Ning Lana #5

Aku sudah menyiapkan berbagai kebutuhan untuk mengikuti rapat tentang khataman pesantren Annihayah yang kurang 1 bulan lagi. Rapat kali ini rapat pertamaku setelah selesai kuliah, dulu aku tidak pernah mengikuti kegiatan rapat apapun di pesantren, namun semenjak menjadi sarjana, abah sudah mewanti-wanti diriku untuk ikut aktif membantu para pengurus pondok dalam beberapa kegiatan. Usia para pengurus pondok tidak begitu jauuh dariku, mereka banyak lebih tua dariku 1 hingga 3 tahun diatasku.

Sebenarnya aku kaget ketika Anam menemuiku dengan sangat berani dan mengajakku untuk ikut dalam rapat khataman, namun aku memang harus membiasakan dengan agenda-agenda demikian. Aku harus ikut rapat dewan keamanan pesantren ketika ada beberapa santri yang melanggar peraturan pesantren, aku juga ikut rapat pengurus kebersihan ketika akan mengadakan ro’an besar-besaran.

“Ayo ning” ajak Mbak Linda kepadaku. Mbak Linda ikut rapat, dia bagian konsumsi pada acara khataman. Mbak Linda sudah berdiri rapi di depan pintu menungguku. Aku bangkit dari kursi depan meja belajarku dan kemudian berjalan mendekat ke Mbak Linda.

“Udah pada kumpul jam segini mbak?” Tanyaku kepada Mbak Linda sembari membuka buku catatan.

“Sudah ning, pasti sudah ngumpul” paparnya meyakinkan. Akupun menyiapakan catatan untuk kubawa rapat, aku juga membaca beberapa catatan ibu dari kepanitiaan tahun lalu yang menajdi perhatian ibu. Ada dua lembar catatan yang disiapkan ibu, aku baru menerima satu lembar, lembar kedua masih di tangan ibu yang ibu sendiri masih belum menemukan dimana.

Sebelum meninggalkan rumah, aku hendak bertanya kepada ibu apakah catatan itu sudah ditemukan atau belum, akupun menuju kursi ruang tamu dimana Abah dan Ibu sedang berbincang-bincang kecil. Sebelum sampai di ruang tamu, suara abah dan Ibu sudah terdengar sangat jelas hingga menghentikan langkahku beberapa meter dari ruang tamu. Terdengar Abah sedang menyampaikan sesuatu, kalimat yang membuatku mematung adalah kalimat Abah.

“Bu, Abah ada calon untuk Lana, Abah mau minta saran ibu” Jleb, kalimat itu terdengar dengan jelas di telingaku membuatku ragu untuk meneruskan langkah menemui ibu, kuhentikan langkahku untuk menunggu sambungan dari kalimat abah itu ataupun respon dari ibu. Ibu ternyata memberikan respon yang juga membuatku semakin yakin untuk tidak menemui ibu terlebih dulu.

“Ibu juga punya calon, Bah” jawab ibu memberikan respon kepada Abah. Entah bagaimana ekspresi keduanya yang jelas akulah yang paling kaget mendengar keduanya mempunyai ternyata mempunya calon untukku. Belum sempat kudengar siapa calon untukku dari Abah dan juga dari Ibu, terdengar suara salam dari luar yang ternyata ada tamu datang. Aku semakin penasaran dengan siapa yang sebenernya menjadi calon Abah untukku dan calon dari ibu untukku.

Mbak Linda menepukku dari belakang dan mengajakku segera berangkat menuju aula karena sudah ditunggu oleh pengurus yang lain. Akupun bergegas bersama Mbak Linda menuju aula pesantren untuk rapat khataman. Sesampainya di aula pesantren, ternyata benar saja semua pengurus sudah berkumpul. Ada sekitar 11 pengurus putra dan 9 pengurus putri sudah berkumpul duduk rapi.

“Monggo, Ning” beberapa suara terdengar mempersilahkanku untuk duduk. Aku hanya mengangguk sembari melempar senyum kepada semua pengurus. Beberapa wajah belum ku kenali dengan dekat, apalagi para pengurus putra yang masih sangat asing di mataku. hanya Anam yang pernah kukenal secara langsung, itupun masih sangat baru. Di salah satu sudut terlihat Hisyam yang duduk dengan sedikit menundukkan kepalanya.

Seseorang di samping Anam melanjutkan membacakan beberapa hal tentang acara khataman dengan lantang kepada semua peserta rapat. Pengurus lain mendengarkan dengan seksama kata demi kata yang diucapkan oleh seorang pengurus yang berada di sebelah Anam itu. Kuperhatikan detail-detail persiapan yang dibacakan, cukup rinci yang dibacakan sampai pada bagian waktu-waktu pelaksaksanaan.

“Teman-teman ada masukan atau komentar?” tanya Anam setelah pengurus disebelahnya selesai membacakan beberapa tulisan. Beberapa pengurus saling melihat satu sama lain untuk mencari salah satu dari mereka yang ingin bertanya. Kemudian, salah satu pengurus putri mengangkat tangannya.

“Saya dari bagian penerima tamu, kang. Untuk tamu VIP perempuan transit dimana ya?” tanyannya kepada Anam. Memang ketika khataman, Annihayah akan sangat ramai oleh tamu-tamu dari berbagai daerah entah mereka yang anaknya melaksanakan khataman atau sekedar ingin datang menyaksikan. Rumah Abah sering sekali menumpuk beberapa antrian untuk sekedar sowan dan bersalaman.

“Untuk pembagiannya, VIP Putra tetap di ruang tamu rumah Abah, Putri akan di Aula ini dan tamu lainnya langsung ke panggung khataman” jawab Anam dengan jelas. Lagi-lagi aku melihat Anam sebagai sosok yang sangat berani tampil di depan, kharismanya dalam membawakan rapat kali ini menjadi sangat jelas dan terarah. Sembari mendengarkan paparan dari Anam, beberapa pengurus terlihat mencatat pada buku catatan masing-masing, tidak ketinggalan pengurus putri yang bertanya.

“Untuk mengantisipasi penuh dari masing-masing tempat akan disediakan kursi tunggu” tambahkan Anam melanjutkan. Rapat hari ini baru laporan dari panitia harian yaitu ketua sekretaris dan bendahara, belum sampai ke seksi-seksi pada setiap bagian. Bisa dibilang bahwa ini murni persiapan sudah dilakukan oleh Anam sebagai ketua dan dua temannya bagian sekretaris dan bendahara. Dari kerja mereka betiga sudah sangat terlihat jelas bagaimana konsep dan jalannya acara yang akan dilakukan satu bulan lagi di Annihayah.

Beberapa saat kemudian suasana hening tidak ada yang bersuara, sebagian masih menuliskan sesuatu di buku catatan masing-masing. Kulihat di pojokan, Hisyam terlihat melihat kanan kiri untuk memastikan sesuatu. Dilihatnya satu persatu kanan kirinya dan kemudian mengangkat tangan ke arah Anam. Anam yang melihat Hisyam mengangkat tangan merespon dengan mempersilahkan berbicara. Semua pengurus memandang Hisyam di pojokan yang bersiap menyampaikan sesuatu.

“Tahun lalu ada beberapa nadzam dan syair yang dibacakan yang ternyata banyak salahnya, mohon bisa dikoreksi terlebih dahulu, bila perlu minta disowankan ke Abah” papar Hisyam kepada semuanya, seorang pengurus disamping Anam langsung menulis dengan sigap point-point yang disampaikan oleh Hisyam. Kulihat selembar kertas yang ditulis oleh Ibu ternyata ada point yang memang persis seperti yang disampaikan oleh Hisyam.

“Kemudian untuk pengaturan di acara, tahun kemaren masih ada jamaah pria yang duduk di tempat perempuan, begitu juga sebaliknya” Hisyam kembali melanjutkan masukannya kepada semua panitia. Pada saat acara, Hisyam memang bukan panitia, dia biasanya menemani Abah menerima tamu-tamu yang dekat dengan Abah.

“Terima kasih, Kang Hisyam masukannya, akan kami tindak lanjuti” jawab Anam kepada Hisyam. Antara Hisyam dan Anam memang memiliki fokus yang berbeda melihat acara ini, Anam sangat detail dan fokus dalam masalah khataman yang di panggung atau penampilan. Sedangkan Hisyam lebih fokus pada konten-konten-konten seperti bacaan, prinsip, serta kesesuaian. Latar belakang mereka yang sangat berbedalah yang memang membentuk mereka berbeda.

“Jika tidak ada lagi, monggo ning lana memberikan masukan” Anam memberiku waktu untuk berbicara. Aku hanya akan berbicara sedikit sesuai dengan kertas catatan ibu tentang acara tahun lalu. Kuperbaiki duduk dan bersiap untuk menyampaikan kepada semua pengurus.

“Terima kasih waktunya, saya hanya menyampaikan pesan ibu. Pertama, sama halnya denga yang disampaikan oleh Kang Hisyam, bahwa beberapa bacaan syair harus diperbaiki” kuarahkan tanganku ke arah Hisyam untuk menguatkan apa yang aku sampaikan. Hisyam tersenyum kemudian menunduk.

“Selanjutnya seragam santri yang tidak ikut khataman kalau dibuat seragam putih agar lebih enak dilihat” ini kusampaikan dengan caraku sendiri kepada semua pengurus pesantren. Aku berhenti sejenak untuk membaca catatan ibu yang ada di tanganku. Kulihat poin terakhir kubaca dalam hati untuk kusampaikan.

“Yang terakhir, sebaiknya ada tambahan untuk menemani Abah dan Ibu menerima tamu, selama ini Abah hanya dibantu Kang Hisyam, Ibu dibantu oleh Mbak Linda dan Puput” aku sebelumnya belum membaca tulisan itu, ternyata kembali menyebutkan nama Hisyam. Kulihat Hisyam di pojok semakin menunduk, teman-teman disebelahnya menyikut pelan untuk memberikan tanda bahwa dirinya disebut. Ku akhiri masukanku kepada mereka, tiba-tiba Anam memotong dan bertanya.

“Maaf Ning, untuk acara apakah ada masukan? Sepertinya Ibu punya masukan?” sergahnya kepadaku. Aku membaca kembali tulisan ibu, namun tidak kutemukan catatan lain. Aku hanya menggeleng kepada Anam tanda bahwa tak ada masukan lain selain itu.

Aku melipat kembali kertas yang ada di tanganku kemudian kumasukan dalam buku catatan yang ada di pangkuanku. kemudian Anam melanjutkan pembicaraannya dengan beberapa topik, sejurus kemudian, aku ingat sesuatu, aku ingat bahwa ibu masih punya satu lembar lagi. Aku lupa menyampaikan hal itu kepada Anam, Sepertinya wajah Anam agak berbeda mengingat semua masukanku tidak ada yang berhubungan dengan acara. Mungkinkah Ibu sudah menjanjikan sesuatu bahasan kepada Anam, entahlah aku merasa tidak enak sendiri kepada Anam.

Rapat selesai dan kami bergegas masing-masing meninggalkan aula, aku kembali dengan Mbak Linda ke rumah. Ketika berjalan pulang, aku mulai memikirkan sesuatu yang kukaitkan sendiri entah bagaimana seharusnya, aku mempunyai pikiran bahwa Anam sangat dekat dengan Ibuku sedangkan Hisyam sangat dekat dengan Abah. Aku berpikir apakah mereka berdua merupakan pilihan masing-masing dari perbincangan yang kudengar di ruang tamu sebelum rapat tadi. Entah kenapa pemikiran itu tiba-tiba saja muncul mengganggu

Mendadak jalan pulang menuju kamarku menjadi lebih panjang saja, aku seolah ingin menengok balik melihat dua orang yang tiba-tiba saja hadir ini. Ah, tapi jangan, aku tak mau terbelenggu oleh pikiranku sendiri. Biarkan baying-bayang keduanya membias dan menjadikan nyata dengan snedirinya, biar waktu yang menentukan.

Irhas B Author

Penulis kadang-kadang di alasantri.id. Sering berpikir sebelum menulis, tapi lebih sering memikirkan apa yang ditulisnya. Ucapannya tidak lebih baik dari tulisannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *