SEGARIS RAGU (VOL 10)

0
0

Pagi selalu punya teka-teki. Anggapan dan bayangan selalu terlintas untuk pagi. Semalam sebelum pagi, milyaran perasaan bercampur aduk membayangkan pagi. Sesuatu yang mungkin saja tidak ditemui. Sesuatu saja yang mungkin bisa memberi sebuah kunci. Pada sebuah pagi, berjuta-juta harapan melayang mengharap hari yang yang penuh dengan kebaikan. Pada sebuah pagi, manusia memulai hari.

Pagi itu di Darul Inayah waktu terasa begitu saja beralalu. Suasana tegang menyelimuti beberapa hati di ruang tamu rumah Abah. Beberapa hati yang menyimpan harap penuh pada hati yang lain. serta sebuah hati yang sedang gusar tanpa kesadaran berhati. Hati lain yang menyimpan kekecewaan serta doa yang diam-diam dipanjatkan.

Setelah mendapatkan hasil yang belum menemui kejelasan, Irwan dan Pamannya meninggalkan rumah Abah. Sebelum pergi, Pamannnya Irwan meminta izin untuk tinggal beberapa hari terlebih dahulu di pesantren sebelum pulang kembali ke keluarganya di kampung. Abah mempersilahkan bahkan juga menawarakan tinggal di rumah Abah, namun Paman Irwan menolak dan ingin tinggal di kamar Irwan saja. Akhirnya Abah tidak bisa memaksanya. Mereka berpamitan undur diri. Irwan dan Pamannya meninggalkan rumah Abah dan kembali ke komplek asrama putra.

Tak lama berselang, Rasyid yang sebelumnya berada di ruang kitab milik Abah kemudian meninggalkan ruangan kitab dan menuju kamarnya. Rasyid ingin menenangkan dirinya dari berbagai hal yang mengusik ketenangan hatinya. Beberapa percapakan yang tidak sengaja dia dengar telah banyak membuatnya tersiksa. Rasyid terbaring lemas di kamarnya.

Miska masih terduduk di ruang tamu Abah. Dia tidak berani berpamitan sebelum Abah memperbolehkannya pergi. Miska hanya menunduk tidak berani menatap Abah. Abah dengan tenang mengangkat cangkirnya yang masih terisi sedikit teh. Meski teh milik Abah sudah tidak panas lagi, Abah masih tampak nikmat menyeruput teh dari cangkirnya. Aroma teh yang harum merambat pada sela-sela hidung mengantarkan aroma-aroma alam di dalam pikirannya. Melihat Miska yang masih menunduk, Abah tersenyum dan meletakan cangkir tehnya.

“Itu diminum dulu teh-nya” seru Abah sembari menunjuk secangkir teh yang ada dihadapan Miska.

Miska tampak mengangguk pelan. Di wajahnya ada sedikit rasa segan mendapat tawaran minum dari orang yang sangat Dia hormati. Tangannya tampak ragu antara harus mengambil teh dan menuruti perintah ataukah diam karena segan dan dirasa tidak sopan. Miska masih tidak bergerak seolah kaku dan ragu atas sikap yang harus dipilihnya. Sebenarnya Miska sudah sangat sering berbincang dengan Abah, namun pembahasan tentang lamaran ini membuat Miska tak bisa berkutik sedikitpun. Seorang santri putri biasa duduk di sebuah ruangan dengan Kyai-nya membicarakan calon pendamping. Entah mimpi apa yang Miska dapatkan sehingga bisa berada pada posisi tersebut. Meski posisi seperti ini adalah posisi yang sangat diharapkan oleh banyak santri putri di berbagai pesantren, hal ini tidak sama sekali diharapkan atau diinginkan oleh Miska.

“Loh, kok malah diam, Ayo diminum dulu” Abah kembali meminta Miska untuk meminum tehnya. kali ini masih dengan senyum Abah yang khas.

Dengan keyakinan akhirnya Miska bermaksud untuk meraih teh yang ada dihadapannya. Duduknya yang masih teramat jauh dari cangkir teh mengharuskan Miska untuk mencondongkan badannya untuk meraih teh. Tangannya dia ulurkan sampai telunjuknya meraih lubang pada gagang cangkir. Dengan jari-jarnya yang lentik Miska mengangkat cangkir teh kehadapannya. Sembari menunduk, Miska mulai menyeruput teh dengan perlahan.

“Itu yang bikin Rasyid, gimana enak?” kalimat itu tiba-tiba saja terucap dari lisan Abah sehingga membuat Miska kaget. Miska sudah mencoba menahan diri namun seolah ada dorongan keluar dari tenggorokannya sehingga membuanya tersedat. Cangkir yang dipegangnya tidak stabil sehingga membuat posisi cangkir miring tidak terkendali, akhirnya beberapa tetes teh sudah terjatuh pada rok yang dan karpet yang ada di hadapan Miska.

“pelan-pelan minumnya, Miska” dengan refleks Abah langsung berucap kepada Miska. Abah mengira teh masih dalam keadaan panas. Abah mengambil kotak tisu kemudian mendekatkan kepada Miska. Miska meraih beberapa helai tisu kemudian dia bersihkan rok dan karpet yang terkena tumpahan tehnya. Tak disangka hal ini bisa terjadi. Miska sangat malu dengan orang yang sangat dihormatinya itu. Miska mengelap karpet yang terkena tumpahan teh terus menerus meski sudah kering. Rasa malu membuatnya tak terkontrol harus berbuat apa sementara wajahnya sudah merah merona.

Abah yang melihat Miska bersikap demikian kemudian menenangkan Miska dengan meminta Miska untuk menunda membersihkannya. Miska kemudian berhenti mengelap. Tisu bekas lap masih ada di genggamannya. Dengan masih menyimpan rasa malu di hatinya, Miska hanya bisa kembali menunduk dan beberapa kali mengucapkan maaf kepada Abah.

“Miska” ucap Abah pelan.

“Nggih, Bah” jawab Miska memenuhi.

“Menerima lamaran laki-laki adalah sebuah hal yang baik. Sama halnya dengan memudahkan mahar” Miska tampak diam mendengarkan. Dia menyadari pembahasan ini masih berlanjut. Insiden teh dan sang pembuat teh beberapa menit telah mengalihkan perhatiannya sejenak. Kini Abah mengingatkanya kembali. Abah menarik nafas untuk kembali menjelaskan.

“Apalagi kita sudah tau seperti apa laki-laki dan juga keluarganya” Abah melanjutkan dengan jelas. Miska sesekali mengangguk tanda mengerti apa yang disampaikan Abah.

“Irwan bagi Abah adalah laki-laki yang baik dan punya sifat baik, begitu juga keluarganya. Setiap Darul Inayah mengundang selalu menyempatkan datang” penjelasan Abah kali ini lebih mengarah kepada Irwan, Laki-laki yang baru saja melamarnya. Meski Abah sudah berkata demikian, tetap saja Miska belum dengan sepenuh hati bisa yakin.

Abah berhenti menjelaskan. Miska tidak tau apakah harus ikut berbicara atau hanya menyimak penjelasan Abah. Hatinya memilih untuk diam, selain karena rasa hormat, Miska juga memang sedang tidak punya pandangan akan berkata apa. Di dalam benaknya saat ini hanya terpikir untuk bisa berbicara dengan ibunya.

“Tapi” Abah kembali berucap sepenggal kata. Kali ini berkebalikan dari sebelumnya. Satu kata yang keluar kemudian terhenti. Miska sedikit mengangkat pandangan. Melihat ekspresi Abah yang sedang behenti sejenak menjelaskan.

“Kita dianjurkan untuk meninggalkan sesuatu yang meragukan kita” Abah menjelaskan. Miska kembali mengangguk.

“Perempuan juga punya hak untuk tidak menerima seorang laki-laki jika memang tidak dia kehendaki. Namun perlu diingat, hal ini harus berdasarkan alasan yang tepat agar tidak membuat laki-laki dan keluarganya tersinggung” penjelasan Abah kali ini lebih panjang dari sebelumnya.

“Nggih Bah, makanya saya ingin bertanya lebih dulu kepada ibu saya” tambah Miska dengan yakin.

“Betul. Itu lebih baik. Musyawarahkanlah terlebih dahulu kepada keluarga” Abah melengkapi. Kemudian keduanya hening untuk beberapa saat.

Tak jauh dari ruang tamu, Rasyid terbaring di atas kasurnya. Matanya beberapa kali berkedip kosong. Pandangannya hanya mengarah ke langit-langit kamarnya. Entah kenapa dia begitu terpikir dengan apa yang didengarnya. Entah kenapa hatinya selalu terpaku dengan sebuah nama sederhana. Dadanya sesekali sesak mengingat beberapa percakapan yang didengarnya dari ruang tamu secara tidak sengaja. Beberapa kali juga Rasyid tersenyum membayangkan hal-hal yang telah terjadi selama dia di rumah. Belum genap satu minggu, Rasyid sudah mengalami hari-hari yang sangat aneh. Hari-hari yang belum pernah dia alami sebelumnya. Hari-hari yang tidak pernah luput dari kehadiran sebuah nama, Miska. Entah kenapa Rasyid juga merasa sosok itu perlahan menghinggapi hatinya. Sosok yang setiap pagi dia amati mengaji pada selasar masjid Darul Inayah. Sosok yang tanpa sengaja Ia kenal melalui sebuah mushaf yang tertinggal di kamarnya. Entah kenapa semua kejadian itu memaksanya mengakui bahwa ada perasaan lebih terhadap Miska. Perasaan yang mampu membuatnya tak berdaya untuk sekedar bersikap biasa. Semua pola tubuhnya berubah kala berhadapan dengannya. Jantung tak bisa berdetak seperti biasanya, ritmenya selalu meningkat seolah tak mau mengalah dari detik-detik waktu. Kaki dan tangannya selalu saja bergetar tanpa ada maksud dan tujuannya seolah ada gempa lokal yang hanya mengenai tubuhnya. Lidahnya keras membatu seperti pendaki pada puncak-puncak gunung es. Rasyid harus menerima bahwa dirinya sudah masuk dalam sebuah lembah yang banyak orang menyebutnya cinta.

Tragis memang, di kala dirinya terjerembab pada rasa suka kepada Miska, sebuah pembicaraan lain tiba-tiba mengusik beberapa angan indah yang sedang dibangunnya. Datang dan mengalangi dirinya berangan-angan. Imajinasi yang terhenti. Seolah anak kecil yang dilarang bersepeda ketika dia baru bisa mengendarainya. Sebuah kenyataan pahit yang harus dia terima sebagai seorang yang tidak memiliki peran di dalam kisahnya. Ada wajah lain yang harus masuk dalam imajinya. Wajah yang selangkah lebih maju darinya. Wajah yang sudah bisa menyampaikan niat baiknya. Sementara dirinya hanya terhenti sebagai seorang pembuat imajinasinya.

Pikiran Rasyid tidak tertutup hanya karena lamaran Irwan kepada Miska, melainkan juga karena posisinya yang tidak diuntungkan sedikitpun. Rasyid harus kembali ke tanah rantaunya dalam hitungan minggu. 3 minggu lagi dia harus sudah kembali ke Mesir untuk melanjutkan studinya. Rasyid tidak akan mungkin bisa mendapatkan Miska. Sisa waktu Rasyid yang masih 3 tahun lagi membuatnya sulit untuk menjangkau Miska. Bisa saja dalam 3 tahun itu gadis yang disukainya menemukan tambatan lain dan menikah. Rasyid juga mengakui bahwa dirinya tidak sanggup bila harus meminta menikah saat ini. Ditambah lagi posisi orang tuanya,  Abah menjadi orang yang dimintai tolong oleh Irwan dan keluarga untuk menjadi saksi lamarannya kepada Miska. Posisi yang ada selalu merugikan Rasyid. Hal terakhir yang bisa ia harapkan adalah Ummi.

Rasyid selalu dekat  dengan Ummi melebihi kedekatannya dengan Abah. Rasyid bisa saja menyampaikan kepada Ummi tentang masalahnya. Ummi dirasa selalu punya solusi yang menarik bagi Rasyid. Ummi selalu bisa mengerti keadaan dan posisi Rasyid. Permasalahan rumit yang dulu dialami Rasyid adalah ketika Rasyid diminta Abah untuk masuk kuliah di Al-Azhar. Pada saat itu Rasyid sangat tertekan Karena dia merasa belum sanggup untuk langsung berkuliah di  Mesir. Cerita tentang beratnya dunia perkuliahan di Al-Azhar membuat dirinya kurang percayadiri. Rasyid menyadari kemampuannya tidak bisa disamakan dengan beberapa kakak-kakak permpuannya yang selalu mendapat rangking 1 di kelas dan cepat dalam hafalan. Rasyid juga tidak berani menolak perintah Abah meski Abah tidak memaksa Rasyid. Namun ketidak percayadirian Rasyid akhirnya ditangkap oleh Ummi yang kemudian memberi solusi untuk mondok dulu di Mesir. Akhirnya atas solusi dari Ummi semua permasalahan terselesaikan dengan baik. Abah mengizinkan Rasyid untuk mondok di Mesir sebelum memulai perkuliahan.

Begitu juga dengan persoalan Miska, Rasyid sepertinya harus meminta bantuan Ummi untuk menyelesaikan masalah yang ada. Rasyid akan tenang jika sudah berbicara dengan Ummi. Rasyid juga akan lebih bisa menerima setiap hal jika Ummi juga menyetujuinya. Oleh karena itu hanya Ummi satu-satunya jalan yang akan Rasyid tempuh. Entah apa yang nanti akan menjadi jawaban serta sikap Ummi mendengar pernyataannya, yang terpenting Rasyid sudah menyampaikannya.

Ummi masih belum pulang dari pasar sedari pagi. Ummi memang selalu pergi ke pasar dengan beberapa santri yang dimintanya untuk menemani. Selayaknya seorang ibu rumah tangga, Ummi juga kerap kali berlama-lama di pasar apalagi jika menemukan beberapa bahan hiasan untuk topping kue. Ummi selalu naik becak ke pasar. Pasar dari Darul Inayah tidak begitu jauh, sehingga becak merupakan transportasi yang sangat pas.

Rasyid masih dalam lamunannya. kali ini Ia memiringkan posisinya. Di hadapannya sebuah meja belajar dengan sebuah rak tidak jauh diatasnya. Deret-deret kitab pada rak dilihatnya dengan seksama. Beberapa kitab sudah khatam di bacanya, sisanya sudah sangat familiar dilihatnya. Di Mesir Rasyid selalu menyempatkan diri membaca buku-buku pelajaran dan juga kitab-kitab. Hal ini untuk semakin menguatkan hafalannya. Rasyid menyadari bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan hafalan yang kuat, maka dari itu dia sering sekali membaca kembali kitab-kitab yang pernah dia pelajari dari beberapa Syeh di Al-Azhar.

Kala hanyut dalam lamunannya, terdengar suara sebuah piring yang berbenturan dengan piring lainnya dari dapur. Suaranya nyaring hingga masuk ke kamar Rasyid dan akrab di telingannya. Suara dari dapur itu memberi kode pada Rasyid bahwa Ummi sudah pulang. Dengan perasaan yang tenang Rasyid bangkit dan kemudian terduduk di kasurnya. Kamarnya yang berdekatan dengan dapur membuatnya dengan mudah menuju dapur. Rasyid tak mau menyianyiakan waktu, dia bangkit dari kasur dan berdiri kemudian beranjak mendekat ke pintu. Dengan yakin dia berencana untuk mendatangi Ummi dan akan menyampaikan keluh kesahnya. Rasa penat yang ada di dalam dirinya sudah seharusnya segera ia keluarkan agar menjadi lebih tenang.

Rasyid membuka pintu dan kemudian keluar. Dengan menggunakan kaos polos putih dan sarungnya garis-garisnya, Rasyid berjalan menuju dapur. Sebelum kakinya menapak ke kawasan dapur, Rasyid sudah bersuara memanggil Ummi.

“Ummi” kalimat itu keluar dengan begitu jelas. Kala Rasyid sudah berada di dapur, Rasyid mengulang panggilannya kepada Ummi, kali ini Rasyid memanggil dengan nada yang berbeda dan sedikit mengalun.

“Umm” panggilannya terputus. Nafasnya sesak, matanya terbelalak. Detak jantungnya terpacu. Darahnya mengalir deras. Seketika suasana berubah menjadi kacau. Rasyid tidak melihat Ummi di dapur. Rasyid melihat wanita lain di dapur. Wanita yang sedang membuatnya gelisah. Wanita yang justru akan menjadi pembicaraannya dengan Ummi. Miska berdiri di depan tempat pencucian piring. Tangannya masih memegang gelas yang terluluri buih-buih putih. Wajahnya menengok ke arah Rasyid yang terdiam kaku. Miska juga tak bisa berkata apa-apa. Hanya pandangan kosong kepada Rasyid. Suasana hening beberapa detik bertahan. Keduanya terpaku dengan jarak 5 meter. Tak ada kata dan suara. Hanya pandangan kosong yang bersilangan kadang bertemu.

“Eh Miska, maaf saya kira Ummi” Miska hanya mengangguk pelan dan malu dengan apa yang dilihatnya baru saja. Miska berbalik kembali melanjutkan pekerjaannya mencuci cangkir teh yang ada di hadapannya. Dengan cekatan dia bilas beberapa cangkir yang ada di tangannya dengan air dari keran. Miska tata cangkir-cangkir yang sudah bersih pada rak gelas dan piring yang ada di sebelah kanannya.

Rasyid yang mati gaya masih terpaku di tempatnya berdiri. Tangan kanannya dia tempelkan di dahinya dan kemudian mengusap ke bawah ke seluruh wajahnya. Untung saja Miska sudah kembali berbalik mencuci cangkir. Kemudian Rasyid berbalik dengan sangat malu dan tak bisa berkata apa-apa lagi. Rasyid sangat malu dengan kejadian itu. Dia segera kembali ke kamar dan menahan rasa malunya. Rasyid tertawa kesal kepada dirinya. Kenapa dia begitu ceroboh. Kenapa dirinya selalu terlihat bodoh di depan Miska. Kenapa selalu saja hari-hari ini dipenuhi dengan Miska. Rasyid tak habis pikir. Rasyid kembali membenamkan dirinya di kasur. Wajahnya dia tutup dengan bantal.

Miska telah selesai dengan mencuci cangkir. Kemudian dia beranjak kembali untuk pulang ke asramanya. Dengan melawati lorong depan kamarnya Rasyid Miska beranjak pergi. Di lorong itu seolah ada yang aneh. Ada perasaan merinding pada tubuh Miska. Dia menyadari bahwa dibalik pintu hijau itu ada orang yang selalu membuatnya aneh. Sebuah kamar dimana Mushafnya tertinggal. Miska tak terlalu memikirkan hal itu. Miska beranjak menuju pintu keluar yang ada di samping ruang tengah atau ruang ngaji.

Miska memakai sandal dengan segera. Dikala sandal sudah pas dengan kakinya, Miska siap beranjak pergi. Tiba-tiba sebuah becak datang mendekat. Di becak tersebut ada dua orang wanita. Di kaki mereka sudah ada beberapa plastik belanjaan. Wanita itu adalah Ummi dan seorang santri putri yang baru pulang dari pasar. Miska yang melihat Ummi datang mengurungkan niatnya untuk pulang ke asrama. Miska bermaksud untuk bisa menyalami Ummi terlebih dahulu. Miska berdiri dengan sedikit membungkuk ke arah datangnya becak. Becak sudah berhenti dengan tepat. Ummi segera turun. Miska menyambut dengan memberi senyum kepada Ummi. Miska meraih beberapa plastik yang menghalangi Ummi dan kemudian mengangkatnya. Ummi tersenyum kepada Miska dan mengucapkan terima kasih.

Santri putri yang duduk bersama Ummi di becak menyusul turun. Dia membawa beberapa plastik yang masih tersisa di atas becak. Ummi dengan cekatan mengambil beberapa lembar uang dari dompet kecilnya dan memberikan kepada tukang becak yang sudah berdiri di samping Ummi. dengan sopan tukang becak menerima dan menunduk berterima kasih.  Tukang becak pamit dan memutar becaknya kemudian meninggalkan Darul Inayah.

Ummi berbalik ke arah Miska. Dengan senyum Ummi bertanya kepada Miska.

“Habis ketemu Abah?” Tanya Ummi.

“Nggih, Ummi” jawab Miska pelan.

“Anak kesayangan Abah ya. Udah nggak pernah nemenin Ummi pasar” dengan nada menggoda Miska pun tersenyum malu mendengar Ummi menggodannya.

“Ndak kok, Ummi” jawab Miska pelan.

“Udah itu kasih Wati saja, ndak apa-apa” sembari menunjuk beberapa plastik yang ada di tangan Miska. Wati, santri putri yang menemani Ummi berbelanja menyambut beberapa plastik yang ada di tangan Miska. Dengan cepat akhirnya plastik-plastik sudah berada di tangan Wati. Akhirnya Miska bersalaman dengan Ummi dan beranjak pergi.

Miska berjalan menuju asramanya. Jarak rumah abah dan asramanya tidak begitu jauh, hanya 3 blok. Miska sudah sampai di depan kamarnya. Ketika tangannya mau membuka pintu, ternyata pintu terbuka dari dalam. Rini membuka pintu dari dalam kamarnya. Miska berhadapan dengan Rini. Rini berekspresi datar menatap Miska. Miska menyadari ada hal yang aneh.

“Gimana Mbak, diterima nggak? Tanya rini dengan datar kepada Miska.

“Kamu Rin” sanggah Miska menunda menjawab.

“Sudah kasih jawaban ke Kang Irwan?” Tanya Rini tiba-tiba ke Miska dengan posisi masih di pintu kamarnya.

“Belum, Rin. Aku mau musyawaroh dengan Ibuku” jawab Miska dengan tenang.

Tiba-tiba raut wajah Rini berubah muram. Matanya menyipit. Bibirnya mengerut. Wajahnya seolah berubah. Seolah bukan rini yang biasasanya. Miska penasaran dengan Rini. Apa yang membuatnya begitu.

“Kenapa, Rin?” Tanya Miska memastikan.

Rini masih terdiam dan kemudian membuang pandangan dan pergi melewati Miska. Dia berjalan setengah berlari. Dengan tanpa memandang Miska, Rini berlalu begitu saja. Miska sudah berusaha bertanya tapi Rini sudah jauh berjalan dan menghilang berbelok entah kemana.

Miska tidak tau apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Miska masuk ke kamarnya. Di kamarnya sudah ada Tika. Tika sedang duduk di depan lemarinya. Miska mendekati Tika dan ingin menanyakan tentang Rini. Miska duduk di sebelah Tika. Tika juga terlihat aneh. Biasanya dia sudah menyerangnya dengan banyak pertanyaan. Tika hanya terduduk di depan Lemarinya dengan sebuah kertas di tangannya. Tika sedang menulis beberapa hal yang ingin dia beli di koperasi pondok. Tika menyadari Miska duduk di sebelahnya dan melihat wajahnya.

“Tik, Rini kenapa?” Tanya Miska kepada Tika.

“Tadi dia habis curhat sama aku, Mbak” Tika menjawab.

“Trus” Tanya lagi Miska dengan penasaran.

“Ternyata dia suka sama Kang Irwan” Tika menjawab dengan tidak semangat. Miska mendengar hal itu dengan kaget. Dia menyesal kenapa dia tidak peka terhadap sahabatnya itu. Miska harusnya menyadari bahwa Rini memang menyukai Irwan. Miska juga menyadari bahwa jawabannya untuk mempertimbangkan Irwan secara tidak langsung telah membuat Rini sakit hati. Miska gamang. Kini apa yang harus dia lakukan. Dia terlalu fokus untuk menyiapkan hal lain sehingga membuat segalanya menjadi tidak fokus.

Siang terik di Darul Inayah. Panasnya menyengat kedalam. Kilaunya membuat pedih mata yang menatapnya. Namun terik memberi kering pada lembar-lembar pakaian santri. Memberi terang pada jiwa-jiwa pencari pengetahuan. Terik tak pernah salah dengan panasnya. Terik juga tak pernah benar dengan segala halnya. Terik tetaplah begitu. Hanya manusia yang punya banyak tuntutan atas apa yang diberikan.

Jangan Lupa Kasih Komentarnya ya….

 

0
0

Irhas B Author

Penulis kadang-kadang di alasantri.id. Sering berpikir sebelum menulis, tapi lebih sering memikirkan apa yang ditulisnya. Ucapannya tidak lebih baik dari tulisannya.

Comments

    ilmi

    (December 22, 2016 - 11:27 am)

    Persis kayak ceritaku dengan Gus itu, apa endingnya juga akan sama 🙂

    MimRo'

    (December 22, 2016 - 3:46 pm)

    ana sih fokus ke perasaan Rasyid ??

    Miftah

    (December 23, 2016 - 2:32 pm)

    Lanjuut kang ?

    ni'mah

    (January 2, 2017 - 6:00 am)

    di bikin film aja kang…
    atau novel gitu…
    greget sma ceritanya…?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *