Santri, Apakah Olahraga?

0
0

Olahraga itu gerak badan untuk menguatkan dan menyehatkan tubuh, olahraga sendiri itu banyak sudah cabangnya, seperti contoh sepak bola yang mungkin lumrah di telinga orang-orang ketahui pun juga banyak pula penggemarnya.

Hampir semua kalangan pernah mencicipi sepak bola, karena memang olahraga tersebut tidak terlalu banyak merogoh uang saku, modal bola karet atau bola plastik sepak bola sudah bisa dinikmati.

Tak bisa dipungkiri lagi, karena sepakbola termasuk olahraga dalam kategori murah meriah, pun para santri tak luput dari kegiatan tersebut. Biasanya permainan adu taktik dan ketajaman serangan ini akan dimulai pasca pengajian ba’da ashar usai, setiap pondok pastinya memiliki cara bermain juga taktik tersendiri dan studion yg berbeda. Ya bisa diukur dari bagaimana kondisi pondok tersebut.

Pondok kulon banon kajen misalnya, biasanya para samtri setelah selesai mengaji berbondong-bondong menuju lahan pondok bagian belakang yg memang dari pengasuh pondok menjadikan lahan tersebut dijadikannya lapangan sepak bola agar santri tetep betah selama bermukim dipondok.

Beda lagi dengan studion milik pondok Maslakul Huda li Al-Mubtadi’in, pondok tersebut memang khusus untuk para santri yg baru lulus dari Madrasah ibtidaiyyah atau Sekolah Dasar sampai dengan kelas 2 tsanawi sepakbola menjadi olahraga pilihan utama para santri, para pemain yg mengantri tidak sedikit bahkan membludak melihat semua pemain tidak bisa ikut bertanding sebab faktor lapangan yang tidak begitu besar ditambah dengan berdiri tegaknya beberapa pohon jati, pohon mangga dan pohon sawo ditengah-tengah lapangan, mereka berinisiatif dengan bergantian tanpa cekcok atau adu jotos.

Biasanya tim yang kebobolan 2 atau 3 goal (bagaima kesepakatan dari para pemain) maka tim yang kalah akan segera keluar lapangan tanpa harus diaba-aba, disusul dengan masuknya tim yang sudah mengantri. Bagi yg menang mereka tetap berdiri tegap menunggu lawan.

Rata-rata pondok akan mengakhiri permainan adu taktik dan ketajaman menyerang kala jarum jam menunjukan pukul 17:00 WIB. Karena memang waktu maghrib akan segera tiba, pun para santri harus bersiap-siap guna memenuhi  kewajiban sholat berjamaah dilanjutkan mengaji dengan para guru pengajarnya.

Namun berbeda bila hari kamis telah tiba, para santri berbondong-bondong menuju lapangan sepak bola ditetangga desa. Tanpa wasit apalagi aturan permainan yg ideal, semua santri yg datang ya kesemuanya itu ambruk jadi satu dalam satu lapangan.

Dari kegiatan sehari-hari tanpa ada latihan yg begitu berarti, namun kala bulan maulid tiba para pengurus pondok 3 PMH Pondok Maslakul Huda (selanjutnya akan disebut putra), Pondok Mathali’ul Huda (selanjutnha akan disebut pusat) dan Pondok Mathali’ul Huda Al-kaustar (sekanjutnya akan disebut al-kaustar) berunding untuk mengadakan lomba tahunan secara besar-besaran yg terbagi menjadi lomba jasmani dan lomba rohani.

Nah, pada bagian lomba jasmani ini terbilang agak sedikit nyeleneh juga. Karena setiap cabang olahraga yg d lombakan tidak banyak santri yg menjamahnya. Nah dari lomba jasmani ini biasanya panitia mengambil olahraga yg dilombakan dari setiap tahun ketahunnya sama, seperti maraton, estafet, tanco, badminton, volly, sepak bola dn futsal tentunya tak ketinggalan yel-yel unik, karena memang supporter dari setiap pondoknya bisa berekpresi sebebas mungkin dn mengolah bakat mereka yang terpendam dengan mengaransemen lagu-lagu yang nantinnya mereka suarakan kala pertandingan berlangsung sebagai dukungan penuh juga penyemangat bagi mereka yg bergulat dengan sikulit bundar.

Satu contoh lomba volly, olahraga ini para santri tidak pernah berlatih. Jangankan tau cara service bola lawong lapangannya aja di daerah sekitar pondok tidak ada. Entah apakah mereka memang sudah jago volly sebelum mondok atau memang hanya menghindari diskualifikasi, so pastilah lomba ini tak kalah seru dengan sepak bola.

Semua keseruan disertai derasnya keringat guna meraih apa yg telah d ekspektasikan, pesan dari kakak Via Vallen memang terealisasi dengan lagunya meraih bintang yg liriknya “kalau menang jadi prestasi, kalau kalah jangan frustasi, kalah menang solideritas kita galang sportivitas” ini memang benar-benar terjadi tanpa dendam sedikitpun setelah semua selesai.

Santri itu semuanya bisa dn bisa semua, paradigma pemahaman santri yang kucel, gatal-gatal, kaku, kotor itu hanya masa lalu. Para kyai dan pengasuh sudah menambahkan sarana prasarana untuk para santri agar mereka semakin betah hidup dipondok.

Ya kita tau lah Bapak menpora kita Imam Nahrowi, beliau itu santri tulen dan mas Rafli pun masuk dalam jajaran tim skuad nasional U-19, itu santri jeblosan Liga Santri Nusantara.

Hapuskanlah cara pandang yg menjelek-jelekan tanpa pernah tau atau terjun langsung melihat realita yg terjadi (Red. Silmi Kajen)

0
0

Irhas B Author

Penulis kadang-kadang di alasantri.id. Sering berpikir sebelum menulis, tapi lebih sering memikirkan apa yang ditulisnya. Ucapannya tidak lebih baik dari tulisannya.

Comments

    Dudidudidam

    (September 8, 2018 - 11:58 pm)

    Baguuusss dan Mendekati sempurna,
    Tapi lebih baik alur critane di perbaiki lagi ben enak di bayangkan 😁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *