Bagikan

Gelegar suara ngaji terdengar riuh bersahutan dari aula pondok putri setiap bakda salat Subuh. Beberapa bulan ini konstan ritme yang kudengar. Iya, Alfatihah. Setiap tahun ajaran baru masuk pondok, biasanya habis libur Syawal, yang didengar setiap pagi pasti suara ngaji itu-itu saja. Setor Alquran bacaan surah Alfatihah saja bisa sampai tiga bulan, beberapa paling cepat sebulan selesai, dan itu jarang banget santri yang bisa lolos fashih Alfatihah secepat itu.

A-uuu-dzu-billaaahi-minas-syaitooo-nir-rojiiim. Bacaan taawudz saja  terus diulang-ulang. Bisa-bisa satu minggu baru selesai ditashih oleh Bu Nyai. Tajwid, makhroj, tartil, benar-benar tidak boleh sedikitpun salah. Belum dilanjut Alfatihah, dari bismillah sampai ayat terakhir.

“Za, kamu nggak bosan emang ngaji Alquran kita setiap hari gini-gini  terus?” tanya Alawi padaku suatu hari.

“Iya bosan sih. Tapi ya memang kita harus sabar kan.”

“Kalau nggak selesai-selesai, aku mau pindah pondok saja lah. Mau berapa lama aku khatam Alquran, kalau kayak gini.”

“Jangan gitu, Wi. Kamu tahu nggak, mbak-mbak dulu juga gini semua di pondok ini. Malah rata-rata tiga bulan baru selesai Alfatihah. Tapi tahu nggak, yang buat orang tuaku mondokin aku di sini, ya memang karena ngajinya di sini yang terkenal harus tartil dan fashih begini.” Jawabku waktu itu.

Pagi itu Alawi hanya membalas dengan tarikan nafas panjang, seolah mengisyaratkan dia benar-benar jenuh selama satu bulan pertama di pondok. Entah karena Tuhan mengabulkan doanya, atau karena ketidaksabarannya ingin segera pindah ke surah seterusnya sehingga dia tekun mendaras. Sayangnya, aku kurang memperhatikan. Tau-tau tepat dua bulan, dia sudah boleh lanjut baca surah Albaqarah oleh Bu Nyai.

Baca Juga  Belajar dari Teladan Kiai Sahal

Harapan Alawi ingin segera pulang juga tidak cuma di awal dia masuk pondok. Alawi juga pernah dapat kabar dari pengurus pondok, kalau adik kandungnya meninggal. Adik kesayangan yang selalu diceritakan tingkah-tingkah lucunya padaku. Tapi takdir berkata lain, saat itu harus melaksanakan ujian akhir dirasah pondok, dan dia dilarang orang tuanya pulang untuk mengantar kepulangan adiknya selamanya.

“Kalian inget nggak, waktu Alawi dituduh ghosob jilbab punya anak kamar sebelah?” tanyaku pada teman sekamar yang asik mendengarkan kisah nostalgiaku mengenang Alawi.

“Inget lah, inget banget. Kan aku yang belain dia waktu itu, tapi nggak pada percaya. Jelas-jelas aku liat si anak yang udah boyong itu yang ambil kok,” sahut Siti.

Sewaktu ada fitnah itu dia ingin pulang, karena nggak betah di sini, setiap sore dia telpon orang tuanya di wartel pondok sambil nangis. Sampai akhirnya ketahuan siapa yang benar, siapa yang salah, dan akhirnya orang yang ghosob itu yang dipulangkan ke rumah oleh pihak pondok, karena keterlaluannya sering mengghosob.

“Terus-terus, rahasia apa soal Alawi ingin pulang? Sepertinya yang kamu ceritakan tadi bukan sesuatu yang rahasia, Za.” Cetus mereka, tidak sabar menunggu cerita rahasia Alawi padaku.

“Iya, sebentar, tho. Tapi kita kirim Alfatihah dulu buat Alawi ya”

Alwi memang cukup pendiam, tapi tidak mengasingkan diri. Perbincangan kami tentang yang kubilang rahasia ini, berlangsung ketika usai ikut menyalati santri di pondok sebelah pondok, dikabarkan meninggal di pondok ketika dibangunkan untuk jamaah salat Subuh.

Baca Juga  Waskito, Santri penerima beasiswa di Harvard

“Za, aku ingin pulang.”

“Pulang kemana, Wi? Kok dari dulu kamu bilang pengen pulang terus. Nggak ada keinginan lain?”

“Kali ini, aku ingin pulang ke rumah-Nya. Kayaknya enak gitu meninggal di pondok, disalati oleh para kiai, bu nyai, dan ribuan santri. Pasti yang doakan banyak banget. Liat to, mbak pondok sebelah yang meninggal itu. Enak banget ya, meninggalnya di pondok.”

“Hush ya jangan gitu, Wi.” Aku hanya menjawab singkat, yang kupikir ini hanya celotehan dia biasa.

Ternyata, keinginan Alawi ingin pulang ke hadirat-Nya memang tidak hanya sekali diceritakan padaku. Beberapa kali dia mengulangnya. Sampai akhirnya, tepat malam esoknya bulan Ramadan, Alawi yang seharusnya tahun ini ditunjuk menjadi imam tarawih di pondok ini, meninggalkan kita semua. Dan benar, harapannya didengar oleh-Nya.

“MasyaAllah, enak sekali ya, jadi Alawi. Pasti dia bahagia, kemarin banyak sekali kiai dan santri yang mendoakan dan mengantar kepulangan ke abadian-Nya.”

Selamat berpulang, Alawi.

Bagikan