Ning Lana #4

0
0

Bila kita bisa? Aku pasti mau mengintip masa depanku meski hanya beberapa saat kedepan dari diriku sekarang. Bisa sanggup, aku pasti sudah bersiap dengan paying untuk hujan yang akan datang. Bila mungkin, aku pasti sudah tahu langkahku jika aku tahu deret-deret setapak di depanku. Namun semua itu hanya bisa menjadi rahasia yang membuat kita tidak bisa berbuat lain selain hanya berprediksi.

Mbak Puput menahan tawanya ketika aku mengaku telah memperhatikan Abah dan Hisyam yang sedang berbicara di halaman rumah. Aku sempat mengelak bahwa aku hanya memperhatikan Abah yang sedang berbincang dengan seorang santri yang aku tidak faham siapa, namun Mbak Puput sangat ahli dalam mengorek sesuatu dariku. Aku sendiri seorang alumni jurusan psikologi, namun aku selalu kalah dalam urusan begini jika dibandingkan dengannya.

“Apa aku bilang, Ning. Kang Hisyam akan jadi plihan Abah” ucap Mbak Puput dengan PD-nya.

“Mbak ini, orang lagi ngobrol apa? Disimpulinnya apa” jawabku dengan datar kepada Mbak Puput.

“Tapi kalo menurut Ning sendiri gimana? Tanyanya kembali membuatku semakin terpojok dan sulit memberi jawaban.

“Gimana apanya?” kecohku mengelak.

“Ya menurut ning tentang Kang Hisyam?”

“Ya, nggak tau. Orang belum kenal baik kok” jawabku sekenanya dengan sedikit acuh, meski bagaimanapun tidak nyaman juga jika ditanya-tanya perihal demikian, meski kadang butuh orang untuk bisa mendengarkan tapi untuk hal ini aku masih belum ingin komentar.

Perbincanganpun akhirnya beranjak ke topik lain tentang kunjungan dari Kyai Wahab yang baru saja berlalu. Aku menceritakan tentang kunjungan Kyai Wahab dan Bu Nyai Ani yang berlangsung dramatis dengan sangat detail kepada kedua orang yang sudah kuanggap saudaraku itu. Perbincanganpun melebar ke berbagai topik lain.

Kami masih berbincang-bincang di kamar kami, Mbak Linda kemudian beranjak keluar kamar hendak mengambil jemuran di komplek belakang. Mbak Linda bangkit dan kemudian keluar kamar. Aku dan Mbak Puput masih di kamar berbincang-bincang ringan. Tiba-tiba, Mbak Linda masuk kembali ke kamar dengan ekspresi yang sangat aneh dan serta merta menarik tanganku dan tangan Mbak Puput

“Ada apa, Lin?” tanya Mbak Puput.

“Cepetan, ada yang perlu dilihat” jawbanya dengan tergesa-gesa dan menarik tanganku.

Tanpa pikir panjang aku dan Mbak Puput bangkit menuruti kemauan Mbak Linda untuk keluar kamar. Ternyata Mbak Linda mengajak kami ke dapur, langkahnya perlahan berhenti di lorong sebelum dapur. Mbak Linda memastikan sesuatu dan kemudian memintaku untuk melihat ke arah pintu dapur yang terbuka. Dengan perlahan kulihat ternyata Ibuku sedang berbincang dengan seseorang kang santri yang masih samar-samar kulihat wajahnya. Wajahnya yang samar, membuatku penasaran dan bertanya kepada Mbak Linda tentang siapa kang santri yang sedang berbincang dengan ibu.

“Siapa itu mbak? Nggak jelas” tanyaku dengan datar.

“Itukan kang Anam, vokalis ganteng” jawab Mbak Linda. Rupanya benar yang disampaikan oleh Linda, ternyata itu Anam sang vokalis yang punya charisma, jika sudah melantunkan sholawat. Pikiranku mulai menjelajah tentang apa yang sedang dibicarakan antara ibuku dan juga Anam itu. Setelah berpikir beberapa saat lalu kuingat bahwa bulan depan akan diadakan khataman Alquran di pesantren ini, mungkin Anam sedang menyampaikan progress persiapan dari panita khataman.

Tidak ingin terlihat memata-matai, aku dan Mbak Puput kembali ke kamar sedangkan Mbak Linda beranjak menuju jemuran di komplek belakang.

Aku duduk di atas ranjangku yang empuk, sedangkang Mbak Puput duduk di karpet menghadap lemarinya. Aku kembali berpikir tentang apa saja yang dibicarakan oleh Ibu dengan Anam di belakang rumah, apakah hanya terkait hataman Al-Quran agenda tahunan pondok atau agenda lain.

“Kok serius sekali ya Ning, Ibu ngobrolnya?” Tanya Mbak Puput dengan setengah berbisik.

“Iya ya mbak” Jawabku dengan heran pulan.

“Kira-kira ngobrolin apa ya Ning? Jangan-jangan mau dijodohin?” ucap Mbak Puput dengan begitu saja. Diikuti dengan tawa lepas khasnya. Aku melotot memandangnya dan mengernyitkan dahi.

“Apa-apa kok dibilang jodoh aja” Jawabku sedikit marah kepada Mbak Puput.

Rumahku seperti sedang dikepung oleh banyak huruf-huruf yang berkeliaran disela-sela rumah ini. Mulai dari halaman depan, lorong kecil disebelah kanan, halaman kecil disebelah kiri serta ruang kecil dibelakang antara dapur dan komplek putri. Huruf-huruf itu datang dengan berebutan hendak memaksa masuk ke dalam rumah dan semuanya seolah mencariku untuk sebuah keadilan, huruf-huruf itu membentuk sebuah kesatuan yang saling berseteru, hingga membentuk sebuah kata yang mual untuk kulihat terus menerus. Huruf-huruf itu berderet membentuk kata “JODOH”.

Kuputuskan keluar kamar untuk menenangkan pikiran yang sedang kacau. Sudah selesai dengan permasahan lamaran dari Kyai Wahab, muncul lagi sebuah bayang-bayang dari sosok-sosok yang seolah menjadi pilihan yang belum pasti adanya. Kepalaku seolah mendidih dan siap memuntahkan lavanya, kuarahkan gerak kakiku dengan santai ke belakang rumah. Ibu sudah tidak ada di dapur, kubuka pintu belakang rumah, angin langsung menerpa wajahku dengan dinginnya. Dari belakang rumahku langsung terlihat bangunan asrama putri yang tidak begitu jauh. Kulangkahkan kakiku ke arah kiri menuju sebuah pepohonan yang sejuk. Pepohonan yang ada sangatlah rindang dan tenang untuk menenangkan diri, ini tempat favoritku jika sedang banyak pikiran. Tempat ini juga dulunya menjadi tempat favoritku ketika menghafal Alquran.

Kududukan badanku di sebuah bangku panjang yang terbuat dari bambu yang disusun dan diikat dengan beberapa tali di beberapa bagiannya. Kusandarkan badanku untuk mendapatkan posisi paling rileks dan santai. Dari tempatku duduk jika ke timur lagi ada tempat mencuci para santri putri, beberapa santri ada yang berjalan membawa ember dan cucuiannya melewatiku. Sementara dibelakangku sudah termasuk turunan hampir menyerupai jurang namun tidak begitu dalam.

Aku tidak bisa berlama-lama di sini, aku bangkit dan melihat kanan kiriku, pepohonan hijau yang rimbun dan hembusan angin sudah sangat menenangkanku. Setalah menenangkan diri, sepertinya sebentar lagi sudah masuk waktu ashar, aku beranjak pulang. Dari jauh ternyata ada Mbak Linda yang membawa beberapa pakaiannya yang sudah kering dari jemuran. Linda yang datang dari belakang asrama putri juga ternyata melihatku, dia tidak langsung menuju pintu rumah, dia menghampiriku terlebih dulu yang baru saja bangkit dari duduk.

“Habis ngapain ning?” tanyanya kepadaku.

“Ngadem aja, Mbak” jawabku pelan.

“Mbak kok lama banget ambil jemuran?” tanyaku balik kepada Mbak Linda.

“Tadi diajak ngobrol dulu sama adek-adek ngajiku, Ning” ungkap Mbak Linda.

“Oh” Tutupku.

Kita berjalan pulang bersama, Mbak Linda membawa jemurannya yang baru dilipat sederhana untuk memudahkan membawanya dari jemuran. Setelah sudah dekat dengan pintu dapur dan hendak masuk melalui pintu dapur, tiba-tiba saja ada suara dari belakang memanggil.

“Ning” suara itu memanggilku dari belakang. Suara yang sangat asing kudengar dan sepertinya suara seorang laki-laki. Aku dan Mbak Linda reflek langsung menoleh kebelakang. Ternyata Anam sang vokalis yang memanggilku. Mbak Linda kaget sekali ketika mengetahui bahwa yang dilihatnya adalah Anam sang vokalis. Kagetnya Mbak Linda hampir membuat baju-baju yang dibawanya jatuh, untung saja refleknya tepat dan langsung memperbaiki posisi bawaannya.

“Iya” jawabku dengan datar kepada Anam.

“Saya diminta Bu Nyai Mengajak Ning Lana ikut rapat khataman besok malam di Aula pesantren” paparnya dengan jelas dan tanpa ragu sedikitpun dalam menjelaskan kepadaku.

“Aku ikut bagian apa, Kang?” tanyaku dengan tegas kepadanya.

“Hanya sebagai penasehat untuk teman-teman panitia, menggantikan Bu Nyai” kembali dia menjawab pertanyaanku dengan sangat yakin. Berbeda dengan santri lain yang selalu menunduk jika berhadapan denganku, Anam malah lebih PD dan memperlakukanku sebagai lawan bicaranya. Jam terbang vokalis yang sangat tinggi mungkin membuatnya sangat percaya diri dalam caranya berbicara. Meski Mbak Puput beberapa kali bilang bahwa Anam itu suka sekali tebar pesona, namun entah kenapa aku tidak melihat sama sekali sikap itu. Aku melihat Anam sebagai Kang santri yang professional dalam menjalankan tugasnya. Aku juga merasakan sebuah hal yang tak selalu kudapatkan, aku seolah berbincang dengan nyaman, tidak diposisikan lebih tinggi dari lawan bicaraku seperti halnya jika berbicara dengan Mbak Puput, Mbak Linda maupun santri lain di Annihayah.

Disampingku Mbak Linda hanya diam saja dengan wajahnya yang entah mengapa seolah menahan senyum atau tawa. Mbak Linda tidak ikut sama sekali dalam pembicaraan, hanya diam seolah menjadi pendengar yang setia.

“Baik Kang, InsyaAllah saya hadir” jawabku kepadanya. Entah kenapa saat kuberi jawaban ada senyum yang keluar dengan sangat kompak antara Anam dan Mbak Linda yang itu tidak berlangsung lama, hanya sepersekian detik. Senyum singkat itu seolah mereka tarik kembali dan menghilang begitu saja.

“Makasih, Ning, saya pamit dulu” Anam menutup pembicaraan dan meminta diri.

“Oh iya Kang, sama-sama” jawabku datar. Anam beranjak dengan sangat cepat berbelok di siku rumah menuju lorong di sebelah kiri rumah. Akupun berbalik dan masuk kedalam rumah, dibelakangku Mbak Linda terlihat mengikutiku dengan setengah berlari seolah ingin menyampaikan sesuatu.

“Ning, Ning” ucapnya dengan setengah berlari.

“Nggak usah aneh-aneh!” serobotku kepadanya sebelum berkata macam-macam tentang Anam kepadaku. Aku seolah sudah tau apa yang akan disampaikan Mbak Linda kepadaku, makanya aku langsung tutup dengan rapi langkahnya.

Mbak Linda hanya tersenyum dan merengut dengan tumpukan pakaian kering di tangannya. Kutinggalkan Mbak Linda dan masuk ke kamar. Saat itu juga adzan ashar berkumandang dengan sangat tanang seperti air yang dingin menyiram tanah yang panas terkena terik. Sore itu bisa jadi aku menjadi pribadi yang paling terbolak balik hatinya, sore itu bisa jadi aku menjadi orang dengan sejuta kebingungan, sore itu bisa jadi aku menjadi bukan diriku, sore itu aku merasa semua penat harus kuleburkan dengan basuhan air wudhu yang kutigakalikan. Sore itu selepas ashar, aku mencoba tenang dari gemuruh yang berulang kali menggempur habis perasaan.

Bersambung……

Baca Ning Lana part sebelumnya disini

Facebook Comments
0
0

admin Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *