Ta’zir: Sebuah Upaya Pertanggungjawaban

0
0

Siapa yang pernah dita’zir?

Banyak santri yang merasa takut dengan adanya ta’ziran. Seolah-olah ta’ziran adalah hal yang memberatkan. Namun, dari adanya ta’ziran inilah yang mendidik santri untuk menjadi pribadi yang lebih bertanggungjawab, dengan cara mau mengakui kesalahan dan menerima konsekuensi atas kesalahan yang telah diperbuatnya. itulah mengapa mimin menulis Ta’zir: sebuah upaya pertanggungjawaban.

Ta’zir berarti teguran, berasal dari kata ‘azara-yu’aziru yang artinya menegur. Biasanya teguran ini dilakukan oleh para pembimbing dan pengasuh. Teguran dalam pesantren biasanya tidak hanya dengan nasehat-nasehat saja, melainkan dengan cara memberi hukuman sebagai bentuk teguran tahap selanjutnya supaya santri yang melakukan kesalahan akan jera dan tidak lagi mengulangi kesalahannya.

Setiap pondok pesantren memiliki bentuk ta’zirannya masing-masing. Di sini, mimin akan menyebutkan beberapa ta’ziran yang umumnya ada di pesantren. Nah, simak berikut ini:

  1. Piket kebersihan asrama

Merupakan ta’ziran yang sering dilakukan. Biasanya ta’ziran ini diberikan kepada santri yang tidak mengikuti pengajian Al-qur’an maupun kitab, tidak atau terlambat berjamaah sholat, atau kesalahan ringan lainnya.

2. Membaca Al-qur’an di depan santri lainnya

Biasanya ta’ziran ini juga berlaku ketika santri malas mengikuti pengajian Al-qur’an. Santri-santri yang presensinya kurang memenuhi target akan diberi hukuman membaca Al-quran di depan teman-temannya, bisa di depan masjid, asrama, maupun depan gerbang pesantren.

3. Meminta tanda tangan surat pernyataan kepada pengasuh

Ta’ziran ini diberikan supaya para santri yang melakukan kesalahan merasa malu, karena dikenal kyai atau bunyai karena kesalahan, bukan karena prestasi. Sehingga santri akan merasa jera dan tidak mengulanginya lagi.

4. Kepala digundul

Ta’ziran ini biasanya berlaku untuk santri putra saja. Termasuk dalam kategori karena melakukan kesalahan berat, misalnya : karena merokok, membawa handphone, dan lain sebagainya.

5. Dipulangkan atau dikeluarkan

Nah, ini nih. Biasanya ini merupakan pilihan ta’ziran terakhir karena santri sudah beberapa kali melakukan kesalahan dan masih mengulanginya lagi. Ketika sudah tidak bisa ditoleransi, maka santri tersebut akan dipulangkan ke orangtuanya. Wah ngeri ya!

Seorang santri masih dalam batas kewajaran apabila santri melakukan kesalahan, karena manusia memang tempatnya salah. Tapi jangan sampai diulang-ulang ya! Malah ada sebagian santri yang mengatakan, “Kalau belum dita’zir rasanya belum lengkap pengalaman jadi santrinya” Betul kah?

Namun, alangkah lebih baik lagi jika tidak melakukan kesalahan ya Mas-Mbak-Kang-Teh-Ang- atau siapalah panggilan di pesantrenmu Hehe.

Berani berbuat berani bertanggungjawab! (LRZ)

baca juga cerbung: Ning Lana

 

0
0

Irhas B Author

Penulis kadang-kadang di alasantri.id. Sering berpikir sebelum menulis, tapi lebih sering memikirkan apa yang ditulisnya. Ucapannya tidak lebih baik dari tulisannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *