Ning Lana #6

0
0

Setelah malam memanjang, awal pagi adalah sahabat selanjunya. Tidak banyak orang merenung pada butir detik saat itu, hanya dengkuran panjang yang kadang dihiasi mimpi dan lamunan. Beruntunglah mereka yang terjaga, terjaga karena terbiasa menyambung malam dengan sepertiganya, bukan mereka yang terjaga untuk perbincangan panjang menjemput terang. Beruntunglah mereka yang nafasnya penuh dengan kalimat pengagungan tuhan, buka tawa yang dibuat mengagumkan atau nafas tersengal karena mimpi buruk yang mendadak datang.

Aku masih termenung sehabis sholat malamku, bukan suatu yang aneh aku dapat dengan mudah bangun malam. Aku sudah dididik oleh Abah dan Ibuku untuk selalu mengerjakan sholat malam sejak kecil, seperti menjadi sebuah keharusan dalam setiap hari aku akan seperti setengah sadar bangkit dan berjalan menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu. Dua rakaat pertama kulakukan disusul dengan dua rakaat berikutnya. Jika kudapati ruang sholat yang kecil di rumah tidak ada orang, maka aku biasa sholat disana, namun sering sekali Abah atau Ibu yang sudah lebih dulu memakai ruang itu, maka aku bisa dipastikan menuju kamarku dan menunaikan beberapa rakaat di kamarku.

Setelah selesai dengan rakaat-rakaatku, kutengadahkan kedua tanganku dan berharap banyak kepada yang maha menjawab semua permintaan. Seperti biasa, doa-doa yang kupanjatkan berbondong keluar dari mulutku dengan rapi. Tiba-tiba saja terlintas untuk menambahkan satu bait doa untuk satu hal yang belum sempat kupanjatkan sebelumnya. Sebuah doa tentang pasangan hidup yang memang akhir-akhir ini banyak mengisi pikiranku. Ditambah lagi dengan adanya pilihan dari Abah dan Ibu yang membuatku bertambah bingung tentang siapa yang nantinya akan mendampingiku. Kupanjatku dengan khusuk sebuah doa kepada yang maha mendengar bahwa aku meminta seorang jodoh yang memberikan kebahagian kepadaku dan keluargaku.

***

Pagi hari yang dingin dengan bias cahaya matahari yang tipis menerobos pekatnya kabut-kabut dingin yang muncul di daerah perbukitan pesantren Annihayah. Rasa dingin adalah tantangan tersendiri bagi para santri untuk beraktifitas pagi. Jika seorang santri mendapat bagian menyapu halaman pagi hari, dingin yang akan dirasakan sangat menusuk hingga ke tulang. Beruntunglah mereka yang mendapat piket sore hari, udara tidak begitu menggoda dibanding senja yang menambah semangat dalam bergerak.

Pagi ini aku sedang menonton berita dari TV di ruang tengah bersama Ibu. Sebuah tayangan tentang kemacetan yang ada di ibukota menjadi berita pertama pagi ini. Kulihat ibu tampak serius menyimak penjelasan dari seorang reporter. Akupun tak mau tertinggal informasi dan ikut melihat dengan seksama berita yang ada.

Kala kita berdua sudah sama-sama fokus pada acara berita yang ada di TV, Ibu tiba-tiba saja mengangkat suara menyampaikan hal yang tidak terduga. Hal yang tentu saja membuatku sangat kaget mendengarnya, sebuah hal yang tentu saja membuat berita yang sebelumnya ku lihat di TV menjadi hilang tak tersisa sama sekali.

“Nduku, kalo boleh memilih, Ibu kok lebih sreg kalo kamu dengan Anam.” Ungkapnya dengan menohok.

“Dia yang menurut ibu sesuai untukmu” lanjut ibu berturut-turut membuatku tak bisa bersikap. Akupun sejenak diam menyusun kalimat balik yang elegan agar tidak terlihat sedang tertekan dihadapan ibu.

“Memang cocok dari segi mananya, Bu?” tanyaku balik kepada Ibu, itu kalimat yang bisa kuucapkan untuk meredam sedikit malu.

“Dia selalu sukses dalam mengemban tugas-tugas dari Ibu dan juga tugas dari Pesantren. Kepercayaan dirinya sudah sangat kuat dihadapan kyai-kyai yang pernah datang kesini.” Ibu menerangkan alasannya memilih Anam kepadaku. akupun diam-diam mengingat-ingat apa yang menjadi jawaban ibu untuk kucatat nantinya di bukuku.

“Masuk akal sih, Bu” jawabku pendek.

Ibu tersenyum lebar mendengar jawabanku, wajahnya tampak sumringah dan segar.

“Tapi Ibu nggak memaksa, Ibu hanya memberi masukan” ibu menjelaskan perlahan.

“Iya bu, biar menjadi pertimbangan untuk Lana, semoga Lana bisa memberi jawaban yang terbaik”

Ibu kembali tersenyum mendengar apa yang aku ucapkan. Kemudian Ibu bangkit dari duduknya dan pergi ke dapur untuk melihat nasi yang sedang diliwet-nya.

Aku agak malas dengan acara berita di TV yang kulihat setelah melalui perbincangan dengan ibu barusan. Kumatikan TV yang ada di ruang tengah dan bergegas menuju kamarku. Di kamar ada Mbak Linda yang sedang menyalin buku catatan ngajinya agar lebih rapi untuk dipelajari kembali. Kudekati Mbak Linda yang sedang serius dengan pena dan buku catatannya. Kududuk dihadapannya sembari memperlihatkan wajah datar kepadanya.

“Ada apa ning?” kalimat itu sudah kuprediksi akan keluar dari mulut Mbak Linda.

“Aku habis bicara sama ibu tadi” jawabku memancing Mbak Linda agar bertanya lebih jauh.

“Pasti masalah jodoh yaa!” potong Mbak Linda secara tiba-tiba membuatku badmood karena sudah bisa ia tebak.

“Iya mbak, tentang Mas Anam” jawabku datar.

“Mas Anam?” sergahnya dengan wajah serius menghadapku. Kini pena dan buku catatan ditinggalkannya di lantai, kedua tangannya sudah menggapai lenganku. Ekspresinya yang sangat tiba-tiba memang selalu terjadi jika mendengar nama Anam. Mbak Linda memang selalu suka jika mendengar gosip atau fakta tentang Anam.

“Iya mbak, mau denger?” tantangku kepadanya.

“Ya mau dong!” jawabnya dengan sangat cepat.

“Intinya Ibu lebih memilih Mas Anam untuk menjadi calonku”

Alhamdulillah” jawab Mbak Linda dengan seketika dan suara yang keras.

Ssttt, Mbak kok berisik sih” kupotong teriakkannya. Ekspresinya tampak sangat senang.

“Maaf, maaf, kebawa suasana”

“Mbak Linda nggak cemburu?”

“Ning, aku itu sama Mas Anam itu Cuma nge-fans, terutama sama shalawatnya, kalo sama orangnya mah nggak berani lah. Lebih pantas buat Ning.” Mbak Linda Menjeskan panjang lebar tentang Anam.

“Kalo Ibu sudah mendukung, berarti tinggal diterima saja toh Ning?” ungkapnya polos.

“Abah punya pilihan lain, Mbak Lin”

Mbak Linda tampak memanyunkan bibirnya dan mengangguk-angguk. Wajahnya terlihat sedang berpikir keras, namun sepertinya tidak sanggup. Mbak Linda hanya terdiam kemudian.

“Aku sudah tau Abah memilih siapa, tapi aku tidak tau alasan Abah apa?” aku meneruskan.

“Oalah, berarti harus ditanya juga alasan Abah atas pilihannya” tutupnya dengan tersenyum.

Aku termenung mendengar saran dari Mbak Linda. Jika dipikir-pikir benar juga apa yang disarankan Mbak Linda. bukankah aku hanya akan menuruti apa yang menjadi perintah dari Abah dan Ibu, lalu kenapa aku tidak mempertimbangkan alasan dari keduanya. Aku mulai membayangkan beberapa langkah agar aku bisa dengan mudah berbicara dengan Abah tentang alasan Abah memilih Hisyam.

“Malah bengong toh, Ning” Mbak Linda menyinggungku yang sedang memikirkan beberapa cara untuk bisa berbicara dengan Abah. Kugelengkan kepada tanda bahwa aku sedang tidak bengong seperti yang disangkakannya.

Aku bangkit dari duduk menuju kursi dan meja belajarku. Sebelum nanti terlupakan, aku membuka buku catatanku untuk mencatat apa yang menjadi jawaban ibu atas pilihannya kepada Anam. Aku sudah berjanji pada diriku untuk mencatatnya agar tidak lupa dan mudah dibandingkan dengan alasan dari Abah nantinya.

Setelah selesai menuliskan beberapa alasan ibu di buku cacatanku, kemudian aku beranjak menuju ruang depan atau ruang tamu yang biasa abah duduk-duduk. Kulihat dari ruang tengah yang tertutup sebuah tirai, Abah sudah pulang rupanya, dan sedang duduk membaca koran. Sepertinya Abah sedang dalam posisi tenang dan tidak sedang menerima tamu, tidak manunda-nunda kesempatan, aku buka tirai pembatas antara ruang tengah dan ruang tamu dimana Abah duduk dan membaca koran. Abah menengok ke arahku yang datang, kududuk disebelah Abah. Abah yang menyadari gerak gerikku langsung melontarkan pertanyaan.

“Ada apa, Nduk?” tanyanya pelan sembari masih membaca koran.

“Mau bicara sama Abah” jawabku agak gemetar.

Abah tersenyum mendengar jawabanku dan menghentikan membaca korannya.

Assalamualaikum” tiba-tiba saja dari pintu depan terdengar salam yang sepertinya suaranya sangat sering sekali mengucap salam kepada Abah. Benar saja, Hisyam berdiri di depan pintu hendak masuk bertemu Abah. Abah seketika menjawab salam.

Waalaikum salam, Masuk” jawabnya dengan lugas. Hisyam yang mendengar jawaban salam Abah langsung bergegas masuk, meskipun agak sedikit berhenti ketika mengetahui ada aku bersama Abah. Namun ia tetap masuk dan kemudian behenti menunduk di hadapan Abah. Abah menyodorkan beberapa kita yang sedari tadi di meja hadapannya.

“Ini kitab-kitab yang akan diajarkan pada kelas 1 santri baru, coba kamu lihat apakah ada yang sama dengan kelas lain” perintah Abah kepada Hisyam yang langsung dengan cekatan membuka masing-masing kitab. Sembari Hisyam membuka-buka kitab, Abah memandangku dan sepertinya hendak menyampaikan sesuatu.

“Gimana, Nduk?” momen yang benar-benar tidak tepat, tidak mungkin aku membicarakan Hisyam yang jelas-jelas sedang berada di depanku dan Abah, namun jika aku tidak bersuara akan menambah penasaran Abah.

“Abah selesaikan dulu saja itu” kucoba alihkan sembari melirik ke arah Hisyam yang sedang mengecek kitab-kitab. Tidak lama berselang, untung saja, Hisyam sudah selesai dengan pengecekannya dan langsung menyampaikan kepada Abah bahwa semua kitab yang ada tidak ada di kelas lain dan sangat pas untuk santri baru yang akan masuk.

“Ya sudah, itu disampaikan ke bagian koperasi untuk belanja kitab ya” abah menyampaikan dengan jelas. Hisyam kemudian undur diri dengan bersalaman dan mencium tangan Abah. Ia juga sempat melihatku kala hendak melewati pintu sebelum keluar.

Hisyam telah pergi entah kemana, sepertinya langsung menuju koperasi seperti yang diamanatkan Abah kepadanya. Kemudian kuhadapkan wajahku kepada Abah untuk memulai bertanya. Abah kembali memegang koran yang sebelumnya dibacanya.

“Bah, kenapa Abah memilih Hisyam?” langsung saja kutanyakan to the point. Entah kenapa aku juga berani berkata demikian, aku hanya takut kehilangan momen berdua dengan Abah, karena abah lebih banyak menghabiskan waktu di pesantren dengan santri-santri dan para pengurus. Abah tersenyum kemudian meletakkan koran yang dibacanya dan kemudian menghadapku yang sedang menahan senyum.

“Abah tidak memilih. Abah hanya merasa dia cocok. Untuk urusan memilih Abah masih percayakan pada Lana” paparnya dengan jelas. Kemudian senyum yang sedari tadi kutahan akhirnya tumpah juga. Aku tersenyum memandang wajah abah yang teduh.

“Cocok bagaimananya, Bah?” tanyaku lagi untuk memperjelas.

“Ya, barusan kamu lihat sendiri, dari sekian banyak pengurus, dia yang paling faham pondok ini. Abah saja selalu mengandalkannya dalam urusan pesantren.” Abah menjelaskan alasannya yang menurutku juga sangat masuk akal menjadi pertimbanganku dalam memilih.

“Lana pikirkanlah baik-baik, tidak harus ikut pilihan abah atau pilihan ibu, asal bisa meneruskan pesantren ini, Abah dan Ibu InsyaAllah merestui” Abah rupanya menenangkanku yang sempat terdiam membandingkan.  Mendengar penjelasan abah ada sedikit ketenangan yang menentramkan. Aku pamit meninggalkan Abah menuju kamar.

Di kamar ternyata sepi, Mbak Linda rupanya sudah pergi. Akhirnya kutulis juga alasan abah dalam buku catatanku bersanding dengan alasan ibu. Kini kedua alasan sudah berdampingan, tinggal hati menentukan pilihan, memang berat membuat pilihan. Kutermenung menghadap buku catatanku, pena masih ditangan kananku, pikiranku mulai kosong. Sepertinya aku butuh belajar memilih, gumamku dalam hati. Kutinggalkan buku catatanku dan hamparkan sajadah di samping meja belajarku.

Aku harus meminta petunjuk-Nya. Kubasuhkan dingin pada beberapa bagian tubuhku, kurasakan damai pada sukmaku. Kuraih rukuh sebagai teman menjelajahku, dengan bacaan-bacaan sakti aku melawan dimensi hingga kuhanyutkan diri dalam menemukan semua hitamku. menghadapNya memang selalu mengecilkanku, namun besar harapku mendapat petunjuknya. Sekali lagi aku tenggelam dalam mengadu pada arus ketenangan waktu.

baca episode sebelumnya: Ning Lana #5

Facebook Comments
0
0

admin Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *