Ning Lana #7

0
0

Pagi ini setelah bermunajat, kutenangkan pikiran untuk bisa tetap bersikap biasa. Aku tak bisa serta merta menentukan jawaban dari apa yang kubimbangkan atau dari hasil istikhorohku barusan. Aku hanya bersikap biasa dan menerka-nerka lewat apa Allah akan memberiku tanda atas kebimbangan yang ada. Pagi ini setelah berdoa, kulipat kembali sajadah dan rukuh dan meletakkannya kembali ke lemari kayu di sudut kamarku. Meski semua pilihan sudah kuserahkan kepada Sang Penentu takdir, aku tetap akan berihtiar dalam menimbang berbagai pilihan yang ada. Kulihat kamarku lengang sekali, Mbak Linda dan Mbak Puput tidak terlihat. Pagi ini begitu sepi dan berbeda dari biasanya.

Pagi yang mendadak sepi, burung-burung yang biasa berkicau di dahan pohon mendadak pergi.  Suara desiran angin yang biasa mendesah mengusap dedaunan dan batang-batang padi mendadak hilang entah kemana, suasana rumahpun demikian entah mengapa sekarang terasa sunyi. Aku menemukan diriku sendiri di rumah ini, Abah sepertinya kembali ke masjid komplek putra, sedangkan ibu entah kemana, setelah sebelumnya bergegas ke dapur, tapi kulihat dapur sudah tidak ada orang sama sekali. Mungkin ibu sedang pergi ke pasar untuk menyiapkan belanja kebutuhan selama satu bulan ke depan.

Setelah beberapa jam yang hanya termenung, kuputuskan mencari suasana baru di luar rumah. Aku pergi  bergegas keluar rumah ke arah belakang asrama putri mengarah ke kebun kebun di belakang pesantren. sepertinya akan banyak santriputri di sana yang bisa ditemui untuk sekedar mengobrol dan berbagi cerita ringan.  Aku baru saja melewati beberapa komplek, terlihat beberapa santri putri yang berpapasan. Tidak seperti hari biasanya, jumlah santri putri yang kulihat sangat sedikit. Aku tetap berjalan menyusuri jalan di di pesantren, kulihat juga di samping asrama putri ada beberapa santriwati yang sedang menyapu dan juga bercengkrama satu sama lainnya.

Diantara beberapa santri putri yang sedang bercengkrama ternyata ada Mbak Puput yang juga sedang asyik berbincang dengan santri. Kulihat Mbak Puput, dia merespon dan mendekatiku. Kulempar senyum padanya sembari dirinya berjalan mendekat.

“Ning, mau kemana?” Tanya Mbak Puput yang semakin mendekat.

“Cuma keliling aja, di rumah sepi sih” jawabku.

“Linda diajak Ibu belanja ke pasar, Ning” ternyata benar saja Ibu pergi ke pasar dan bersama Linda. Aku hanya mengangguk-angguk.

“Sini aja, Ning” Saut salah satu santri putri yang sedang duduk-duduk bersama di selasar asrama.

“Iya, aku mau ke kebun, udah lama nggak kesana” santri-santri putri kemudian menganggukan kepalanya. Mbak Puputpun minta kembali ke selasar asrama berkumpul dengan para santri putri kembali. Aku hanya mengangguk dan kemudian melangkah perlahan meniggalkan mereka.

Udara pagi ini tidak sehangat biasanya, dingin yang biasa hadir nampak tidak terasa pagi ini. Aku arahkan lagi langkahku melewati asrama putri itu hingga terlihatlah jalan setapat yang di kanan kirinya adalah perkebunan. Kumasuk di kawasan perkebunan meniti jalanan setapak, padi di sisi kiri dan sebelah kanan tanaman jagung. Ku melangkah terus terlihat beberapa santri putri juga yang sedang memperbanyak hafalan di kursi-kursi kayu yang sengaja di buat di kebun-kebun. Mereka mencari tempat terbaik dan terfavorit bagi mereka untuk bisa memperlancar hafalan mereka. Ada pula yang sengaja menyendiri untuk menenangkan diri di damainya perkebunan. Pada tengah perkebunan ada pohon yang cukup besar yang biasanya para santri putri bercengkrama, dan itulah tujuanku pagi ini. Aku langkahkan kakiku menuju pohon tersebut, setelah beberapa langkah yang hati-hati agar tidak terjatuh, akhirnya aku sampai di bawah pohon besar di tengah perkebunan. Tidak seperti biasanya, suasana di bawah pohon itu sepi tidak ada satupun santri putri di sini, entah kenapa biasanya sudah banyak beberapa santri yang sedang duduk-duduk di tempat ini.

Aku duduk di kursi kayu yang dibuat oleh para santri yang penuh dengan coretan. Dari kejauhan, kulihat ada seorang petani yang sedang memanen jagung. petani tersebut terlihat sedang memilih dan memilah beberapa jagung yang sudah siap panen. Dengan tangan kosong, dan pertimbangan yang matang jagung-jagung pilihan sudah berhasil dipanen. Dimasukannya beberapa hasil panen pada kantong yang sudah disiapkan. Kantong panen yang sudah hampir penuh dan sudah keberatan rupanya membuat petani tersebut kesusahan. Petani itu mengatur ulang posisi kantong yang sudah memiliki tali tersebut dan membawanya menuju pohon di tengah kebun yang sudah aku tempati saat ini. Ternyata petani itu seorang ibu-ibu dengan topi capingnya membawa jagung yang berada di dalam kantong panennya.  Ibu itu berjalan dengan kuat semakin mendekat ke arahku.

“Eh, Ning Lana, kok sendirian disini?” ternyata petani itu mengenalku, pasti merupakan warga di sekitar pesantren.

“Iya, Bu” Jawabku simpel.

Kemudian ibu-ibu separuh baya itu terlihat memilah beberapa jagung yang sudah dipanennya kemudian dibagilah menjadi beberapa kantung jagung. Sepertinya ibu ini sedang memilah jagung yang bagus dan yang kurang bagus untuk membedakan kemana akan dipasarkan jagung tersebut.

“Kok dipilih-pilih, Bu?”tanyaku penasaran.

“Iya Ning, yang bagus saya jual untuk jagung rebus dan jagung bakar, yang tidak terlalu baik akan saya jual untuk pakan burung.” Ibu itu menjelaskan dengan detail kenapa jagung-jagung itu harus dipisahkan. Setelah semua jagung habis dipilih, ibu itu mengikat masing-masing kantong yang sudah terisi. Ibu itu kemudian duduk di kursi kayu di sampingku.

“Ning Lana sudah punya calon belum Ning?” pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari mulut ibu disampingku. Entah bayangan apa yang dilihat ibu ini hingga tiba-tiba menanyakan hal demikian. Aku menjadi salah tingkah dan tidak bisa menjawab apa-apa. Ibu-ibu yang menyadari ada perubahan di wajahku langsung merespon kembali atas pertanyaannya.

“Tidak apa-apa, Ning, Cuma nanya” mendengar ibu disampingku merasa bersalah karena bertanya, akupun merasa ikut bersalah dengan sikapku.

“Belum, Bu, saya masih belum punya calon” jawabku dengan datar.

“Biasanya perempuan suka banyak pertimbangan, Ning. Sebaiknya Ning Lana segera saja menikah, biar ada yang bantu Pak Kyai di pesantren” ibu itu melanjutkan berbicara dengan menasehatiku. Aku hanya mengangguk-angguk tanda mengerti kepada ibu disampingku itu.

“Kalo yang melamar pasti sudah banyak toh, Ning?” tanyanya kembali dengan pertanyaan yang menukik tajam. Tujuanku ke tengah kebun untuk menenangkan diri dari hal-hal jodoh malah tambah membuatku mendapat banyak pertanyaan dan pernyataan yang sulit untuk dijawab.

“Sebenarnya Ning, memilih itu tidak perlu kriteria, biarkan hati kita berkata iya atau tidak pada pilihan kita. Jangan terpaku dengan kriteria A atau B, nanti jatuhnya akan berbelit-belit dan tidak sesuai harapan.” Ibu itu melanjutkan menjelaskan, sebelum aku memberi jawaban atas pertanyaannya. Belum ku beri balasan atas pernyataannya, ibu itu minta undur diri untuk melanjutkan mengangkut hasil panennya ke rumah.

Dengan membawa dua kantong jagung, ibu itu meninggalkanku di bawah pohon di tengah kebun. Aku kembali sendirian di tempat tenang ini. mentari yang masih rendah membuat hangat suasana pedesaan, suara jangkrik dan ngengat sesekali masih terdengar berdenging di telingaku. Tanpa kusadari, perkataan ibu petani tadi kupikirkan. Benar juga ungkapannya tentang membuat pilihan, bukannya aku sendiri sedang kebingungan dalam membuat pilihan. Aku coba ingat kata-kata ibu itu barusan tentang membuat pilihan, biarkan hati yang berkata iya atau tidak.

Aku masih belum menerima dengan baik perkataan ibu tersebut, namun aku juga merasa mendapat sedikit pencerahan dari apa yang disampaikan ibu itu. Kemudian aku kembali tersadar dan tersentak, bertanya dalam hati, apakah ibu itu merupakan tahapan jawaban atas istikhorohku pagi tadi? Allah memang selalu punya teka-teki untuk sekedar menyadarkan kita bahwa Dia begitu dekat dengan kita. Allah selalu memberikan kita petunjuk, namun kita selalu ragu membuat pilihan antara menerima petunjuk atau mencurigainya sebagai hasrat. Lagi-lagi semua harus merakhir dengan membuat pilihan.

Matahari semakin meninggi, membuat jagung-jagung terlihat berkilauan dengan pancaran sinar mentari pada sisi-sisinya, sedangkan padi-padi yang sudah menguning bertambah cerah saja dipandangnya. Dibawah pohon ini seolah sinar mentari adalah lampu hias yang menerobos beberapa celah dahan dan ranting, begitu tenang dan syahdu menenangkan.

baca juga part sebelumnya 

0
0

Irhas B Author

Penulis kadang-kadang di alasantri.id. Sering berpikir sebelum menulis, tapi lebih sering memikirkan apa yang ditulisnya. Ucapannya tidak lebih baik dari tulisannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *