SEGARIS RAGU (VOL 5)

0
0

Siapa yang bisa menolak senja? Tenangnya menentramkan. Warna-warnanya teduh bak sebuah wajah ayu dengan tetes-tetes wudhu yang masih menempel pada putihnya. Selembut kain rukuh yang dipakai untuk menghadap Penciptanya. Senja selalu ditunggu setelah siang yang terik. Senja selalu ditunggu setelah hari dengan persoalan hidup yang pelik. Senja selalu saja dinanti seperti biasanya.

Sore ini adalah sore yang dinanti-nanti para pengurus puteri. Karena sore ini para pengurus akan mengaji di rumah Abah. Pengajian satu minggu sekali itu sudah rutin digelar di rumah Abah. Diikuti oleh pengurus putera dan puteri. Ketika ngaji, akan ada sekat pembatas antara pengurus putera dan pengurus puteri dari papan tulis sederhana yang akan memisahkan mereka. Pengajian kali ini tampak tidak biasa oleh beberapa santri. Pasalnya, yang mengisi pengajian nanti adalah anak Abah yang baru saja pulang dari Mesir untuk libur semester, Rasyid. Para pengurus puteri sudah ramai membicarakan akan seperti apa ngajinya nanti. Dari beberapa candaan yang keluar banyak sekali membicarakan ketampanan Gus Rasyid. Bahkan dari mereka tidak segan-segan membayangkan bahwa sepulang ngaji akan diajak sholat berjamaah.

Sore itupun tiba, beberapa pengurus sudah terduduk di ruang tengah rumah Abah. Sebagian dari mereka terlihat baru saja datang. Mereka duduk melingkar, tepatnya setengah lingkaran. Sisi kanan dipenuhi pengurus puteri, sedangkan sisi kiri sudah ramai beberapa pengurus putera.

Para pengurus puteri di baris depan terlihat tidak bisa menutupi perasaan mereka yang campur aduk. Ada yang beberapa kali harus mengelap keringat yang tiba-tiba muncul di dahi. Perempuan di pojok depan tidak pernah yakin dengan jilbabnya, perempuan itu beberapa kali memperbaiki jilbabnya agar simetris. Sementara perempuan disampingnya sedang asyik mencorat-coret sebuah kertas. Kertas putih yang dibawanya untuk mencatat beberapa point penting materi ternyata sudah penuh dengan coretan kata-kata yang entah keluar begitu saja.

Berbeda dengan pengurus puteri, pengurus putera terlihat tidak ada perubahan. Mereka hanya terlihat lebih santai dari biasanya. Mereka menganggap bahwa Gus Rasyid seumuran dengan mereka. Bahkan mereka merasa lebih santai dengan Rasyid dibanding bila mengaji dengan Abah. Beberapa dari mereka masih terlihat berbicara satu sama lain. Diantara pengrus putera yang ada, tidak ada sosok Irwan. Irwan biasanya ada di barisan paling depan. Bahkan Irwan sering diminta Abah untuk menjelaskan beberapa point yang telah diartikan oleh Abah kepada teman-teman pengurus lainnya. Hari ini Irwan meniadakan dirinya. Entah perasaan apa yang sedang berkecamuk dalam dirinya.

Sementara itu Miska sedang berusaha tenang meski kedua teman usilnya, Tika dan Rini menggodanya beberapa kali. Mereka ada di barisan nomer tiga. Rini dan tika sudah seperti minyak dan pemantik yang selalu siap membakar malu. Namun, Miska tetaplah Miska. Dialah perempuan yang bisa mengalihkan api besar sekalipun. Dia selalu tenang dengan kedua temannya yang super usil itu. Miska membuka lembar-lembar absen. Dia mendapat kepercayaan untuk memegang absen ngaji pengurus seperti biasanya.

Suasana sudah hening. Beberapa pengurus sudah tidak bersuara. Kursi yang biasa di pakai Abah masih saja kosong. Rasyid belum nampak. Dari lorong arah kamar Rasyid terdengar sebuah pintu terbuka. Semua pengurus tampak bersiap-siap. Semua pengurus terlihat diam beberapa saling berpandangan memberi kode untuk memulai berdoa bersama. Setelah canggung satu sama lain, akhirnya seolah ada aba-aba untuk mereka memulai berdoa bersama dengan cukup kompak.

Ketika doa sedang dibacakan, Rasyid datang duduk di meja Abah. Wajahnya masih basah oleh air wudhu yang baru saja ia ambil. Baju koko dan pecinya putih. Sarungnya coklat dengan beberapa motif merah marun. Ditangannya ada kitab yang dibawanya dari kamar dan ia letakan di meja yang ada di hadapannya. Wajahnya tertunduk dengan teduh.

Kedatangan Rasyid membuat beberapa pengurus puteri tidak konsen membaca doa. Terlihat ada yang menyenggol teman disampingnya dengan kakinya yang ditekuk ke samping. Temannya hanya membalas senyum dengan cuek.

Para pengurus sudah selesai membaca doa. Beberapa dari mereka terlihat membuka kitab dengan menarik pita pembatas yang ada di kitab mereka. Adapula yang memperbaiki posisi duduk mereka lebih tegak.

Assalamualikum warohmatullahi wa barokatuh” buka Rasyid dengan lengkap kepada para pengurus.

“Waalaikum salam wa rohmatullahi wa barokatuh” jawab serentak para pengurus.

“Teman-teman pengurus nama saya Rasyid. Diminta oleh Abah untuk menggantikan ngaji Abah. Tapi saya tidak akan melanjutkan pembahasan Abah. Saya merasa belum mampu. Saya hanya akan sedikit menjelaskan beberapa hal saja, bisa juga nanti kita berdiskusi”

Pengurus-pengurus terlihat mengangguk-angguk pelan. Beberapa menutup kitab mereka dan membuka buku catatan kecil. Adapula yang hanya membawa beberapa lembar kertas untuk mencatat.

“Baik, pembahasan kali ini tentang bagaimana para ulama dahulu belajar”

Rasyid menjelaskan dengan sangat rinci. Wajahnya beberapa kali menampakkan berbagai ekspresi. Kemampuan bercerita sudah dilatih di organisasi yang diikutinya di Mesir. Rasyid juga terlihat beberapa kali menyampaikan lelucon yang dia pernah dapatkan dari tempat belajarnya di Mesir. Beberapa hal yang diceritakan berdasarkan pengalaman pribadinya sendiri. Pengurus-pengurus terlihat tersenyum dan sesekali tertawa.

“Jika kalian punya pertanyaan bisa langsung disampaikan saja, ya”. Rasyid menawarkan. Para pengurus putera terlihat saling berpandangan seolah memberi kode pada sesamanya untuk bertanya. Sementara pengurus puteri saling colek dalam diam untuk memberi kode bertanya. Namun semuanya masih terdiam. Sampai seorang pengurus putera mengangkat tangannya.

“Mohon maaf Gus, saya ingin bertanya” dengan kaca mata bulat dan peci hitam pengurus itu nampak tertarik dengan topik

“Silahkan” jawab Rasyid halus sembari melempar senyum.

“Mendengar cerita tentang belajar para ulama, saya tertarik untuk belajar ke timur tengah. bagaimana rasanya belajar di Mesir, Gus? Tanyanya dengan antusias.

“Belajar di mesir, makanan aja sih yang kurang enak” diikuti tawa para pengurus.

“Yang membuat nyaman disana adalah kita bisa membaca kitab-kitab yang lengkap. Kita juga bisa bertanya kepada para dosen yang notabene sangat hebat. Jika  masih dirasa kurang kita bisa sowan langsung kepada Syeh. Itu yang membuat belajar semakin bersemangat dan juga dekat dengan para ulama”

“Ada pertanyaan lain” tampak suasana kembali hening. Sebenarnya banyak yang ingin bertanya, terlebih pengurus puteri. Namun karena malu, akhirnya, semua pertanyaan hanya tertahan.

“Jika tidak mari kita akhiri dengan bacaan Hamdalah

Alhamdulillah

Wassalamualaikum wa rohmatullahi wa barokatuh

Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh

“Silahkan jika ingin kembali ke asrama”

Semua pengurus bangkit. Pengurus putera dan puteri memiliki pintu sendiri-sendiri untuk masuk ke ruang ngaji itu. Mereka sudah bergerumun di lubang pintu masing-masing. Barisan paling luar sedang mencari sandal satu dengan pasangannya sebelum akhirnya mereka pakai dan berjalan pergi.

Rasyid masih terduduk di meja mengajar Abah. Di tempat pengurus puteri duduk dia melihat sebuah lembaran yang tertinggal. Kemudian dia langsung berkata dengan nada sedikit tinggi.

“Mbak itu ada yang tertinggal”

Pengurus-pengurus puteri yang sedang di pintu menoleh semua. Melihat benda yang tertinggal. Ternyata sebuah absen.

“Absen-absen, Absen tertinggal tuh, Mbak” saut seorang pengurus puteri kepada pengurus lain.

Dari kerumunan di lubang pintu, masuk seorang perempuan yang memang bertugas memegang Absen, Miska.

Dengan wajah yang sedikit tegang, Miska masuk kembali untuk mengambil absen yang tertinggal di ruang ngaji. Absen tersebut tepat lurus sejajar dengan posisi duduk Rasyid. Miska dengan perlahan mendekati absen dengan menunduk. Ketika dia meraih absennya, Miska angkat wajahnya untuk memberikan penghormatan kepada Rasyid. Saat itupula wajah Rasyid yang sedari tadi menulis sesuatu di kitabnya terangkat. Pandangan mereka bertemu.

Sepersekian detik sebuah pandangan memberikan Rasyid akan ingatan pada foto yang ada di Mushaf di kamarnya. Rasyid ingin menanyakan soal Mushaf. Mulutnya terasa berat. Di hatinya ada segaris ragu. Apakah benar ini perempuan pada foto itu. Hatinya merasa yakin namun logikanya enggan untuk berasumsi.

Miska hanya bisa salah tingkah di depan Gus-nya ini. Wajahnya memerah habis. Apalagi miska melihat wajah Rasyid terlihat memiliki rasa penasaran dengannya. Ada sedikit keinginan untuk menyampaikan perihal Al-Quran. Namun apalah daya, salah tingkah dan rasa malunya sudah tumbuh lebih dulu dari keberaniannya. Akhirnya Miska hanya bisa mengangguk. Dan kemudian berpaling menuju pintu yang terlihat sudah sedikit lengang pengurus yang hendak pulang.

Rasyid hanya bisa membalas dengan anggukan balik serta melempar senyum kepada Miska. Miska sudah berada di luar pintu yang terbuka. Kala dia kemudian berbalik untuk kedua kalinya untuk memakai sandal. Saat itupula tidak ada kata yang bisa keluar dari dalam mulut keduanya. Semua tertahan berdesakan dan tak bisa berontak. Sampai akhirnya Miska beranjak pergi dengan dua pengurus lainnya dan menghilang pada blok-blok pesantren.

Rasyid hanya bisa menahan keberaniannya. Entah kenapa dirinya tak bisa berucap. Ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya. Rasyid menarik bibirnya kedalam dan menahannya dengan gigitan. Kemudian Rasyid beranjak menuju kamarnya. Penyesalan masih menggantung dalam dirinya. Ia baringkan tubuhnya di atas kasur. Matanya melirik ke arah rak buku dan kitabnya. Diantara sela-sela kitanya ada warna yang mencolok. Yaitu dari Mushaf warna merah hati.

Sementara itu, Miska melangkah dengan gamang. Semuanya semakin kacau. Miska melihat raut curiga dari wajah Rasyid. Miska berpikir bahwa Rasyid sudah menemukan Mushaf-nya dan melihat foto dirinya di dalam Mushaf. Miska semakin bingung harus bersikap. Beberapa pertanyaan muncul pada pikirnya. Haruskah dia bertemu Abah? Ataukah melalui Ummi? untuk mengambil mushafnya dan menjelaskan semuannya. semua opsi-opsi hanya menjadikannya lebih bingung. Dia seolah terseseat dalam jalan pikirannya sendiri.

Langit sedikit gelap, kabut tipis menutup gugus bintang dan terang rembulan. Anginnya berhembus pelan melenakan. Segaris ragu berhasil menutup sebukit keyakinan

Facebook Comments
0
0

admin Author

Comments

    Aqilla

    (November 16, 2016 - 4:23 pm)

    Akhirnya vol 5? jadi makin penasaran sama vol6? kelamaan si jeda waktunya?

    Miftah

    (November 16, 2016 - 9:09 pm)

    Hadir gus rosyid ?

    Aat

    (November 16, 2016 - 10:09 pm)

    Buat novel aja…le moco digantungin….

    Mohamad Nur Fauzan

    (November 17, 2016 - 5:01 pm)

    Ditunggu update anya min…

    MimRo'

    (November 19, 2016 - 7:50 am)

    aduh…. Miska…??

    Santriyat

    (December 15, 2016 - 1:54 am)

    Apakah semua santri putri sikapnya salting gitu ya… kalau ketemu gus belum nikah,??? GR GR gimana…. gitu

    Btw, aku BAPER

    Blogger Newbie

    (January 9, 2017 - 3:37 am)

    Kunjungi Blog Akuu yaa, maaf Blogger newbie bro contohseonih.blogspot.com

    Eko Rizkiyanto

    (March 27, 2018 - 2:49 pm)

    Subhnallah, banyak petikan pelajaran yang saya dapatkan dari artikel tersebut.
    ngomong ngomong, ada versi PDFnya gak min..??
    hehe, terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *