NING LANA #3

Siapa tidak tenang jika tebing dan jurang sudah sehasta dari kakinya, siapa merasa tidak takut jika taring-taring tajam sudah berana inci dari kulitnya, siapa merasa tidak gentar kilat-kilat tajam pisau sudah siap mengoyak habis badannya, namun semua tidak semestinya merasa takut karena semua rasa takut dan khawatir hanya ada di dalam benak kita yang dalam.

Kyai Wahab sudah duduk di kursi tamu rumah. Peci putihnya terpasang rapi menutup uban-uban di kepalanya. Uban-uban itu seolah bersembunyi pada padanan warna yang sama dengan pecinya. Sarungnya yang merah marun membuat kharismanya terlihat sangat kuat. Disebelahnya duduk dengan tenang Bu Nyai Ani. Wajahnya masih tampak kencang dengan tanpa garis kerut sedikitpun meski usia sudah memasuki kepala lima. Beberapa orang bilang Bu Nyai Ani sangat rajin berpuasa Ayyamul Baid (puasa bulan purnama). Senyum beliau sangat segar mengembang beberapa kali menatapku yang duduk di kursi kecil tambahan yang kuambil dari ruang tengah.

Abah jarang menerima tamu di ruang tamu rumah, biasanya tamu-tamu diarahkan ke aula pesantren yang lebih luas kapasitasnya. Abah hanya menerima tamu di rumah, itupun dari kalangan keluarga atau sahabat  lamanya yang datang berkunjung.

Aku yang duduk di sebelah Ibu hanya bisa tersenyum malu dipandang seorang Bu Nyai Ani dari sebuah pesantren besar. Aku bingung diantara dua ekspresi perempuan yang berbeda. Wajah kalem segar Bu Nyai Ani harus berhadapan dengan wajah tegang Ibuku yang terlihat sedang memikirkan sesuatu yang berat. Mungkin Ibu sedang berpikir keras tentang bagaimana harus bersikap dihadapan Bu Nyai Ani dan Kyai Wahab. Sementara Ibu yang terlihat tegang, berseberangan dengan wajah tenang Abah yang masih memiliki senyum dalam kebingungan hatinya. Abah terlihat masih menunduk memandang kepulan asap teh yang panas pada cangkir-cangkir di atas meja.

Abah kembali menawarkan teh yang masih mengepul itu kepada Kyai Wahab dan Bu Nyai Ani. Tawaran itu disambut dengan senyum dan anggukan. Kemudian keduanya mengangkat cangkir masing-masing dan menyeruputnya pelan. Hangat teh langsung meluncur pada kerongkongan hingga membuat badan hangat di tengah suasana dingin pesantren. Bu Nyai Ani juga tidak ingin ketinggalan mengangkat cangkir teh panasnya dan mengarahkannya ke mulut dan disruputnya teh hangat itu. Aku sesekali memperhatikan Bu Nyai Ani, namun ketika Bu Nyai Ani hendak menatapku, cepat-cepat kutundukan pandanganku ke arah teh yang ada di tanganku.

Setelah puas menyeruput teh hangatnya, Kyai Wahab meletakan kembali cangkir tehnya di atas meja, beliau tampak mengatur posisi duduknya untuk bersiap menyampaikan sesuatu. Disaat itu, Abah mengimbang dengan mempersiapkan pula posisi duduknya agak menyerong menghadap Kyai Wahab. Kedua pandangan itu bertemu pada satu titik sejajar yang sama, keduanya sama-sama menatap tajam.

“Kyai Hamdani!” buka Kyai Wahab menyebut nama Abah dengan jelas tanda dimulainya pembicaraan seriau. Abah mengangguk, memberi tanda kepada Kyai Wahab untuk melanjutkan. Kyai Wahab kemudian melanjutkan arah pembicaraannya.

“Anakku, Alwi sudah memasuki usia dewasa, putrimu Lana juga sudah memasuki usia yang matang. Bagaimana jika kita berbesan?” Kyai Wahab menjeleskan dengan tanpa basa-basi sedikitpun. Aku yang mendengar sangat jelas namaku disebut tak bisa menutupi wajahku yang seketika memerah dan tak bisa terkontrol. Aku menunduk malu tak ingin orang-orang yang ada di dekatku melihat wajahku.

Bu Nyai Ani semakin terlihat sumringah setelah Kyai Wahab menyampaikan maksud tujuannya datang ke rumah. Sementara itu ekspresi Ibu semakin tegang mendengar perkataan Kyai Wahab. Aku tak habis pikir melihat ekspresi yang sangat berkebalikan diantara kedua perempuan yang ada di dekatku itu. Sementara itu, Abah dan Kyai Wahab sama-sama bersikap tenang, keduanya tidak menunjukan ekspresi yang berbeda dari sebelumnya. Para pria memang paling pintar menyembunyikan sebuah perasaan dalam dirinya hingga tidak terlihat sama sekali.

Abah tampak melempar senyum kepada Kyai Wahab dan Bu Nyai Ani. Dibaginya senyum yang sangat khas dengan pipi yang berlesung dangkal dan gigi yang selalu terlihat putih. Aku sempat keheranan, bagaimana Abah bisa tersenyum dalam keadaan genting seperti itu. Aku sudah faham jawaban yang akan Abah berikan kepada Kyai Wahab, namun aku belum tahu bahasa seperti apa yang akan disampaikan. Abah dengan tenang mengangkat sandarannya dan menegakkan badannya.

“Kyai, mohon maaf sekali. Bukan bermaksud menolak tawaran, Kyai. Saya sudah punya hajat, Kyai.” Papar Abah dengan tenang. Abah menarik nafas dalam sebelum melanjutkan.

“saya berhajat untuk menikahkan anak terakhir saya ini hanya dengan santri biasa, bukan Gus.” lanjut Abah menyempurnakan kalimatnya kepada Kyai Wahab dan Bu Nyai Ani.

Mendengar jawaban itu Kyai Wahab hanya mengangguk-angguk perlahan, Pandanganya redup namun masih terlihat tenang dengan berusaha memperbaiki surbannya. Bu Nyai Ani yang ada disampingnya terlihat kacau, ekspresinya terlihat berubah menjadi tak sedikitpun berwarna, kedua matanya terlihat memerah dengan pandangan kosong mengarah ke corak-corak meja di ruang tamu.

“Kok begitu, Kyai? Tanya Bu Nyai Ani mendadak, yang sudah menerima penolakan.

“Ada banyak alasan, salah satunya adalah pondok ini perlu orang berjuang dari bawah” Abah menjawab dengan yakin sembari menatap Kyai Wahab yang mengipaskan serbannya ke wajahnya, entah panas aura panas dari mana hingga suhu di Annihayah mendadak sangat panas.

“Apa putra kami kurang mumpuni, Kyai?” Bu Nyai Ani kembali bertanya terlihat ketidakterimaan atas penolakan yang ada.

“Tidak, tidak demikian, Bu Nyai. Sungguh, bukan karena itu.” Jawab Abah dengan sedikit memohon. Abah merendahkan dirinya untuk bisa membuat tamunya tidak merasakan penolakan. Kyai Wahab dengan tenang kemudian menenangkan istrinya yang terlihat sedikit kecewa.

Raut muka Bu Nyai Ani seolah tertukar dengan Ibu yang kali ini terlihat lebih tenang. Kekhawatiran yang dialaminya seolah sudah menghilang berganti dengan ketenangan yang damai. Aku yang ada diantara mereka hanya bisa menunduk dan tidak bisa menunjukan bagaimana seharusnya aku bersikap diantara hati-hati yang berkecamuk.

“Kyai, kami menghargai segala jawaban dari Kyai dan keluarga, namun kami tetap berharap bisa berbesan dengan Kyai, meski Putra kami harus tinggal di Annihayah.” Ucap Kyai Wahab kembali menenangkan istrinya dan juga suasana seisi ruangan. Penjelasan itu menenangkan Bu Nyai Ani, tetapi malah membuat Abah dan Ibu merasa masih ada penawaran.

Aku tidak tau apakah keputusan Abah bisa dirubah dengan mempertimbangkan tawaran dari Kyai Wahab, atau Abah tetap dengan pendiriiannya? Sebenarnya aku mendukung sepenuhnya apa yang dikehendaki oleh Abah kepadaku, namun mendengar tawaran dari Kyai Wahab seolah ada salah satu pintu yang terbuka dari beberapa pintu yang samar-samar menutup. Aku hanya bisa diam dan berharap yang terbaik.

***

Kami bertiga berdiri di depan rumah untuk mengantar Kyai Wahab dan Bu Nyai Ani masuk kembali ke mobilnya. Kyai Wahab masih dengan sikap tenangnya membuka pintu mobil, sedangkan Bu Nyai Ani dengan ekspresi datar masuk dengan segera ke dalam mobil. Di kursi kemudi seorang santri menekan klakson pendek sebagai tanda hendak bergegas. Abah dan Ibu menganggukan kepala kepada Kyai Wahab yang terlihat sudah duduk dengan kaca jendela yang terbuka, kemudian mobil dengan perlahan melaju sembari Kyai Wahab mengucapkan salamnya.

“Monggo Kyai, Assalamualaikum” Ucap Kyai Wahab dari dalam mobil.

Waalaikumsalam” Jawab kami dengan kompak kepada Kyai Wahab dan Bu Nyai Ani. Mobil berjalan menjauh meninggalkan pesantren dan menghilang di tikungan yang menurun. Abah kemudian berbalik dan merangkulkan tangan kanannya ke pundakku dan mengajakku berjalan beriringan masuk ke rumah. Kurasakan badan Abah terasa panas, mungkin pergolakan perasaan barusan telah menimbulkan panas di badan abah hingga demikian.

“Maaf ya nduk, Abah harus bersikap demikian” ucap Abah dengan lirih kepadaku sembari masih berjalan.

“Iya Bah, Lana ikut Abah” jawabku kepada Abah. Pada saat demikian Aku merasa lebih dekat dengan Abah. Pelukan ini seperti beberapa tahun dulu waktu aku tidak diterima di perguruan tinggi negeri.

Ibu berjalan meninggalkan kami berdua yang memang berjalan dengan perlahan sebelum akhirnya sampai di dalam ruang tamu. Ibu sudah lebih dulu masuk ke rumah, sepertinya Ibu langsung masuk ke kamar, entah bagaimana perasaan ibu saat ini, Ibu lebih perasa dibandingkan aku.  Jika Abah saja yang sangat tenang, badannya terasa panas setelah melalui hal berat, bagaimana dengan Ibu yang perasa terhadap sesuatu?

Abah melepaskan tangannya dari pundakku, Abah duduk di kursi tamu yang semula dipakai menjamu Kyai Wahab. Aku membereskan beberapa cangkir bekas teh yang ada di meja. Abah tampak termenung, kedua tangannya terkulai di atas sofa, matanya dipejamkan, entah Abah merasa mengantuk atau hanya memejamkan mata. Aku masih membereskan beberapa cangkir dan mengumpulkannya menjadi satu di atas nampan. Ada sedikit pikiran, mungkin ini saat yang tepat untukku bisa berbincang dengan Abah perihal jodoh untukku. Kutata cangkir dengan segera dan melesat membawanya ke dapur.

Setelah meletakkan cangkir di tempat cuci, aku langsung beranjak kembali menuju rung tamu untuk berbincang dengan Abah. Abah rupanya masih ada di ruang tamu dengan mata masih terpejam. Aku duduk di sebelah Abah dan kemudian hening. Aku bingung apakah harus kubicarakan sekarang atau menunggu Abah mengajakku bicara. Sementara Abah masih terpejam, aku tidak bisa berbuat banyak.

Akupun ikut menyandarkan badanku ke sofa karena kebingunganku dalam bersikap. Aku terdiam dan ikut memejamkan mata. Badanku yang lelah setelah semalam tidak bisa tidur dengan baik dan benar, memejamkan mata ternyata memberikan ketenangan. Gelap yang tidak melenyapkan, sunyi yang tidak melenakan, serta damai yang tidak membutakan. Rupanya Abah memejamkan mata sebagai refleksi atas apa yang telah dilakukan. Kita akan bisa merasakan ketengan lebih, dalam ketenangan itu kita akan bisa berpikir jernih untuk merenungi apa saja yang telah kita perbuat.

Kami berdua berada diantara kesadaran membuka mata dan ketenangan tidur yang dalam. Kami merasakan ketenangan tidur dan mengalami kesadaran yang utuh. Aku benar-benar hanyut dalam dalam pejamana mataku hingga hampir saja aku terbawa tidur, namun aku segera membuka mataku pelan.

“Kyai Wahab itu temen senampan Abah di Magelang dulu, pasti beliau mengerti dengan keputusan Abah” tiba-tiba saja kalimat itu keluar dari mulut Abah dengan kedua mata masih terpejam. Aku hanya mengangguk pelan sembari menjawab “Nggih” dengan lirih. Abah membuka matanya dan kemudian menatapku. Tak lama Abah melanjutkan kalimatnya.

“Abah tidak bermaksud membeda-bedakanmu dengan kakak-kakakmu, Abah hanya merasa ini perlu” Abah memandang dalam-dalam mataku. Aku hanya bisa mengangguk kembali mendengar pernyataan Abah. Semua pertanyaan yang sangat ingin kutanyakan kepada Abah hilang begitu saja menjadi sebuah layar putih tanpa tulisan sama sekali, hanya cahaya yang kadang menyilaukan dan kadang meredup.

“Lana tidak merasa dirugikan, Bah. Lana selalu ikut Abah” ucapku lirih dengan agak canggung kepada Abah. Tidak biasanya aku ber-melow-melow dengan Abah. Biasanya urusan melow hanya dengan Ibu atau dengan Mbak Puput dan Mbak Linda. Semua yang terjadi tanpa disadari membuatku lebih dekat dengan Abah. Sunggu diluar dugaanku, kini aku tidak terlalu memikirkan tentang bagaimanan Abah akan menemukan dan memilihkan jodoh untukku, Aku hanya akan bersikap biasa. Menunggu justru malah membuatku semakin khawatir.

Assalamualaikum” suara itu begitu saja muncul dari pintu depan rumah yang tidak jauh dari Aku dan Abah duduk. Dari kaca jendela yang kecil-kecil terlihat seorang santri bersarung menunggu di luar. Abah menjawab salam sembari bangkit untuk melihat.

“Oh, Hisayam, sebentar, Kang.” Ucap Abah dengan sedikit berteriak. Abah menyebut sebuah nama yang sebelumnya pernah kudengar. Hisyam, seorang lurah pesantren yang dibicarakan oleh Mbak Puput dan Mbak Linda. Abah bangkit dan berjalan keluar rumah. Hisyam mencium tangan Abah ketika bersalaman, kemudian keduanya terlihat membicarakan sesuatu. Aku yang penasaran hanya melihat dari balik kaca-kaca kecil pada jendela. Ku amati Hisyam dari pakaian dan sikapnya di depan Abah, ternyata memang persis dengan apa yang dibicarakan oleh Mbak Puput. Seorang lurah pesantren yang punya Kharisma.

Ah, rupanya virus gosip dari Mbak Puput dan Mbak Linda sudah mengkontaminasiku, aku jadi agak penasaran dengan Kang Lurah santri itu. Kemudian muncul pikiran-pikiran bayangan tentang apa yang sedang mereka bicarakan, akupun mulai membayangkan hal-hal lain yang mengarah ke perjodohan. Benar saja, usiaku memang sudah masuk usia tidak tenang. Dengan sekuat tenaga kucoba palingkan pandangaku dan beranjak meninggalkan jendela itu. Tanpa disadari, ketika aku berbalik, dibelakangku sudah ada Mbak Puput dan Mbak Linda yang rupanya sudah sedari tadi mengamatiku yang sedang mengamati Abah dan Hisyam.

Mereka berdua tertawa melihat wajahku malu, keduanya tertawa dengan puas. Tawa mereka melengking menghiasai sore yang beranjak menguning. Sore itu, di Annihayah yang dingin, sebuah perasaan bisa saja memanas. Sementara sebuah panas yang membakar, bisa saja mendingin dengan tawa dan celotehnya. Sore itu di Annihayah, perasaan kembali terombang-ambing.

Bersambung…..

baca part 2

Irhas B Author

Penulis kadang-kadang di alasantri.id. Sering berpikir sebelum menulis, tapi lebih sering memikirkan apa yang ditulisnya. Ucapannya tidak lebih baik dari tulisannya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *