Alasantri
sang dalang

Akulah Sang Dalang

Tiiinn…tiiinn…

Suara klakson sepeda bebek ayah sudah sampai pada gendang telingaku. Cepat-cepat ku angkat ransel besar berwarna merah milik kakak yang penuh oleh pakaianku. Dengan langkah terburu-buru ku cari ibu, ku raih telapak tangan kanannya yang dingin karena baru saja berendam di air untuk mencuci pakaian keluarga kami. Tiba-tiba tangan kirinya sampai di pundak kananku. Ibu memelukku erat, sangat erat bahkan. Aku merasakan air mata ibu yang jatuh di pundakku. Lama. Kemudian dilepasnya pelukan itu. Mata sembab, hidung merah, pipi basah. Itu yang kulihat dari wajah ibu.

“Hati-hati! Yang kerasan ya di pondok. Jangan bilang nggak betah, soalnya ini kan maunya kamu. Insyaallah kamu bisa jadi contoh buat adik-adikmu ini. Ibu sama bapak cuma bisa do’a di sini, yang ngejalanin kamu. Harus lebih rajin belajarnya”, ujar ibu.

“Iya buk, insyaallah. Yawes buk, aku tak berangkat dulu ya. Do’ain aku terus ya buk”, singkat ku.

Kunaiki sepeda bebek yang telah lama menunggu. Kulingkarkan tangan ku pada pinggul ayah seraya mengucap “sudah”.

Banyak mobil berparkir di sepanjang jalan. Banyak laki-laki bersarung membawa kasur lipat, atau perempuan berbusana muslimah menggendong ranselnya. Berkumpul bersama keluarga untuk sekadar membicarakan hal-hal kecil sebelum mereka berpisah hingga weekend tiba, ditemani beberapa bungkus nasi beserta lauk-pauknya. Ramai sekali.

Ya, itulah suasana ketika para santri mengakhiri masa liburnya di rumah  untuk kembali ke pondok. Lalu bagaimana denganku? Aku tak lagi mengakhiri masa liburanku untuk kembali ke pondok. Justru memulai perjalananku sebagai seorang santri. Santri untuk Negeri.

Takut. Jantung berdegup kencang. Tiba-tiba keinginanku untuk nyantri hilang. Rasanya aku ingin pulang, kembali ke rumah. Saat itu juga. Andai saja bisa. Entah mengapa firasatku tentang pesantren buruk sekali. Aku berpikir bahwa nanti aku akan menjadi kurus karena banyak pikiran, berkantung mata karena kurang tidur, kaki pecah-pecah akibat panas-panasan di jemuran, kulit kaki terkena kutu air, rambutku akan menjadi tempat perkembangbiakan kutu dan masih banyak lagi hal-hal buruk yang singgah di benakku. Tidak. Aku tidak ingin tinggal di pesantren. Itu akan menjadi hal terburuk jika benar-benar terjadi. Gumam ku dalam hati.

Aku telah sampai di depan ruangan selebar 6×6 yang akan menemani tidur malamku kali ini. Dengan langkah berat, ku masuki ruangan itu dan langsung menuju ke arah lemariku. Kurapikan baju-baju dan semua barang-barangku ke dalam lemari. Selesai. Ku temui ayah lagi yang telah menungguku selama setengah jam di gerbang asrama.

“Sudah? Ayah langsung pulang ya. 3 hari lagi ayah akan kesini untuk melihat keadaanmu. Mau titip apa?”, seru ayah.

Baca Juga  SEGARIS RAGU (VOL 10)

“Iyadah. Aku nggak mau titip apa-apa”, jawabku. Mataku berkaca-kaca. Dan aku tau kalau ayah tau aku akan menangis. Pasti. Tapi beliau pura-pura tidak tahu saja. Alasan ayah seperti itu, pasti karena ayah tidak ingin aku manja.

“Ya sudah, hati-hati. Belajarnya harus lebih rajin, ngajinya pun, sholatnya apalagi”, ucapnya sambil mengelus-elus kepalaku. Dan air mataku semakin menjadi-jadi bak sungai yang mengalir begitu saja. Aku hanya menganggukkan kepala, tanpa mengucap sepatah kata pun. Kemudian ayah pulang dan aku sendirian. Benar-benar sendiri. Aku tidak betah, tapi kutahan.

            Selamat datang 2016. Satu tahun telah berlalu. Aku berhasil melaluinya. Aku berhasil beradaptasi dengan baik. Kupatuhi semua peraturan pesantren yang ada. Maklum anak baru.  Soal prestasi? tak perlu khawatirkan itu, aku bisa mengatasi semuanya di semester 1 ini. Aku aktif di sekolah dengan menjadi anggota OSIM, anggota ekstrakulikuler pramuka, ekstrakulikuler kaligrafi dan anggota M-Sains. Di pondok pun aku menjadi salah satu pengurus inti, yaitu sebagai sekretaris pondok. Ya, kurasa semester 1 baik-baik saja, tak ada yang perlu di ceritakan. Oke lanjut.

            Semester 2? Aku mulai sedikit berani melanggar peraturan pesantren. Namun soal prestasi, masih baik. Bahkan peringkatku naik. Setidaknya ayah dan ibu bangga padaku. Mereka benar-benar melihat perubahan yang ku alami. Terutama tentang akhlak. Kurasa semester 2 masih baik-baik saja.

            Naik ke kelas 2. Tepatnya ketika aku berusia 17 tahun. Kata orang, usia 17 tahun adalah masa dimana seorang remaja sedang mencari jati dirinya. Kata ibu, memiliki anak perempuan seusiaku sama dengan sedang berada dalam medan perang. Kekhawatirannya yang membuat ibu berpikiran begitu.

            Ceritaku berawal pada bulan Desember 2016. Ya, ceritaku bersama kawan-kawan website. Pengurus pondok memberi hukuman kepada kami akibat ulah kami beberapa waktu yang lalu. Pagi itu, kami mengakui semua pelanggaran-pelanggaran yang pernah kami lakukan. Kami menulis semuanya di atas kertas yang telah diberikan oleh keamanan. Namun ustadzah Widad sebagai ketua pondok asrama daltim memaafkan kami. Beliau memberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan kami dan berubah menjadi lebih baik lagi. Tapi tetap, kesalahan yang lalu harus ditebus dengan diberi hukuman menguras seluruh kamar mandi di asrama Daltim tercinta.

            Tepat pada malam jum’at. Hari dimana kami harus melaksanakan hukuman itu. Canda tawa kami yang tulus meringankan beban yang sedang kami pikul. Basah kuyup dan kedinginan. Itu yang kami rasakan malam itu. Ditemani hujan deras, kami terus saja menggosok dinding-dinding bak mandi yang berlumut dan kotor. Tak ada kata jijik. Semua kita jamah menggunakan tangan kosong, hingga sampah-sampah di selokan yang sudah berhari-hari tak ada yang memperdulikannya. Kejam? Tidak, semua sesuai takaran.

Baca Juga  Bak Nyantri

            Cerobohnya kita, tidak memanfaatkan kesempatan itu baik-baik. Kita mengulanginya lagi untuk kedua kali. Pepatah bilang, kita telah jatuh ke lubang yang sama. Masih dengan pelanggaran yang sama, penyalahgunaan tugas website.

            Malam itu, beberapa anggota Tim Website tertangkap basah sedang menonton video lucu di situs Youtube oleh seorang mahkamah santri. Ketika ditanya alasan mengapa mereka melakukan hal yang dilarang itu, salah satu dari mereka menjawab “kita butuh hiburan ustadzah, jenuh sama pekerjaan yang dikejar-kejar deadline”. Alhasil, alasan mereka tak merubah keputusan ustadzah Ihun untuk menyuruh kami kembali ke kamar, karena posisi kita malam itu sedang berada di dalem Gus Robith.

            Namun, pelanggaran kali ini tidak ada hukuman, hanya teguran dan nasehat-nasehat saja yang pengurus berikan kepada kita. Entah karena capek menghukum kita menguras kamar mandi, karena menurut mereka hal itu sudah tidak mempanlagi untuk pelanggar keamanan kelas kakap seperti kita atau karena saat itu pengurus memang sedang berbaik hati, yang pasti kita sedang beruntung saat itu.

            Tak ada yang menginginkan namanya tercatat sebagai pelanggar peraturan pondok. Semua berjalan apa adanya, sesuai skenario tuhan. Seperti pepatah mengatakan Manungso sadermo nglakoni kadyo wayang umpamane.

            Malam itu malam minggu. Pada skenario kali ini aku yang menjadi tokoh utamanya. Apes. Aku terkangkap basah sedang melihat gambar-gambar yang tak pantas untuk dilihat oleh seorang santri. Belum lagi video yang baru selesai aku download. Ustadzah pasti sangat kecewa, gumam ku. Layaknya seorang pengendara yang tak memiliki SIM ketika ditilang, aku gugup. Bingung. Lidahku kelu, badanku lemas, keringat dingin. Suasana mencekam seketika. Tak ada pilihan lain, ku jawab semua pertanyaan ustadzah tentang apa yang aku lakukan beberapa waktu yang lalu dengan jujur.

            Benar-benar malam yang buruk. Aku tak nyenyak tidur. Aku meramal bahwa besok pagi, aku bersama anggota tim website lain yang bersangkutan akan disidang. Ustadzah Alivia sudah pasti marah, belum lagi ustadzah Widad sebagai ketua pondok yang sudah pasti akan menangani kasus kali ini.

            Ramalanku benar. Minggu pagi kami disidang oleh ustadzah Widad. Sebelumnya, aku sudah menyiapkan mental dan mencari seribu alasan yang logis untuk nantinya ketika ditanya oleh beliau. Satu-satu dari kita ditanya, pelanggaran apa saja yang telah dilakukan. Bagiku intonasi yang tinggi dan posisi tangan bersedekap seperti itu merupakan ancaman, agar kita benar-benar menjawab dengan jujur. Akhirnya pertanyaan itu sampai pada giliranku.

Baca Juga  Gurihnya Literasi di Pesantren

“Pelanggaran terbanyak saya ada di divisi ubudiyah ustadzah, saya jarang ikut jama’ah. Terus ta’lim, saya sering nggak pake iket pas diniyah. Keamanan, saya pernah di hukum karena telat memakai celana” jelas ku.

            Masing-masing dari kita sudah mendapat giliran untuk menyebutkan pelanggaran yang pernah dilakukan.

“Ada satu pelanggaran yang belum kalian sebutkan. Kalian mau jujur sekarang atau nunggu saya bentak?”, beliau bertanya, dengan senyum sinisnya. Hening. Kita saling lirik. Tiba-tiba bela salah satu dari kita mengangkat kepalanya dan mengatakan yang sejujurnya. Dia menceritakan secara kronologis kejadian semalam. Seketika itu aku benar-benar lemas.

“Ternyata kamu paling berani dari yang lain ya lif. Pantes aja kalo kamu dikeluarin dari kepengurusan secara tidak terhormat” ujarnya. Dengan intonasi yang berhasil memukul pilu hatiku. Jujur, aku tersinggung dan sakit hati dengan kata-kata beliau. Benarkah aku keluar dari kepengurusan secara tidak terhormat? Salahku dimana? Bukankah aku keluar dari kepengurusan karena sudah resmi menjadi anggota tim website? menurutku itu terhormat. Hingga kini aku tak mengerti maksud dari ucapan beliau tadi. Yang pasti aku tersinggung, oleh karenanya hanya kalimat itu yang aku ingat. Sebait kalimat menyakitkan. Oke, lupakan soal hati.

            Lagi-lagi kita mengisi form surat pelanggaran dan menuliskan semua pelanggaran yang pernah kita lakukan. Diberi hukuman? Pasti. Menguras kamar mandi asrama daltim.

            Ustadzah Widad keluar kamar, tanda bahwa sidang selesai. Sontak kita semua menangis terisak-isak. Ingin rasanya menjerit saat itu. Ku jatuhkan kepalaku di lantai, kuambil posisi sujud layaknya orang shalat. Aku menangis. Pagi itu, merupakan pagi yang mengharukan dan menyesakkan bagiku.

            Pagi itu bukan akhir dari segalanya. Sore harinya, ustadzah Alivia, seseorang yang benar-benar aku kecewakan, ingin membicarakan masalah ini dengan tim website. Kita benar-benar menyesal. Berkali-kali kita ucapkan kata maaf. Ada sebait kalimat yang ustadzah lontarkan yang masih kuingat hingga kini, “Kamu Alifia, saya katakan kamu sebagai dalangnya”. Ya, kalimat itu yang membuat aku benar-benar merasa bersalah. Sangat bersalah.

            Dihukum? Sudah pasti. Kita menguras kamar mandi asrama Daltim kembali. Insyaallah ini hukuman terakhir yang pengurus berikan kepada kita. Amiin. Sekarang, kita berusaha untuk saling mengingatkan dan sadar diri, bahwa kita sedang mengemban amanah sebagai media dakwah pesantren nuris tercinta agar pesantren kita dikenal oleh masyarakat luas, bahkan ke seluruh penjuru dunia pun.

Oleh: Alifia Afifah

Asal: Jember

Bagikan

Tinggalkan Balasan