Bagikan

Malam Rabu tiba, maka tibalah “Yaumul Chisaab” bagi para santri di pesantren bahasa, bagiaman tidak, setiap santri akan dikumpulkan untuk dinilai seberapa banyak mereka melanggar bahasa wajib pesantren. Di malam ini, para santri berkumpul di aula pondok dengan wajah kusam. Baik karena dari pagi belum mandi sebab malas mengantri maupun was-was menanti hasil ketuk palu mahkamah santri. Ditambah lagi, raut wajah para algojo mahkamah santri yang mungkin urat senyumnya sudah putus.

Salah satu bagian mahkamah santri yang paling ditakuti adalah bagian bahasa (Qismul Lughoh). Karena jika lidah santri terpeleset sedikit tidak menggunakan bahasa (Arab dan Inggris), maka bakal berurusan dengan bagian bahasa. Sedikit ucap, banyak ta’zirnya. Apa lagi agen-agen bagian bahasa yang bertugas mencari santri-santri yang melanggar peraturan berbahasa di pondok berceceran di seantero jagat pondok bak intelijen yang biasanya menyamar sebagai serigala berbulu tangkis, bulu domba maksudnya.

Saat para hakim dan algojo bagian bahasa berjalan tegap masuk aula, saat itu pula tidak ada secuil pun suara yang terdengar dari mulut para santri. Sunyi, sepi, seperti tidak ada kehidupan. Bahkan untuk bersendawa pun santri harus menutup mulutnya rapat-rapat. Pokoknya, jangan sampai salah ucap hingga melanggar bahasa karena itu merupakan jenis pelanggaran mugholladloh.

Tiba-tiba, Kak Ridlo, ketua hakim bagian bahasa berdiri di hadapan para santri dengan wajah yang sangat ditakuti oleh para santri. Kak Ridlo menarik nafas untuk memulai hentakan pertamanya.

Baca Juga  TIPE-TIPE KARAKTER SANTRI

 “Rohmat! Takallamta Jaawiyyah baarichah?” (Rohmat! Kamu ngomong bahasa Jawa, ya tadi malam?). Rohmat yang sedari tadi merunduk karena mengantuk ujug-ujug matanya terbelalak akibat pekikan suara Kak Ridlo dan langsung berkata dengan tegas.

ORA, Kak!”. Sontak aula yang tadinya senyap berubah menjadi gaduh karena para santri tertawa mendengar Rohmat yang berucap lantang. Dengan sigap, Kak Ridlo menghampiri Rohmat dan mendaratkan telapak tangannya yang tebal karena terbiasa memukul genjring di pipinya sebanyak jumlah mahkamah santri bagian bahasa.

“Plok! Plak! Plek! Pluk!…”. Kepretan Kak Ridlo terdengar begitu nyaring bak beliau sedang khusyu’ memukul genjring.

Gimana Kak Ridlo tidak naik pitam? Lha wong Rohmat itu didakwa melanggar peraturan karena memakai bahasa Jawa, kok dia malah dengan santainya menjawab pertanyaan ketua hakim yang berbahasa Arab dengan bahasa Jawa? Mungkin dalam benaknya, Rohmat ingin membela diri dari dakwaan itu tapi naas, kata hatinya berkata lain dan berakibat pada alam bawah sadarnya yang berontak. Akhirnya, malam itu Rohmat dijatuhi hukuman dengan pasal berlapis.

FYI, jumlah mahkamah santri bagian bahasa adalah tujuh belas orang.

Baca juga: Pertanyaan-pertanyaan tentang santri baru

mau tau lebih dalam tentang santri dan seluk beluknya, follow intagram alasantri @alasantri

Bagikan