TANGIS-TANGIS SANTRI

0
0

Apakah santri bisa menangis? Apasaja yang membuat santri menangis? Berikut mimin berbagi tangis-tangis santri yang mungkin para pembaca juga pernah mengalaminya. Langsung saja kita kupas satu persatu.

Tangis yang pertama adalah tangis kekhawatiran. Tangis ini biasanya akan datang ketika orang tua kita memutuskan untuk memondokkan kita. Kekhawatiran yang ada biasanya berkaitan dengan  tempat baru yang akan meraka tinggali. Kekhawatiran yang berlebihan kadang mendatangkan tangis yang tiba-tiba saja tanpa ada kejelasan dari apa yang sebenarnya dikhawatirkan. Tangis Ini merupakan tahapan tangis pertama, meskipun sesungguhnya belum disebut santri karena belum berangkat ke pesantren.

Tangis kedua adalah tangis ketika santri telah sampai di pesantren dan orang tua akan pulang meninggalkan kita pertama kali. Seolah berat memandang orang tua dan keluarga berjalan menjauh, ada dorongan untuk merasa tegar di hadapan orang tua, meski kadang tumpah juga air mata di kamar asrama. Adapula yang dengan terang-terangan menangis ketika ditinggal, hingga membuat ibu yang berjalan menjauh juga menitikan air mata, namun dengan senyum dan sebuah kata yang ucapkan “yang sabar ya, nak”.

Tangis selanjutnya adalah tangis dimana para santri baru dilanda sebuah virus bernama tidak betah/tidak kerasan. Bayang-bayang orang rumah mulai menyelimuti ditambah lagi dengan rasa pada lidah tentang makanan-makanan pesantren mendadak hambar, yang ada dipikiran hanya nasi goreng buatan bunda di rumah. Pada masa-masa ini, tangis lebih sering keluar meski beberapa santri ada yang mencari ruang-ruang sepi untuk mengekspresikan tangisnya. Butuh para pembimbing dan nasehat dari para senior untuk membuat hati tetap kuat melewati masa-masa berat adaptasi ini.

Tangis berikutnya adalah tangis perselisihan antar sahabat. Hidup dengan berpuluh-puluh kepala tentu saja akan ada masalah yang dihadapi dari mulai masalah kecil dan sepele hingga masalah-masalah besar dengan tidak sederhana penyelesaiannya. Ada beberapa tetes air mata yang kadang harus dikorbankan pada tahap ini, namun tak usah khawatir, justru masa-masa ini yang akan menghiasi kenangan-kenangan di pesantren.

Tangis selanjutnya adalah tangis menjelang perpisahan dan juga ketika saat-saat perpisahan datang. Pada tangis ini semua kenangan-kenangan berhamburan seolah debu yang berkumpul dan menabrakan diri ke pelupuk mata hingga pedih. Di tahap inipula semua pertikaian, permusuhan, perselisihan yang pernah terjadi hilang begitu saja, yang tersisa hanya sebuah kata berat untuk sekedar berpamitan mengucap kata “sampai ketemu lagi, entah kapan”.

Tangis terakhir adalah tangis ketika mengingat-ingat masa-masa mondok dulu. Membuka album pesantren yang lucu-lucu, foto-foto unik yang tidak didapatkan di tempat lain. Merindukan sosok-sosok nyentrik pesantren yang tidak ditemukan di tempat kerja saat ini, serta merindukan masa-masa penuh perjuangan namun merasakan kenikmatan yang saat ini sangat sulit didapatkan.

alasantri

0
0

Irhas B Author

Penulis kadang-kadang di alasantri.id. Sering berpikir sebelum menulis, tapi lebih sering memikirkan apa yang ditulisnya. Ucapannya tidak lebih baik dari tulisannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *