NING LANA #1

0
0

Matahari mulai menjauh seolah jatuh meredupkan sinarnya, pijar-pijar keemasan membias pada dinding-dinding langit yang luas. Suasana menenang dengan hawa dingin yang menyeruak menampar kulit wajah dengan keras. Tetes-tetes air wudhu akan berubah seolah menjadi jarum-jarum dingin yang menusuk pada bagian-bagian rukun dan Sunnahnya. Beginilah suasana pesantren di perbukitan, jika malam tiba menyentuh air adalah sebuah hal yang sangat berat untuk dijalani, apalagi untuk santri yang masih baru.

Sejak lahir tinggal di pesantren perbukitan ini, aku tidak pernah menghiraukan dingin yang mengganggu. Badanku semacam sudah mempunyai anti-body atas dingin yang ada di pesantren ini, begitu juga Abah dan Ibuku yang lebih dulu tinggal di sini dariku. Abah saat subuh tiba akan bergegas menuju masjid komplek putra yang harus ditempuh dengan jalan yang menaik tanpa jaket sama sekali, hanya baju kokoh putih dan sajadah di pundaknya, terkadang koko yang dipakainya berlengan pendek. Dingin seolah sudah menjadi bagian dari keluarga kami, keluarga pesantren Annihayah.

Jikalau maghrib tiba, Abah akan menjadi imam di masjid putra dan mengajar mengaji hingga waktu isya datang. Selepas sholat isya, Abah masih tetap di komplek putra untuk lanjut mengajar kelas yang berbeda hingga pukul 10 malam, begitu juga Ibu yang akan standby di ruang tamu rumah dengan santri-santri putri yang bergantian menyetorkan hafalan Qur’annya.

Sebagai seorang anak Abah, aku mendapatkan kewajiban untuk mengajar mengaji Qur’an bagi santri-santri baru yang bacaannya masih belum lancar. Aku yang baru saja menyelesaikan perkuliahan merasa belum pantas mengajar kitab macam-macam, apalagi aku bukan sarjana di jurusa agama. Aku mengajar mengaji mereka di aula asrama putri dari selepas maghrib hingga isya datang. Mengajar anak-anak perlu kesabaran tingkat tinggi, perbedaan latar belakang santri-santri membuat karakter dan sifat mereka berbeda-beda. Mereka tidak hanya perlu diajari, tapi juga perlu dibimbing untuk bisa mengaji dengan benar dan fasih.

Selepas itu aku hanya akan tinggal di rumah, sesekali para pengurus pondok datang untuk meminta saran dan masukan terkait peraturan ataupun ada masalah santri yang sulit mereka tangani. Aku yang seorang sarjana psikologi mereka anggap seorang psikolog yang sudah siap menerima curhatan permasahan, padahal aku baru saja lulus dan belum ada pengalaman sama sekali. Aku hanya akan memberi masukan-masukan sebagaimana mestinya, ditambah beberapa pengetahuan yang aku tau.

Hanya aku yang masih tinggal dengan kedua orang tuaku. Kedua kakakku sudah berkeluarga dan tinggal dengan keluarga barunya. Kakakku yang pertama bernama Hasan yang menikah dengan anak Kyai dari Kebumen. Awalnya Mas Hasan (panggilan akrabku) tinggal disini, namun karena mertuanya meninggal, maka kakakku diminta tinggal disana untuk melanjutkan perjuangan pesantrennya. Kakakku yang kedua namanya Laila sudah dipinang oleh Gus dari Cirebon yang kemudian memboyongnya pula.

Aku belum terlalu ingin memikirkan tentang pernikahan, toh Abah memang belum membicarakan denganku. Ibu hanya sesekali menyinggung mauku yang seperti apa? Aku hanya biasa tersenyum sembari membalas pendek kepada Ibuku “Ikut Abah dan Ibu”. Jawaban itu cukup ampuh untuk menjawab semua pertanyaan yang berkaitan dengan perjodohan.

Sudah menjadi tradisi memang perjodohan antar pesantren, seorang gus mendapatkan seorang ning yang sudah dialami oleh kedua kakakku. Sejauh ini memang proses yang ada tidak pernah bermasalah, kedua kakakku terlihat bahagia dengan pasangannya masing-masing. Akupun hanya akan berharap Abah memilihkan yang terbaik untukku.

Malam tak terelakan, sunyinya kadang menenangkan. Kedipan mata datang dengan bertubi-tubi pertanda kantuk mulai datang. Linda dan Puput sudah terlelap, kedua santri itu adalah santri ndalem atau ikut tinggal di rumah Abah. Keduanya sedari dulu sudah aku minta untuk tidur di kamarku, mesti keduanya tidak mau menggunakan ranjang yang sudah disediakan, mereka tetap menganggapku sebagai ning yang harus mereka hormati, padahal aku lebih nyaman jika aku menjadi seolah mereka. Santri tetaplah santri, meski aku sudah bersikeras untuk meminta mereka tidur di atas ranjang yang disediakan, mereka tetap tidur di atas karpet di samping ranjangku.

Linda dan Puput sudah ikut dengan Abah sejak mereka masih kecil, orang tua mereka dari Tasikmalaya dan bekerja di Jakarta. Secara usia keduanya lebih tua dariku, aku masih 24 tahun sedangkan Linda 26 tahun dan Puput 27 tahun. Mereka tak pernah sekalipun memikirkan akan pindah dari pondok ini untuk berkeluarga, apalagi memikirkan calon pasangan mereka. Semangat mengaji mereka sangatlah tinggi, meski harus mengerjakan tugas-tugas dapur bersama Ibu dan bersih-bersih rumah ini.

Rupanya mataku belum mengantuk, aku bangkit dari ranjangku dan berniat untuk keluar kamar terlebih dahulu. Kubuka pintu kamar dengan perlahan agar tidak mengganggu Linda dan Puput yang terlelap. Ku langkahkan kaki ke ruang tengah untuk memastikan apakah Ibu masih terjaga, sekiranya bias berbincang-bincang. Sampai di ruang tengah ternyata tidak ada seorangpun, akhirnya aku duduk-duduk di sofa ruang tengah sendirian.

Dari ruang tamu terdengar suara pintu depan terbuka, rupanya Abah baru pulang dari Komplek putra. Sudah pukul 11 malam Abah baru pulang, biasanya pukul 10 sudah di rumah.

“Belum tidur, Nduk?” tanya Abah sembari membawa kitab.

“Belum, Bah” Jawabku pendek.

“Kebetulan, Abah pengen ngomong” sambung Abah membuatku penasaran. Tumben-tumbennya Abah mengajak bicara. Abah menyimpan kitab yang dibawanya di atas meja dekat pintu, sedangkan sajadahnya masih di pundaknya. Abah mengambil tempat duduk di sebelahku.

“Begini, nduk. Kamu kan sudah lulus dan sudah umur 24, sebentar lagi sudah 25 tahun” Abah berhenti sejenak untuk menarik nafas. Dari penggalan kalimat-kalimat yang sudah keluar, sepertinya aku sudah bisa mengerti arah pembicaraannya. Aku mencoba menebak-nebak bahwa Abah pasti akan membicarakan masalah perjodohan. Apakah Abah sudah menemukan calon untukku? Gus dari pondok mana? Orangnya seperti apa? Keluarganya bagaimana? Pertanyaan itu menyelinap mendahului kalimat Abah yang belum sempurna.

“Sepertinya kamu sudah harus menikah, Nduk. Sudah siap?” pertanyaan yang sangat mendadak dan menukik tajam. Aku hanya bisa mengangguk pelan dan tersenyum malu.

“Tapi abah ada satu hal yang mengganjal, sampai Abah harus isik­horoh berhari-berhari hingga akhirnya Abah menemukan jawaban.” Jelaskan kembali. Abah semakin membuatku penasaran dengan calonnya, hingga Instikhoroh.

“Abah memerlukan kamu disini untuk melanjutkan pesantren, jadi Abah memutuskan untuk tidak menjodohkanmu dengan Gus dari pondok lain” seakan terjatuh mendengar kalimat terakhir Abah. Kalimat yang tidak pernah terpintas sedikitpun dalam benakku. Kalimat itu hingga membuatku reflek menjawab kepada Abah.

“Lalu, Bah?” sergahku.

“Jika Abah menikahkan dengan putra kyai, pasti kau akan diboyongnya, maka dari itu, Abah memutuskan untuk mencari mantu bukan, Gus.” Papar Abah dengan nada pelan penuh penghayatan. Aku hanya bisa mengangguk-angguk pelan dan membayangkan sebuah kebingungan dalam mencari pendamping.

“Mulai sekarang, Lana bisa memilih-milih, sembari Abah dan Ibu juga akan berusaha mencarikan” kalimat itu membuat mataku sepertinya tak akan mengantuk sampai pagi datang. Dingin pesantren seolah sirna menjadi suhu yang panas dan menyengat. Abah menepuk pundakku dan melempar senyum kepadaku. Kubalas dengan senyum lagi. Abah beranjak dari duduknya menuju kamar.

Malam, bisakah kau rebut kantuk pada orang-orang di sekitarku. Aku ingin ada orang lain untuk bisa berunding lebih dalam, tidak sendirian tanpa kantuk. Malam, tidakkah kau lihat gelapmu membuat banyak orang lebih memilih tidur bercakap, seperti aku yang malah ingin banyak bercakap. Malam, kau pasti dengar apa yang Abah sampaikan, bisakah kau sampaikan kepada Abah bahwa aku keberatan. Malam, kau hanya sepi yang merebut semua angan.

bersambung

Facebook Comments
0
0

admin Author

Comments

    zen

    (March 14, 2018 - 9:15 pm)

    Ngeri lah kok udah bersambung aja 😂

    Ning rafika

    (March 14, 2018 - 9:32 pm)

    Tetiba aja kok bacanya sambil mrebes Mili, ikut deg²an .. trllu kebawa suasana nih kayaknya 😓

    mbanggulasindik

    (March 14, 2018 - 9:58 pm)

    Ku tunggu sambungannya min. Bikin baper tango lapis keju aja nih. 😉

    irwan hardiansyah

    (March 14, 2018 - 10:15 pm)

    siip…ketegangan dimulai…

    Nuril sidna

    (March 14, 2018 - 10:25 pm)

    Ditunggu sambung nya nggeh min😉

    Ahmadsk

    (March 15, 2018 - 8:04 pm)

    Dibikin novel bagus tuh

    Muhammad Fahrul A

    (March 17, 2018 - 9:19 pm)

    Habis min? Baru naik ini🤣garai kepo ahh

    […] baca juga cerbung: Ning Lana […]

    Vonda

    (March 21, 2018 - 12:17 pm)

    Ejaan dan penulisannya masih harus diperbaiki lagi yaahh….

    […] NING LANA #1 […]

    […] baca juga: Cerbung Ning Lana […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *