya, selama itu pula handphone ku tersimpan manis di lemari ruang guru Madrasah Al-ittihad ku. Sedikit rasa lega akhirnya handphoneku kembali pada genggamanku malam ini juga.

            “Tumben gasik.. rindu banget sama handphone mu apa?”Tanya sosok Fahri yang ternyata tengah berada diruang guru. Aku hanya mencebikkan bibirku mengekspresikan rasa tidak sukaku pada pertanyaannya. Entah mengapa melihat wajah Fahri selalu mengingatkanku pada saat itu. Saat dimana Aku ketahuan membawa handphone yang akhirnya membawaku pada ruang guru yang disulap menjadi ruang sidang dalam seketika. Dengan seorang pengurus yang selalu bertanya padaku dan Fahri yang berdiri dibalik pengurus itu dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Sungguh muak sekali melihatnya.

            “Haha… engga juga si.. Aku gasik untuk persiapan Imtihan besok. Tau kan tahun ini kelasku kelulusan dan kelasku akan jadi bintang di Imtihan besok?” Ujarku sedikit menyombongkan diri. Dia hanya menganggukan kepalanya “Iyadeh.. sukses buat kelasmu ya!”ujarnya. Aku hanya membalasnya dengan mengendikkan kedua bahuku lalu tersenyum kecil.

            Langkah kakiku membawaku pada sebuah ruangan tempatku dan teman-temanku berlatih hafalan. Setiap tahun, acara Imtihan digelar untuk tanda kenaikan kelas dan kelulusan. Dalam imtihan itu setiap kelas dari kelas yang termuda sampai kelas yang tertua akan maju keatas panggung untuk melafalkan hafalan mereka dengan kitab tertentu, begitu juga kelasku. Namun yang berbeda pada kelasku kali ini adalah sesi kelulusan, dimana kami memakai baju dan toga layaknya mahasiswa dan diberi ijasah tanda kelulusan. Tak lepas dengan kehadiran wali murid setiap santri. Ah Aku sudah tidak sabar dengan malam besok.

***

            “Ibu sakit ginjal, sama sekali ngga bisa jalan”

Penjelasan itu mampu membuatku terdiam untuk beberapa detik. Tak heran jika rumahku kosong sore ini karena semua sedang berada di rumah sakit menunggu Ibu. Kabar sakitnya Ibu kudapat dari tetangga yang rumahnya tak jauh dari rumahku. Ia memberiku kunci rumah dan sejumlah uang yang katanya dititipkan Abah sebelum mereka berangkat ke rumah sakit.

Tak kusangka itu akan menjadi malam terindah yang kelam untukku. Malam kelulusan madrasah yang tidak dihadiri Ibu membuatku bagaikan cincin yang terlepas dari jarinya. Hilang.

Aku merasa hilang dan hampa. Bagaikan dihunus oleh panah pasopati yang menusuk relung kalbuku hingga pecah berkeping-keping. Malam kelulusanku yang pada saat itu Aku anggap sebagai malam yang Aku nantikan tidak berjalan sesuai yang kuharapkan. Malam penuh bintang itu Aku lalui dalam kelabu, begitu juga ketika Aku berdiri di atas panggung dan mendapat penghargaan untuk peringkat tiga besar di kelasku… sementara Ibu terbaring diatas ranjang keras dirumah sakit.

Baca Juga  SAYEMBARA MENULIS ALASANTRI

            Ada lagi hal yang membuatku seakan kehilangan oksigen untuk kuhirup. Ketika Ibu memintaku untuk menunda keinginanku menjadi santri disuatu pondok pesantren di Jogja. Awalnya bagian dari dalam diriku memberontak mendengar ucapan Ibu, tapi bagian lain dari dalam diriku mencoba mengendalikan semuanya. Aku sadar bahwa Aku adalah anak pertama dikeluarga ini dan sudah seharusnya Aku yang merawat Ibu. Dan Aku sadar, restu Ibu sudah bagaikan oksigen untuk hidupku. Jika tanpa restunya Aku tak akan bisa bertahan hidup walau tiga detik.

            Aku menyeret lemah kedua kakiku dengan kedua tanganku yang menuntun sepedaku menuju pondok pesantren yang sudah beberapa hari ini tidak Aku kunjungi. Tentu saja masih dengan mengendap dibalik gerbang besar yang sedikit tertutupi oleh tanaman hijau yang menjulang. Tak seperti biasanya ketika Aku melihat kedalam sana dengan senyuman yang terukir diwajah dan imajinasi menyenangkan yang terputar. Kegembiraan di dalam sana tiba-tiba saja tidak lagi menjadi alasanku untuk merasa bahagia.

            Sekarang sama sekali Aku tidak berpikir untuk menjadi bagian dari mereka. Jangankan berpikir, membayangkan saja Aku tak sanggup. Mengingat keadaan Ibu yang benar-benar masih terbaring lemah dikamarnya tidak akan memungkinkanku untuk menjadi santriwati di pondok pesantren saat ini.

            “Eh.. da! Kamu disini lagi.. Gimana kabar Ibu, udah pulih?”tanya Mas Akhsan dari balik gerbang. Aku terbangun dari lamunanku dan hanya tersenyum tipis membalas ucapannya. “Ada apa??”tanyanya lagi, tetapi nadanya merendah menjadi tak seantusias tadi saat ia pertama melihatku.

            “Niat mondokku ditunda lagi mas, Ibu sakitnya rada serius”Jawabku dengan mengulas senyuman simpul. Seolah mengerti apa yang aku rasakan, Ia menatapku iba, kemudian tersenyum lebar.

            “Ngga usah sedih… kamu masih bisa nglanjutin madrasah ditingkat selanjutnya kan? Tsanawiyah… Kamu jadi senior lhoo nantinya”ucapnya dengan girang, mungkin untuk menghilangkan rasa sedihku. Aku hanya diam tanpa menjawab ucapannya. Harusnya ia tau yang Aku inginkan adalah menjadi santriwati di pondok pesantren.

            “Nih.. Aku juga ngalamin jadi anak madrasah , begitu juga santri pondok. Jujur aja, walaupun materi dan jadwalnya lebih padat di pondok pesantren, tapi urusan kurikulum pembelajaran di madrasah lebih bagus, lebih tertata. Lagi pula… ga beda jauh antara yang santri pondok sama santri madrasah”ujarnya panjang lebar. Aku mendongak menatapnya, hampir tidak percaya dengan ucapannya.

            “Lagian, apa yang kamu ketahui tentang santri sih? Coba inget kalimat yang pernah Gus Mus sampaikan tentang santri!”Aku memutar bola mataku sambil mencoba mengingat apa yang ia maksud. Senyumanku mengembang begitu saja setelah kalimat itu Aku temukan dari otakku.

            “Santri bukan hanya mereka yang belajar di pondok. Mereka yang berakhlak seperti santri adalah santri”jawabku dengan lancar. Dia mengendikkan dagunya mendengar ucapanku.

Sekarang Aku tau yang dia maksud, selama Aku belum bisa menjadi santri yang belajar dipondok pesantren setidaknya Aku bisa berakhlak dan berperilaku layaknya santri. Tak apa hanya mengaji di madrasah dan hanya bernotaben menjadi santriwati madrasah, suatu hari nanti masih ada kesempatan yang bisa mengantarkanku pada impianku menjadi santriwati di sebuah pondok pesantren yang aku dambakan.

  • Tamat    –

Oleh: Dhea Zabana Qothrun Nada

Asal: Banyumas

Bagikan

Tinggalkan Balasan