Bagikan
sate

(http://kemanaajaboleeh.com/)

Pada pekan sebelum Idul Adha di sebuah pesantren, para santri gegap gempita menyambut datangnya hari raya Idul Adha. Tradisi bakar sate sudah menjadi momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh banyak santri. Maklum, mereka biasa hanya menyantap sate yang lain (baca: Sayur Tempe). Momen Idul Adha menjadi momen nikmat memperbaiki gizi.

Sehari sebelum Idul Adha, para santri mengamati halaman rumah pak Kyai namun tidak juga melihat kambing yang terikat.  Biasanya kambing sudah terikat di depan rumah Pak Kyai siap untuk diqurbankan. Usut-punya usut ternyata tahun ini Pak Kyai tidak bisa berqurban karena ada banyak keperluan sehingga membuat Pak Kyai tidak bisa membeli kambing.

Singkat cerita warga kampung sekitar melihat pesantren di hari raya Idul Adha tidak memiliki daging qurban. Akhirnya beberapa warga memberikan beberapa daging kepada santri yang tidak pulang. Sorak-sorak santri yang menerima dengan senang membanjiri pesantren. Akhirnya dibentuk tim untuk menyiapkan sate dari daging yang didapatkan dari warga.

Terpilihkah 4 orang yang mengurus. Salah satu dari keempat orang itu terkenal usil dan juga jahil bukan main. Mereka menyiapkan persiapan untuk menusuki daging yang ada. Dari daging yang dikumpulkan ternyata hanya mampu menjadi 15 tusuk saja. Padahal ada 40 orang santri yang sudah menunggu untuk makan sate. Kemudian mereka mencari cara untuk bisa membuat sate cukup. Awalnya mereka buat satu tusuk hanya 2 potong daging kecil tapi mereka merasa sangat tidak bagus karena tidak akan terasa.

Baca Juga  OTAK-ATIK-GATUK: BAHASA ALAM BAWAH SADAR

Usman salah satu anak yang paling usil tiba-tiba mempunyai ide. Dengan tertawa jahil Usman berdiri dari duduknya membuat ketiga temannya keheranan.  Tapi Usman kemudian menenangkan ketiganya dengan menjanjikan sesuatu yang hebat. Usman berpesan agar menyiapkan pembakaran saja. Usman membawa daging dan tusuk sate yang ada ke tempat lain. 10 menit kemudian dia datang dengan 40 tusuk sate yang sudah dia beri bumbu kecap hitam pekat. Ketiga petugas lainnya kebingungan. Bagaimana bisa sate menjadi sebanyak sekarang.  Namun Usman meminta agar mereka langsung memanggangnya saja.

Singkat cerita semua sate sudah selesai dipanggang dan tanpa pikir panjang semua santri sudah berkumpul untuk menyantapnya. Sekali santri tetap santri, sate baru datang langsung berebut dan langsung bersih. Setiap anak memegang 1 tusuk sate dengan nasi yang panas dan juga sambal yang pedas santri makan dengan hingar bingar sampai semua habis tak tersisa.

Ketiga petugas yang keheranan kemudian mendatangi Usman dan bertanya tentang sate yang dia buat tadi. Dengan menahan tawa Usman mengajak mereka ke sebuah tempat di dekat dapur. Sampai disebuah tempat Usman berkata kepada ketiganya.

“Sebelumnya maaf ya, dari pada satenya kurang tadi aku tambahi itu” sambil menunjuk sesuatu di bawah dan kabur.

Ternyata ada beberapa potongan sandal yang dipotong kecil-kecil menyerupai ukuran daging sate. Mereka yang kaget serempak berteriak.

Baca Juga  Ketika Mukidi ditakzir

“USMAAAAAAAAAAANNNNNNNNNN”

Bagikan