KALA RINDU SUDAH MENDERA

0
0

Menjadi perantau adalah sebuah misi mulia, dimana hasil akhir akan menjadi sebuah buah tangan untuk orang rumah yang sangat berharga. Dari tujuan yang mulia dan tidak sembarang orang mau menjalaninya, merantau memiliki proses yang sangat berat untuk dilewati. Para perantau harus lebih dulu menelan pahitnya tanah rantau yang hambar dan penuh dengan kehidupan keras. Kampung halaman adalah sebuah bayang-bayang yang selalu dirindukan. Menjadi santri adalah menjadi seorang perantau, meski menjadi perantau tidak berarti menjadi seorang santri, maka menjadi santri itu seolah menjalani dua proses panjang pembelajaran hidup yang luar biasa.

Jauh dari orang tua dan keluarga adalah satu hal besar yang tidak mudah dijalani. Kehidupan rumah dengan seorang ayah sebagai nahkoda dan ibu sebagai juru dapur merangkap penasehat yang selalu dibutuhkan pada setiap lini. Setelah sampai diperantauan atau di pesantren, kita sudah punya biduk sendiri untuk mengarungi kerasnya lautan. Sang ayah yang sebelumnya memekang kendali nahkoda akan kembali pada lautan dimana mereka ia biasa berlayar. Kita sudah sepenuhnya harus mencari jalur arah pelayaran kita. Perubahan yang drastic otomatis akan sangat sulit. Perasaan yang selalu was-was ditambah kekhawatiran akan ketidakmampuan menghadapi sesuatu pasti muncul. Ditengah ketidakpastian arah hidup dan perasaan, muncul wajah-wajah ayah dan ibu yang mengawang-ngawang yang membuat kerinduan hadir bagai angina malam yang begitu saja menyergap. Rindu itu datang dengan kejam dan berterusan, air mata jatuh dengan sendirinya seolah tak kenal malu dengan usia yang sudah tidak bisa dibilang anak-anak lagi.

Menjalani hari-hari terasa berat dan tak bersemangat. Kehidupan yang berwarna tiba-tiba menjadi begitu hambar dan tak berasa sama sekali. Energy-energi kuat yang dahulu tak pernah habis meski telah habis menaiki beberapa batang pohon kelapa di kebun biasa bermain, kini seolah telah hilang entah tertinggal dimana. Memang kejam rindu yang ada. Kala rindu mendera, jangan sesali maupun mengusirnya, karena hanya kuckuran air mata yang akan datang dengan sendirinya. Sebagai seorang perantau, bersahabatlah dengan rindu, peluk ia dan bisikkan kata-kata gelisahmu hingga menjadi sebuah kompilasi.

Dan jikalau rindu itu kembali datang, rindulah sedalam-dalamnya, namun jangan mau diajaknya tenggelam pada sebuah langkah yang salah. Perantau harus tetap kuat menyiapkan bingkisan hasil akhir yang akan dibawanya pulang sebagai obat atas luka-luka perantauan yang perih, sebagai gurat senyum bagi keluarga di rumah, juga sebagai kilatan cahaya menuju masa depan yang lebih berada.

baca juga: Cerbung Ning Lana

Facebook Comments
0
0

admin Author

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *